
Di rumah sakit,
Joel menggendong tubuh Ara dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit, dia sudah menghubungi Otniel dan mereka langsung ditangani oleh petugas medis.
" Ada apa dengannya? bukannya dia gadi supermarket itu?" tanya Otniel.
" Dia ... ahh panjang ceritanya, periksa dulu dia, aku curiga tubuhnya banyak luka, katakan pada kak Aurel untuk membantu," ucap Joel.
" Apa yang lain sudah tau?" tanya Otniel.
" Sudah, Diandra juga sudah tau, mereka akan kesini," ucap Joel.
" Hmmm baiklah, akan kulakukan yang terbaik, tunggulah disini," ucap Otniel sambil masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, dia juga menghubungi Aurel.
Joel duduk di ruang tunggu, dia terus menatap ruangan pemeriksaan dimana Ara diperiksa kondisinya oleh Otniel.
Dia benar ketakutan saat ini, pria itu melipat kedua tangannya, kakinya mengetuk ngetuk lantai, matanya tak pernah lepas dari pintu ruangan itu.
Dia butuh teman temannya pada saat ini.
" Ku harap kau baik baik saja Ara," gumam Joel seraya menggigit ujung jarinya karena terlalu panik.
Drap... drap... drap
langkah kaki seseorang terdengar, dia adalah Aurel yang baru saja datang setelah dihubungi oleh Otniel.
" Hei ada apa? siapa yang sakit?" tanya Aurel pada Joel.
"Kak, pacarku, dia sedang tidak baik baik saja, tolong periksa tubuhnya, kurasa ada hal mencurigakan kalau perlu lakukan Visum padanya," ucap Joel yang langsung berdiri sambil menatap Aurel dengan tatapan khawatir.
Aurel langsung paham dengan maksud Joel, Visum biasanya dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang mengalami Kekerasan seksual atau tidak, pemeriksaan menyeluruh akan dilakukan dalam proses ini.
" Tenang, aku akan membantu, jangan panik, tunggulah disini, kami akan melakukan yang terbaik," ucap Aurel seraya menepuk bahu Joel, di bisa membaca raut ketakutan dan khawatir dalam mata pria itu.
Joel mengangguk dan kembali duduk.
Aurel masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, meskipun dia adalah dokter spesialis jantung, Aurel sama seperti Otniel, dia berbakat dalam berbagai bidang sehingga sering dimintai tolong oleh rekan rekan kerjanya yang lain.
Setelah Aurel masuk beberapa menit kemudian Diandra, David, Edward dan Pasangan mafia tiba di tempat itu.
" Joel!" seru mereka membuat Joel langsung menoleh, saat melihat wajah teman temannya, Joel seolah mendapat kekuatan untuk bangkit kembali.
" Kalian sudah tiba, Dian duduk sini sama Edward," ucap Joel berusaha untuk tersenyum meskipun pikirannya kacau saat ini.
" Ada apa kak?" tanya Diandra khawatir.
" Apa yang terjadi kenapa kau disini? siapa yang sakit?" tanya Vasko yang juga khawatir.
__ADS_1
" Gadis supermarket itu, dia... dia dalam bahaya, aku membawanya kesini tadi, kita tunggu hasil pemeriksaan Otniel dan kak Aurel, nanti akan. ku ceritakan semuanya, aku juga butuh bantuan kalian," ucap Joel sambil menunduk sedih, hanya di depan teman temannya dia bisa seperti itu.
Mereka semua saling menatap, mereka paham dan ikut menunggu.
" uncle jangan sedih, Edward disini kok," celetuk Edward sambil memeluk Joel dari samping.
" Iya nak, Uncle senang ada Edward," ucap Joel seraya mengusap kepala bocah itu.
Beberapa lama mereka menunggu disana, persahabatan mereka memang tak perlu di ragukan lagi, sebab ketika salah satu dari mereka menghadapi masalah maka itu akan menjadi masalah mereka semua.
Selang beberapa menit, Pintu ruang pemeriksaan di buka, Otniel dan Aurel keluar dari ruangan pemeriksaan sedangkan tubuh Ara langsung di bawa ke ruangan pasien oleh perawat yang bertugas.
Ekspresi Aurel dan Otniel tak bisa ditebak, mereka berdua tampak gusar sekaligus shock.
" Ada apa dengannya?" tanya Joel yang langsung berdiri menghampiri mereka.
Otniel berkancah pinggang sedangkan Aurel mengusap kasar wajahnya, tampaknya hasil pemeriksaan Ara tidak meyakinkan.
"Ada apa? kenapa kalian diam? apa yang terjadi pada Ara!!" Joel mulai panik.
" Sebaiknya kita bicara di tempat yang lebih tenang, ikut aku," ajak Otniel mengarahkan mereka semua ke ruang kerjanya.
mereka melangkah ke ruangan kerja Otniel, setibanya disana mereka semua duduk dengan tenang dan mendengarkan.
