
Di rumah Besar Park,
Diandra dan yang lainnya sedang duduk di taman belakang rumah sambil menikmati rujak buatan Vasko yang rasanya sama enaknya dengan buatan David.
Dengan senang hati David menyuapi istrinya yang sedang mengidam itu meski bokongnya masih nyut-nyutan karena terjun bebas dari atas pohon.
"Sayang ini cobain jambunya, enak banget!" ucap David dengan mata berbinar-binar, mulutnya sendiri sudah penuh dengan buah-buahan yang mereka potongi.
"Hmmm nyam.. nyam.... nyam.. ini enak sekali!" seru David sambil terus memasukkan buah ke mulutnya dan ke mulut Diandra.
Mereka semua menatap calon Papa itu dengan mata terbelalak, tak biasanya David makan sampai sebanyak itu, ada apa gerangan dengan David ?
"Wahh... apa kali ini yang mengidam bukan Diandra tapi David? kau benar benar menakjubkan David, bisa bisanya kau memakan semua buah itu!!!" pekik Joel sambil menunjuk baskom potongan buah yang tadinya terisi penuh sekarang hanya tinggal beberapa biji di dalamnya.
"Hehehe... Ekhmmm.. ini enak hahahah, aku tiba tiba berselera, ini benar benar enak, hayo dimakan lagi, sambelnya enak tenan!" seru David sambil tersenyum dengan mulut penuh.
Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakukan calon bapak itu, benar benar sesuatu yang di luar dugaan.
" Mereka berdua manis sekali ya," gumam Joy sambil tersenyum menatap Dian dan David yang saling menyuapi.
"Kita juga bisa seperti itu sayang," bisik Vasko.
Joy membalas dengan senyuman, ada rasa sedih di hatinya perihal hubungan mereka berdua yang tidak direstui oleh Papa Joy.
"Apa kau masih memikirkan yang tadi? hmm?" tanya Vasko yang sedang mengulek Cabai dengan ulekan manual.
Joy mengangguk sedih, dia sangat sedih dengan kata kata papanya tadi, dia juga takut Vasko kecewa dan malah meninggalkan dirinya.
Vasko menghentikan aktivitasnya sebentar, tangannya mengusap pucuk kepala kekasihnya membuat Joy mengalihkan pandangannya pada Vasko.
"Semua akan baik-baik saja sayang, kita hadapi bersama, mau seperti apa pun keadaannya, aku hanya akan memilihmu, jangan takut, andalkan aku untuk sisanya," ucap Vasko sambil tersenyum pada Joy.
Gadis itu benar-benar terharu, kekasihnya sangat perhatian, Vasko benar benar memahami perasaan Joy.
"Apa pun yang terjadi aku tak akan melepas mu kak, aku mencintaimu," ucap Joy dengan mata berkaca-kaca.
"Aku juga, sekarang tenang ya," ucap Vasko yang dianggukkan oleh Joy.
"Gadis baik," ucap Pria itu.
Sahabat sahabat mereka juga mendengarkan percakapan sepasang kekasih itu. Mereka juga turut khawatir namun hal seperti ini memang harus terjadi untuk membuktikan kesetiaan mereka.
Dan sekarang keduanya sedang menghadapi ujian dan tantangan besar sebelum nanti berakhir di pelaminan mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan dan keluarga mereka.
Joy menatap Vasko, dia tau kalau kekasihnya juga dalam kesedihan saat ini, dia tau kalau Vasko juga merasakan hal yang sama dengan dirinya.
Seperti apa pun Vasko menyembunyikan perasaannya, dia adalah Vasko yang juga seorang manusia yang bisa takut dan khawatir.
__ADS_1
" Kak, kakak juga jangan khawatir kita hadapi bersama iya kan?" ucap Gadis itu.
Vasko terkejut, bagaimana kekasihnya bisa atau kalau dirinya juga sedang khawatir. Seketika dia membalas Joy dengan senyuman di wajahnya sambil mengangguk.
Mereka menikmati acara makan rujak mereka dengan canda tawa, belum lagi pertanyaan pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Diandra dan Edward menambah kegirangan di antara mereka.
Tanpa mereka sadari, Sir Petra dan Sir Justin sudah menatap mereka di dekat pintu belakang menuju taman sejak tadi.
Lebih tepatnya mereka berdua menatap Vasko dan Joy yang tampak saling menguat. Mereka benar benar pasangan yang serasi.
"Pasti si Anak Bawang menolak Vasko, aku sudah hapal dengan mulut pedasnya si putra itu," ucap Sir Justin.
