
Seorang pria berpakaian hitam mengawasi Bella sejak masuk ke dalam Mall besar itu, mereka tengah melakukan pencarian dan telah berhasil melacak keberadaan Bella dan William.
Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang dan matanya tetap fokus menatap Bella target yang akan mereka bawa ke hadapan bos besar mereka sang leader Mafia tuan Besara.
“Tuan kami sudah menemukan nona Bella,” ucap pria itu.
“Baik, segera bawa dia ke Jerman, habisi pria yang bersama dengannya itu siapa pun itu tidak boleh merusak rencanaku, bunuh pria itu,” ucap tuan Besara memberi perintah dari Jerman.
“baik tuan,” jawabnya mengakhiri panggilannya.
Pria berpakaian hitam itu menatap Bella yang tengah berbincang dnegan yang lainnya, dia melihat seseorang yang cukup dikenalnya disana, Sean tangan kanan Black rose.
“Kenapa pria gila itu disini, tampaknya dia bersama dengan nona Bella, apa hubungan mereka?” batin suruhan Besara itu.
"Kalau seperti ini akan sangat sulit membawa wanita itu ke Jerman," batinnya.
Pria itu terus mengamati Mereka selama satu jam entah apa yang mereka bicarakan, hingga akhirnya mereka selesai berbincang dan berpisah.
Diandra, Reva dan Sean kembali berbelanja, sedangkan William dan Bella berjalan menuju toko yang menyediakan kebutuhan mereka.
Semua orang yang mengawasi mereka mengikuti William dan Bella.
Kedua orang itu berjalan dengan santai sambil bergandengan tangan. William tampak menepuk kepala Bella dengan lembut sambil tersenyum.
"Kamu bahagia?" Tanya William.
Bella mengangguk," sangat, akhirnya aku tenang setelah meminta maaf pada Diandra, ternyata dia sangat baik dan ramah," jawab Bella dengan senyam bahagia, membuat William ikut senang dengan kekasihnya itu.
Mereka sudah bertukar alamat dan nomor ponsel tentu Diandra menggunakan nomor lamanya meski ponselnya belum dibeli.
...****************...
Di dalam Mall,
Diandra, Sean dan Reva melanjutkan belanja mereka, ibu hamil itu tampak sangat berseri seri membuat Reva dan Sean saling menatap karena sejak bertemu dengan Bella dia terus terusan tersenyum bahagia.
“Apa kakak sebahagia itu?” tanya Reva pada Diandra yang tengah memilih ponsel yang ingin dia gunakan.
“He.... em... aku bahagia, sangat bahagia ehehehe..” kekeh Diandra.
__ADS_1
“Dasar Bumil,” gumam Sean.
“Dia persis seperti Niki saat mengandung Zean, selalu tertawa dan tersenyum tiba tiba, sebentar lagi menangis sebentar tertidur banyak sekali dramanya,” bisiknya pada Reva.
“Hihihih kakak benar, persis seperti kak Niki, tapi kenapa anak kalian jadi anak super dingin hahahhaha, dia lebih dingin dari gunung everest kak hahah,” kekeh Reva yang membuat Sean tersenyum.
“Heiii sedang membicarakan aku ya? “ ucap Diandra yang mendengar percakapan mereka.
“Nggak tuh hahaha,” jawab mereka berdua sambil tertawa.
Diandra hanya mendengus sambil menatap semua ponsel yang berjejeran dio depannya.
“Bu, saya mau yang ini,” ucap Diandra pada pelayan toko yang sedari tadi berdiri sambil menatap mereka dengan tatapan sinis seolah merendahkan Diandra yang penampilannya sederhana dan polos tanpa make up itu.
“Itu ponsel paling mahal di sini mbak, harganya 40 jutaan, itu keluaran terbaru dari perusahaan Moto.Tech apa mbak yakin memilih yang itu, mahal loh mbak,” ucap si pelayan toko.
“Hmmm? Iya saya mau yang ini bu, cantik kayak punya suami saya,” ucap Diandra sambil menatap ponsel itu dengan senyuman sumringah.
“Ini mahal loh mbak,” ucap si pelayan.
“Hmmm boleh saya lihat dulu mbak?” tanya Dian.
