
“Daviiidd !!”Pekik Joel dan vasko yang baru sampai di aula karena mengkhawatirkan David namun nyatanya mereka terlambat dan anak buah mereka lengah.
Gama langsung mengamankan Luna, karena kekacauan tiba tiba saja terjadi, jika dia lengah, istrinya juga bisa jadi korban.
“Arhhkkkk... uhukkk.... beraninya kauuuu....” perut David dihujam belati tajam hingga dua kali, semua orang panik, David mengeluarkan darah dari mulutnya.
“Hahahah... mati kau bangsat...” bisik tuan Brandon sambil tertawa seraya memelototkan kedua bola matanya .
David menekan perutnya yang masih tertancap belati tajam.
Dia mengeraskan rahangnya, darah mencuat keluar dari perutnya, dua luka tusuk membuatnya kehilangan banyak darah namun seolah tak berarti apa apa David mencengkram rahang tuan Brandon dengan kuat dengan tangannya yang berlumuran darahnya sendiri.
“Akan kubunuh kau dengan tanganku sendiri bangsaaaatt...” teriak David.
Dia mencabut belati itu dari perutnya hingga darahnya mengalir dengan deras dan.....
Duarrr....
Tuan Brandon tergeletak Di atas lantai dengan timah panas yang bersarang di bagian dadanya.
Duarrr...
Satu tembakan lagi meletus dan timah panas berhasil bersarang di kepala Brandon.
Semua orang tercengang, tembakan yang tidak diketahui entah dari mana berhasil menerobos ruangan itu dan membuat semuanya merunduk ke atas lantai dengan tubuh gemetar ketakutan.
Siaran sudah diputus sejak tadi, dan tak ada yang menyaksikan kejadian ini, bahkan siaran di Indonesia pun diputus sejak David selesai menyampaikan pidatonya.
Belum sempat David membunuh Brandon dengan tangannya sendiri, pria munafik dan tidak tau diri itu sudah meregang nyawa akibat serangan senjata api yang tidak di ketahui siapa pelakunya.
Namun bukan Luna namanya jika tidak teliti, dia melihat siluet seseorang yang tampak mengendap endap di balik podium, “Christan,” batin Luna.
Brukkk....
David terjatuh ke atas lantai, tubuhnya bersimbah darah, dia tak sadarkan diri setelah kehilangan begitu banyak darah dalam waktu singkat.
Seluruh tamu dievakuasi dari lokasi itu, Joel dan Vasko melarikan David ke rumah sakit, panik dan ketakutan jika terjadi sesuatu dengan David tentu mereka rasakan, bagaimana jika Diandra sampai tau hal ini?
Gama dan Luna mencari Bella yang sudah diamankan di kamar hotel itu, sedangkan si kembar membawa Bessara dan Helen secara paksa, mereka akan bermain main dahulu dengan kedua orang itu lalu membunuh mereka secara perlahan sesuai dengan apa yang mereka lakukan pada keluarga besar si kembar.
Kekacauan dan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki membuat mereka harus menanggung akibat dari perbuatan mereka sendiri.
Di Indonesia, Diandra sedang duduk sambil menatap layar ponselnya sambil menangis.
__ADS_1
Joy, Otniel dan Reva sedari tadi sudah berusaha untuk menenangkan Diandra yang tiba tiba saja histeris dan meneriakkan nama suaminya dengan kencang.
Diandra duduk di sudut ruangan sambil menangis tersedu sedu, Mereka yang ada di dalam ruangan itu tidak tau apa yang sedang terjadi dan apa alasan Diandra menangis tersedu sedu seperti itu.
Setiap ditanya dia tidak mau berbicara entah apa yang terjadi padanya namun ini benar benar mengkhawatirkan apalagi usia kandungannya sangat rentan.
“Diandra ada apa? Jangan menangis terus, katakan pada kami, ada apa? Kamu kenapa?” tanya Otniel yang sangat khawatir, dia sampai berjongkok di dekat Diandra.
Reva dan Joy juga tak bisa berbuat apa apa, Diandra menolak mereka, hanya Otniel yang bisa mendekatinya.
Beberapa saat lalu setelah siaran diputus, Diandra masih baik baik saja namun beberapa menit berlalu tiba tiba jantungnya berdegup kencang, Nama dan wajah suaminya yang berlumuran darah terbayang jelas di kepalanya.
Hubungan batin mereka tak bisa diragukan.
“Kak... hiks hiks.... suamiku kak... Diandra punya firasat buruk, kak David gak bisa dihubungi please bawa Dian ke Jerman, Suami Dian butuh Diandra kumohon hiks hiks hiks.... kumohon kak,” ucap Diandra dengan suara bergetar bahkan tangannya gemetaran sambil memegang kerah baju Otniel.