" Hasil pemeriksaan sementara, Gadis itu adalah korban penganiayaan, ini foto bagian perut, punggung dan kakinya , semuanya bekas luka lama dan baru, bagaiman bisa dia bertahan dengan semua itu?" ucap Otniel sambil memberikan foto hasil pemeriksaan pada Joel.
Joel menerima dan dia menatap foto itu dengan geram. Pria itu mengeraskan rahangnya saat melihat foto foto itu, kecurigaan nya benar.
Yang lain diam saja dan mendengarkan.
" Dia masih murni, tak ada tanda tanda kalau dia mengalami hal itu," ucap Aurel yang menyesuaikan kata katanya karena ada Edward disana.
Joel menghela nafas lega, ternyata Ara masih belum disentuh oleh mereka hanya saja pasti hampir mengalami pelecehan seksual oleh orang orang itu melihat bagaimana bekas luka itu ada di tubuhnya.
" Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya David.
Joel menatap mereka, semua, dari ekpresi pria itu mereka tau pasti ada yang tidak beres.
Joel akhirnya menceritakan semua kejadian yang menimpa Ara pada mereka, dia menjelaskan semuanya dengan sangat detail.
Mendengar penuturan Joel, mereka semua sampai terkejut bukan main dengan kejadian mengerik yang menimpa Ara, betapa teganya mereka melakukan hal sekeji itu pada Ara.
" Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang Joel?" tanya Vasko.
" Aku akan membalas mereka satu persatu, tapi tunggu sampai Ara sehat dulu," ucap Joel.
" Kami akan membantumu," ucap Otniel.
__ADS_1
" Terimakasih, aku tau aku bisa melakukannya karena ada kalian," ucap Joel.
" Kaki akan merawat Ara kak, tenang saja , kami akan membantu sebisa mungkin," ucap Diandra.
Setelah berbicara dengan teman temannya, Joel beranjak menuju ruangan dimana Ara dirawat. dia berjalan dengan pelan dan masuk ke ruangan itu dengan pelan, dia tak ingin mengejutkan gadis itu.
Perlahan Joel masuk dan duduk di samping brankar Ara. Dia menatap gadis yang kini berbaring di atas tempat tidur pasien. Mata Joel menatap wajah kekasihnya dengan berkaca kaca.
" Kau akan sembuh, aku akan menjagamu," ucap Joel sambil mengusap wajah Ara.
Ara mengerjapkan matanya, dia perlahan membuka kedua matanya, dia melihat sosok bayangan pria yang malah membuatnya ketakutan karena berpikir itu adalah salah satu pembully itu.
Joel yang menggenggam tangannya sontak terkejut karena merasakan tubuh Ara kembali gemetaran.
" Ara," panggil Joel dengan lembut, saat dia mengatakan hal itu Ara langsung sadar kalau yang duduk di dekatnya adalah Joel, seketika air matanya mengalir sambil menatap pria itu.
" Hei jangan menangis, aku disini, tenang ya," ucap Joel sambil mengusap air mata Ara.
" Kupikir kau juga pergi meninggalkanku, hiks hiks hiks...." Ara menangis, terdengar sangat menyayat hati.
" Aku selalu disini, tenang Ara, aku ada disini ," ucap Joel.
" Maaf merepotkan mu," ucap Ara pelan.
Joel menggelengkan kepalanya," Kau tidak merepotkan ku, sudah kubilang kalau aku akan bersamamu bukan," ucap Joel.
" Terimakasih banyak, " ucap Ara sambil menatap wajah pria itu,bisa dia rasakan kalau Joel begitu perhatian dan mengasihinya, tak pernah dia merasakan kasih sayang selembut ini.
"Bagaimana perasaan mu?" tanya Joel seraya mengelus tangan Ara agar gadis itu tenang.
" Aku baik, kenapa aku disini dan..." Ara menyentuh kepalanya karena terasa dingin.
" Aku... rambut...
"Tak apa, kau di rumah sakit, aku membawamu kesini, supaya kau sehat, kau terlalu kurus sih, makanya makan yang banyak," ucap Joel sambil tersenyum.
Dia berdiri dan mengambil penutup kepala untuk Ara dan memasangnya di kepala gadis itu.
" Ini pakai ya, nanti dingin, itu seperti lampu neon heheh..." ucap Joel sambil mencolek hidung Ara.
Wajah Ara merona, karena Joel benar benar menghiburnya bahkan pria itu tak menanyakan apa pun tentang rambut gadis itu. Berada pada posisi seperti itu membuat jantung Ara berdegup kencang untuk pertama kalinya dia rasakan saat melihat lawan jenisnya.
" Hei kau merona, kau malu ya hahahah... imut sekali hahahah," Joel menertawai Ara membuat gadis itu benar benar malu.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 😊😉