"Ya kau benar, hanya mendengar keluhannya tadi saja aku sudah tau kalau dia tidak menyukai Vasko, ck.... ck... ck... dia memang sangat sulit," balas Sir Petra.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? haruskah kita katakan siapa Vasko sebenarnya?" tanya Sir Justin.
"Jangan dulu, biarkan kita lihat perjuangan Vasko mendapatkan gadis itu, sebelum itu kita juga perlu mengklarifikasi apakah Joy memang hamil atau tidak, " ucap Sir Petra.
"Ahh benar juga, ck... aku tak yakin Vasko berani menghamili anak orang di luar nikah, dia bukan seperti aku," ucap Sir Justin.
"Prrfffthhh hahhaha... ternyata kau menyadari kalau kau pernah melakukan hal seperti itu ya hahahahha...." Sir Petra mengejek Sir Justin.
"ssssttt nanti didengar Jangan keras keras," bisik Sir Justin.
"Hahahah... baiklah baik," tawa Sir Petra.
"Papa," seru Diandra dengan senyum sumringah menyambut Papanya.
Dengan langkah riang, ibu hamil itu menghampiri Sir Justin sambil membawa rujak yang sudah dia campur.
"Kakek!!" seru Edward yang berlari menghampiri kedua pria tua itu.
"Wahh kalian berdua semangat sekali, " ucap Sir Justin.
"Heheheh... Papa mau? Om Petra Mau?" " tanya Diandra sambil menunjukkan Rujak di piring miliknya.
"Ini enak sekali Lo Kakek," ucap Edward yang juga menawarkan rujak itu pada mereka.
"Hahahahah.... baiklah kita makan bersama, tapi duduk dulu ayo, " ucap Sir Justin.
Mereka kembali duduk ke tempat semula.
Diandra dan Edward kecil langsung menghidangkan rujak buatan mereka pada kedua pria tua itu.
Yang lain sampai terheran heran melihat Diandra dan Edward yang begitu semangat, mereka terlihat seperti pasangan ibu dan anak yang sedang melayani tamu kehormatan untuk makan.
"Wah nak, sepertinya Edward butuh Mama nih?"bisik Sir Petra pada Otniel yang memperhatikan anaknya dengan serius.
__ADS_1
"hmm? belum waktunya Pa, lagian dia punya banyak Mama disini," ucap Otniel dengan santainya.
"Asal kau jangan mengikuti apa yang papa lakukan saja, kau harus menikah, Edward itu butuh seorang ibu," bisik Sir Petra.
"Nanti saja memikirkan itu Pa, yang penting Niel fokus dulu sama pemulihan mental Edward, itu yang terutama buat Niel," jelas pria itu.
"Iya, Papa yakin sama kamu," ucap Sir Petra.
"Ummm Vasko kapan kita melamar Joy? bukannya kalian akan menikah?" tanya Sir Justin.
Vasko, Joy dan yang lainnya saling menatap.
"Pa... Sebenarnya Vasko sudah datang ke rumah Joy," ucap pria itu dengan jujur.
Sir Justin dan Sir Petra masih memasang wajah tenang.
"Tapi sepertinya Vasko harus berjuang lebih banyak untuk mendapatkan Joy Pa, lusa, Vasko ingin bawa papa dan Mama untuk melamar Joy secara resmi, apa pun keputusan Papanya Joy nanti, Vasko akan tetap menikahi Joy," ucap Vasko dengan tegas.
"Apa kau ditolak?" tanya sir Justin.
"Iya Pa, Vasko ditolak, beliau mengatakan kalau Vasko ini pria tanpa masa depan, tapi aku akan buktikan kalau ucapan Papa Joy adalah Salah, " ucap Vasko, tak ada keraguan disana, dia berbicara sambil menggenggam tangan kekasihnya dengan erat.
"Baiklah kita akan melamar Joy lusa, kamu persiapkan saja semuanya," ucap Sir Justin.
"Kami semua akan membantu!" ucap yang lainnya sambil tersenyum.
"Terimakasih,"
"Kita lihat apa kau bisa menaklukkan si anak bawang cerewet itu?" batin sir Justin.
"Siap siap pertempuran batin hahahahah...," Sir Petra tertawa dalam hatinya.
"Papa dan Om Justin benar benar mencurigakan? ck... shhhh aku yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan!" pikir Otniel.
"Daddy kenapa?" bisik Edward.
"Daddy sekarang sedang jadi detektif nak!" balas Otniel.
"Haahh? Daddy mah aneh!" ejek Edward.
.
.
.
like, vote dan komen 😉😉
__ADS_1
maaf author gak banyak up hari ini, lagi kurang sehat .