
Joel duduk di sudut ruangan seperti anak hilang sambil menekuk wajahnya menatap Yang lainnya asik sendiri tanpa memperdulikan dirinya.
Joel memasang wajah kesal, bus abisnya dia dihukum karena memeluk pacarnya sendiri dengan dalih kalau Diandra ngidam pengen lihat Joel duduk di sudut ruangan berakting seperti seorang pria tersakiti, ada ada aja.
" cihh... mau sampai kapan aku disini woi, mana lapar lagi huaaaaa.... Diandra ngidamnya yang lain aja kenapa? masa iya kakak duduk disini kayak anak buangan, " gerutu Joel yang hanya bisa pasrah.
Diandra yang sedang menyuapi Ara menatap tajam ke arah Joel dan seketika itu Joel bungkam tapi tidak marah karena dia tau Diandra seperti apa.
Lagi pula hanya dengan melihat apa yang mereka lakukan saat ini sudah membuat hati Joel dan yang lainnya senang karena Ara sangat memperhatikan kesehatan Diandra meski dia sedang hamil.
Si Edward kecil duduk di atas pangkuan Ara sambil disuapi oleh Otniel, Joy dan David tampak mulai sibuk dengan urusan perusahaan begitupun dengan Vasko yang sedang memantau pembangunan Bar barunya.
" Biar aku makan sendiri saja Dian," ucap Ara yang merasa tak enak melihat keadaan Diandra tapi harus menyuapi dan mengurusnya juga.
"Nggak boleh!" ucap Diandra dan Edward bersama sama yang malah membuat Ara terbelalak, mereka berdua sangat kompak.
"Hahahahha...." Diandra dan Edward tertawa bersama karena bisa bisa nya mereka berdua serentak
" Udah terima aja Ara, kalau kau ingin telingamu sehat , jantungmu sehat dan pikiran mu sehat sebelum nanti mendengar tangisan ibu gorilla ini, bisa habis diamuk kita semua," bisik Otniel.
Diandra menekuk wajahnya sambil menatap Otniel," Ck... dasar dokter gadungan, matanya udah rabun ya, gak bisa bedain mana orang mana Gorilla dasar dokter somplak!" ketus Diandra.
" hahahha... kalian lucu sekali, apa kalian setiap hari seperti ini?" celetuk Ara sambil tertawa.
Mendengar Ara tertawa lepas membuat mereka semua menatap gadis itu, benar benar sebuah perubahan besar. Bahkan Joel sampai terbelalak mendengar Ara tertawa sepuas itu, sepertinya apa yang dikatakan Otniel tidak akan terjadi untuk kasus Ara.
" Eh .. kenapa kalian diam?" ucap gadis itu sambil menatap mereka semua yang terbelalak menatap dirinya. Karena yang lain diam sambil menatap dirinya, Ara jadi salah tingkah bahkan wajahnya sampai merah merona.
" Kau imut sekali hahahahah....." Diandra tertawa sambil memeluk Ara.
Yang lain juga ikut tertawa bersama mereka. Sungguh hati Ara benar benar mulai pulih karena dukungan dari orang orang baik yabg baru dia kenal di muka bumi ini.
"Ternyata orang orang baik itu ada ya, mereka menerimaku apa adanya, mereka membuatku merasa disayangi, seandainya sejak dulu aku merasa seperti ini, ehh... gak usap disesali Ra, sekarang kamu udah punya keluarga baru, mereka benar benar baik, kamu harus sembuh demi mereka," batin Ara sambil menatap mereka semua di dalam ruangan itu.
Sementara itu di rumah keluarga Joy Pak Putra tampak berpikir keras untuk menyelamatkan nama putrinya yang hamil tanpa tau siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.
__ADS_1
Pak Putra tampak berjalan kesana kemari, meski dia sudah mengetahui kalau Amel hamil di luar nikah dia masih tidak tega untuk menghukum putri kesayangannya itu.
" Pa bisa duduk tidak? Mama capek sendiri liat papa putar putar kayak orang gila!" ketus Cindy yang sedang membersihkan rumah.
" Ck... diamlah, aku sedang mencari cara untuk menyelamatkan nama Amel, aku tak bisa biarkan putriku seperti itu dan menanggung semuanya sendirian, sementara Joy bahagia disana!" ucap Pak putra dengan nada sarkas.
Brakkk....
Mendengar itu Cindy marah dan mencampakkan sapu yang ada ditangannya, lagi lagi Pak Putra menjelekkan Joy padahal Joy tidak melakukan apa pun yang salah terhadap kedua orang tuanya, malah dia kurang kasih sayang selama ini.
" Papa pake otak dong Pa!!" pekik Cindy dengan nada marah, dia benar benar sudah tak tahan dengan sikap suaminya yang keras kepala itu.
Pak Putra menatap tajam ke arah Cindy karena berani membentak nya.
" Mama berani sama Papa hah?berani sekali kau membentak ku Cindy!!" teriak Pak Putra dengan wajah kesal dan marah.
Cindy mengepal kedua tangannya dia tida menyukai suaminya yang sekarang benar benar berbeda dengan saat mereka bertemu dulu.
" Papa keterlaluan, Mama kecewa sama Papa, Amel begitu karena salah Papa, Amel begitu karena terlalu dimanjakan!" pekik Cindy, dia menangis menatap suaminya, kecewa berat Cindy menghadapi perangai suaminya ini.
Plaaakk
Satu tamparan keras mendarat di pipi Cindy sontak membuat Cindy dan Pak Putra sama sama terkejut dengan apa yang baru saja Pak Putra sendiri lakukan.
Air mata kekecewaan lolos begitu saja dari mata Cindy, ini pertama kalinya Putra memukul Istrinya karena adu mulut, keributan rumah tangga yang berujung sakit hati bagi Cindy.
" Aku... pergi..." Cindy menangis, dia tak lagi menatap suaminya, dia diam, diam untuk seterusnya, tak kuat hatinya menghadapi perangai suaminya yang semakin lama semakin buruk.
Hatinya hancur berkeping-keping akibat perlakuan Pak Putra.
"Ma, Sayang...ma ..maaf," Pak Putra sendiri kaget dengan dirinya, bagaimana bisa dia memukul Istrinya yang jelas jelas begitu sabar menghadapi kelakuannya selama ini.
Cindy tak lagi mendengar, dia diam membisu, masuk ke kamarnya dan mengemasi barang-barang nya, kecewa sungguh dia kecewa.
Dia mengemas pakaiannya dan barang barang penting lainnya, hatinya terlanjur sakit. Dia keluar membawa barang barang nya dengan diam.
__ADS_1
ditatapnya kamar putrinya Amel yang sedang istirahat," Papamu harus belajar sesuatu nak," ucapnya pelan.
Cindy berjalan dengan tegas, dia menatap suaminya yang masih mematung di ruang depan dengan menatap kedua tangannya.
Dia bukanya cincin pernikahan yang tersemat di jarinya selama hampir dua puluh lima tahun.
Dengan tegas dia berjalan dan menghampiri suaminya kemudian meletakkan cincin itu di tangan suaminya tanpa berkata apa pun, tanpa melanjutkan kata katanya.
" Sayang.... cincin mu jangan buka, sayang maafkan aku, aku khilaf!" ucap Pak Putra menahan tangan Cindy.
" Maaf tapi kita bukan siapa siapa lagi, aku akan membawa anakku seminggu lagi, kau siapkan saja surat perceraian, aku akan mencari tempat untuk kami, " ucap Cindy dengan tegas.
Hancur sudah hati Putra saat mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.
Cindy pergi tanpa mau mendengarkan Pak Putra, dia ingin melihat sejauh mana Pak Putra bertindak.
Pak Putra benar benar pusing saat ini, Cindy marah dan tak mau mendengarkan dirinya.
" Sialan, ini semua karena anak sialan itu!!" pekik Pak Putra yang malah menyalahkan Joy lagi atas apa yang terjadi atas dirinya.
" Aku harus menghajar anak sialan tak tau diri itu, beraninya dia menikah dengan orang yang seharusnya menikah dengan Amel!" pekik Pak Putra.
" Ahhh... ya Amel yang harus menikah dengan anaknya Justin aku akan meminta mereka menikahkan Amel pada Pria itu, awas kau Joy, aku akan membuat hidup mu menderita karena kau berani bahagia di atas penderitaan kakakmu!" ucap Pak Putra.
" Kau masih belum berubah Putra, lihat apa yang akan kulakukan jika kau sampai menyentuhnya putriku," batin Cindy yang masih berdiri di balik dinding rumah.
" Aku harus menghubungi Justin, aku harus menemui Joy, dia... dia harus berpisah dari Vasko!" ucapnya lagi.
.
.
.
like, vote dan komen 😉😉
__ADS_1