Kedua netranya terus mengeluarkan air mata, dia menangis sesenggukan hingga..
Brukkk
Diandra pingsan tak sadarkan diri.
“Diaaaann....” pekik mereka saat melihat wanita itu benar benar tak sadarkan diri.
“Sebenarnya kak Dian kenapa?” ucap Reva panik, dia benar benar khawatir dengan kondisi Diandra saat ini sama halnya dengan Joy.
Otniel memeriksa kondisi Diandra, dia sama paniknya, tak ingin terjadi sesuatu pada wanita yang sudah dia anggap adiknya sendiri, wanita yang selalu mengajaknya berdebat di setiap ada kesempatan.
“Tekanan darahnya sangat tinggi, ini benar benar mengkhawatirkan,” ucap Otniel.
Akhirnya Diandra menjalani pengecekan kesehatan secara menyeluruh, sama halnya dengan suaminya yang kini tergeletak di atas meja operasi sebab dua tusukan yang di berikan Brandon berhasil melukai ginjal dan perutnya.
Kondisi keduanya sama sama mengkhawatirkan, Joy langsung menghubungi orang orang yang berada di jerman mengenai keadaan David dan melaporkan keadaan Diandra yang sangat lemah saat ini.
Akhirnya mereka tau kalau David mengalami musibah yang tak disangka sangka di acara besar itu. Diandra yang terguncang menyebabkan kandungannya lemah namun masih ada harapan untuk selamat.
Nyonya Alena dan kedua mertua Diandra langsung mengunjungi rumah sakit setelah mendengar kejadian itu, mereka sama panik dan Khawatirnya.
...****************...
Rumah Sakit Berlin
“Bagaimana keadaan David nak?” tanya Gama yang datang bersama Luna dan Bella yang sudah berganti pakaian.
__ADS_1
Mereka belum menjelaskan situasi sebenarnya pada bella dan mengenai keberadaan Kekasihnya William, Bella hanya mempercayai mereka saat ini karena Diandra adiknya.
“David sudah selesai di operasi tante, dia memiliki dua luka tusuk yang merobek perut dan merusak satu ginjalnya,” jelas Joel.
“Haaa.... Daviiidddd...” Seketika Luna melemah, Bella dan Gama menopang wanita itu dari kedua sisi.
“Tenang sayang,” ucap Gama .
“Bagaimana aku bisa tenang jika david seperti ini Pa, David hiks hiks hiks.... apa yang harus kita lakukan bagaimana ini bisa terjadi arhhhh.... ini semua karena si tua bangka sialan itu, “Luna menangis tersedu sedu saat mendengar penjelasan Joel.
“Tan tenang lah, David butuh kita, Diandra...” Joel terhenti.
Mereka semua menoleh ke arah Joel dengan tatapan terkejut saat mendengar nama Diandra.
“Ada apa dengan adikku?” Vasko memegang kerah Joel dengan wajah tegang dan mata melotot.
“Ck... tenang dulu bodoh,” umpat Joel dengan wajah Kesal sambil melepaskan tangan Vasko dari lehernya.
“Diandra pingsan, menurut laporan joy, Diandra tiba tiba menangis dan memanggil nama David, dia terus meracau kalau David dalam bahaya, mereka benar benar pasangan yang aneh, bagaimana bisa Dian tau kalau David....” Joel terdiam saat melihat ekspresi datar mereka semua.
“Ekhmmm... intinya kita hanya harus fokus pada kesehatan mereka berdua, dan jangan beritahukan keadaan David pada Diandra, kandungannya sedang lemah,” ucap Joel.
“Baiklah,” jawab mereka dengan perasaan benar benar kalut.
Sama halnya dengan mereka, Bella memikirkan keselamatan adiknya Diandra dan keselamatan David, dari penjelasan Vasko dan joel, mereka datang kesana untuk menyelamatkan Bella atas permintaan Diandra.
“Aku jadi merasa bersalah, adikku, maaf kakak menyakitimu sampai akhir,” batin Bella sambil menunduk dan berwajah murung, dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sedang terjadi.
Melihat wajah sedih Bella, Luna Menggenggam tangan gadis itu dengan lembut namun tanpa menoleh ke arahnya.
“Kuatkan dirimu, Diandra butuh kakak perempuannya saat ini, jangan menunjukkan wajah sedih itu pada Diandra, kita akan ke Indonesia beberapa hari lagi dan jangan beritahukan keadaan David pada Diandra,” ucap Luna.
Bella mengangguk paham, tangan lembut Luna membuatnya merasa aman, dia membalas genggaman tangan yang membuat hatinya hangat.
“Inikah kasih seorang ibu?” batin Bella sambil melirik lirik Luna.
.
.
.
Like, Vote dan Komen
__ADS_1