Diandra memasang wajah heran, dia menaikkan bibirnya ke atas dan menatap pelayan itu dengan tatapan aneh.
“Situ sakit? Ck.. ck... ck.... kalau saya Cuma mau lihat emang gak boleh ya mbak? Ihhh aneh, toko apaan sih ini? Nyesel aku kesini, ku bilangin Mama Park tau rasa kau,” ketus Diandra dengan wajah kesal.
“Ada apa sayang?” tiba tiba suara David terdengar di dalam toko itu.
Semua orang dalam toko itu terkejut melihat kedatangan seorang pria tampan yang tak lain adalah David yang langsung mengejar istrinya ke Mall setelah menyelesaikan rapat mereka.
“Ehhh kak, udah siap rapatnya?” tanya Diandra.
Pelayan toko itu cukup terkejut saat melihat David dan Joy dibelakangnya, apalagi melihat wajah Joy Yang sudah wara wiri dalam siaran berita.
“Bu..bukannya dia asisten tuan Nicholas yang tersohor itu? Wah... selamat datang nona, sungguh sebuah kebanggaan melihat nona disini," ucap pelayan toko yang ternyata sebenarnya pemilik toko itu.
Joy yang sudah menyaksikan kesombongan wanita itu diam saja, dia berjalan ke dekat Diandra lalu membungkuk hormat sebagaimana biasa dia lakukan pada David jika di perusahaan.
“Nyonya, sebaiknya kita keluar dari toko ini, saya sudah menyiapkan ponsel baru untuk Nyonya tak perlu beli barang di tempat tak berkelas seperti ini,” ucap Joy yang dengan sengaja membalas pelayan itu dengan kata katanya.
__ADS_1
“Nyo...nyonya?” ucap wanita itu terbelalak kaget, bahkan karyawannya juga sampai terkejut.
“Ck... Joy, tapi aku mau yang itu, yang warna merah, aku mau yang itu yang warna merah,” ucap Dian sambil menatap David dan Joy secara bergantian.
“Haiihhh..... sayang ponsel kamu juga warna merah kok, udah aku pilihin tadi, udah ayok kita cari makan dulu kamu pasti lapar,” ucap David.
“benarkah? Baiklah terimakasih ummah,” ucap Diandra sambil mengecup pipi suaminya di depan umum membuat David tersenyum dengan wajah merona.
“Wahh kak Diandra sangat agresif hahahaha,” kekeh Reva sambil berbisik pada Sean yang juga menyaksikan itu.
“Haishhh jadi kangen Niki,” ucap Sean sambil mengingat istrinya yang cantik jelita di Australia.
“Heh bucin,” ledek Reva.
Mereka pun keluar dari toko itu meninggalkan pemilik toko yang hampir gagal jantung karena akhirnya dia paham kedudukan wanita yang diejeknya tadi.
Diandra berbalik dan,” Wleeekkkkk.... cihh sombong,” ejek Diandra sambil menjulurkan lidahnya.
“Hahhh... ahhhh tiiidaakkkk...” seketika pemilik toko itu terjatuh ke lantai karena tubuhnya lemas setelah sadar siapa yang diejeknya tadi, orang penting yang melebihi jabatan Joy.
Mereka keluar dari toko itu, “kita pulang ya kak, aku ngantuk... hoaaaammmm,” ucap Diandra sambil menguap dan memeluk lengan David dengan kepalanya bersandar di lengan itu .
“Ngantuk? Tapi kamu belum makan,” ucap David.
“tenang saja dia sudah makan banyak tadi di Kafe, dia mungkin lelah sebaiknya kita pulang, dan lagi ada yang ingin kusampaikan pada kalian,” ucap Sean dengan nada serius yang langsung membuat David paham.
“Baiklah kita pulang,” ucapnya sambil merangkul istrinya yang sudah mengantuk.
Merkea berjalan keluar dari Mall besar itu tanpa membawa apa apa, tiba tiba seseorang berteriak memanggil Diandra.
“Diandraaaa...... toooolooongg..... Seaaannn.... tolong Bellaaaa...” pekik seseorang yang berjalan ke arah mereka dengan terseok seok, tubuhnya penuh luka lebam dan berdarah.
“William!!” ucap Reva, Dian dan Sean yang terkejut melihat William begitu berantakan.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen