
Joel mendekati Diandra lalu memeriksa hasil pekerjaan wanita itu.
“Hei bocah, kita periksa hasil kerjamu oke,” ucap Joel memanggil Diandra yang sudah mulai menanam kembali.
“Ck... aku bukan bocah kak Joel,” gerutu Diandra sambil mengerucutkan bibirnya dengan wajah di tekuk seperti benang kusut.
“Kau itu bocah, bagi kami kau itu tetap bocah,” ejek Joel sambil menepuk pucuk kepala Diandra, sepertinya akan menjadi kebiasaan mereka semua melakukan itu pada Diandra.
“Ya sudah periksa saja,” ucap Diandra pasrah diperlakukan seperti bocah padahal dia bukan gadis lagi.
Joel mengangguk, dia berjalan memeriksa lahan yang sudah di tanami oleh Diandra, mata pria tampan itu terbelalak saat melihat bagaimana cara kerja Diandra yang begitu teliti dan sempurna, belum lagi dia sudah menanam sampai 3 baris sendirian.
“Astaga apa aku tidak salah lihat? Ini... ini benar benar hasil kerja si bocah itu?” ucap Joel dengan mata terbelalak hampir keluar dan jatuh ke tanah.
Joel meneliti semuanya sekali lagi, dia melihat dan memperhatikan hasil kerja wanita itu. Dengan wajah merah karena terik matahari pria itu berjalan sambil berkancah pinggang menghampiri Diandra.
“Diaaaaannnnn.....” teriak Joel.
Pletak...
Satu pukulan telak mendarat di kepala pria itu, pukulan dari siapa? Tentu saja dari Vasko si pria sangar itu.
“Suaramu hampir membuat gendang telingaku pecah mulut toa, jangan teriak teriak kampret,” ketus Vasko sambil menatap Joel dengan tatapan tajam, membuat Joel yang meringis kesakitan menelan kasar salivanya.
“Ck... sial kenapa juga dia harus semenyeramkan itu,” gerutu Joel sambil menatap Vasko yang berjalan mendahuluinya. “ arghhhh sakit ini dodol,” teriak Joel lagi sambil menggosok gosok kepalanya.
Vasko berbalik dan menatap Joel, seketika pria itu menutup mulutnya terdiam saat melihat tatapan mata tajam dari pria itu.
Joel mencari dimana Diandra, dan manatapnya menangkap sosok wanita itu tengah menanam bibit anggur di baris lain, dia menghampiri Vasko yang tampaknya menatap Diandra juga.
“Bro, kau lihat tidak cara kerjanya? Sangat cepat dan rapi, seperti profesional saja,” bisik Joel tepat di telinga Vasko.
“Kau bau jigong kampret,” ketus Vasko sambil berjalan menjauh dari Joel.
“Yahh.... heheh maaf,” kekeh pria itu.
“Dia memang hebat, sepertinya selama ini semua bakatnya terpendam di rumah keluarga busuk itu, kasihan dia, biarkan dia melakukan apa yang dia mau Joel, aku yang kan mengganti kerugiannya kalau dia merusak atau mengacaukan sesuatu,” ucap Vasko sambil berjalan menuju tempat Diandra saat ini.
__ADS_1
“Heh siapa juga yang akan rugi mempekerjakan wanita cantik seperti dia, yang ada aku malah untung karena pekerjaannya sangat rapi,” oceh Joel sambil mengikuti Vasko dari belakang.
Diandra tampak sangat fokus dengan pekerjaannya, “Apa kau begitu menyukai pertanian sampai kau tidak sadar kalau kami sedari tadi menatapmu?” suara bariton Vasko terdengar di telinga Diandra membuat wanita itu menoleh.
Betapa terkejutnya Joel dan Vasko saat melihat wajah Diandra yang sudah cemong terkena tanah, keringatnya bercucuran bahkan kulitnya sampai memerah.
“Astaga Dian kenapa kau kotor sekali hahahahaha,” Joel tertawa terbahak bahak melihat wajah cemong Diandra. Sedangkan Vasko mengulum senyum melihat wajah Dian yang tampak menggemaskan meskipun cemong cemong dan memerah karena terik mata hari.
“Hehehe.... apa jelek?” tanya Diandra sambil terkekeh menatap mereka, dia menyeka keringatnya dengan lengannya yang tidak kotor.
Dengan iseng Joel memotret Diandra saat posisi seperti,” Hahah ini akan jadi kenang kenangan “ ucap Joel sambil menunjukkan potret Diandra yang tampak sangat kelelahan.
“Haishhh kak jelek banget ituuu...” ucap Diandra sambil mengerucutkan bibirnya.
Vasko dan Joel hanya tertawa geli melihat reaksi gadis itu. “Dek kamu pakai tabir surya gak?” tanya Vasko yang di jawab dengan gelengan kepala oleh Diandra.
Vasko menepuk jidatnya sendiri, dia menarik tangan Diandra agar wanita itu berdiri,”Ck.... kenapa gak pakai? Wajahmu bisa gosong kayak pantat periuk yang dipakai buat masak makanan ternak nanti, dasar bocah ini,” gerutu Vasko.
Joel terkejut melihat Vasko yang baru kali ini seperhatian itu pada seorang wanita, jika diingat ingat, diantara mereka justru Vasko lah yang lebih dekat dengan Diandra.
“Heheh Lupa kak,” kekeh Diandra dengan senyuman manis di wajahnya yang lagi lagi membuat hati Vasko bergetar.
Vasko geleng geleng kepala, dia menarik tangan Diandra dengan lembut dan membawanya menuju halaman rumah di lahan pertanian itu. Dia menyuruh Diandra membasuh wajahnya dan membersihkan dirinya.
“Duduk disini, kau ini benar benar bocah tengil ya,” ucap Vasko setelah Diandra selesai membersihkan wajahnya sambil memberikan handuk bersih pada Diandra.
Vasko masuk ke dalam rumah mencari sesuatu di dalam sana. Dian menatap rumah itu sambil menggoyang goyangkan kakinya yang tidak sampai ke tanah karena tubuhnya yang kecil duduk di atas meja yang tinggi.
Pria itu datang membawa sebuah cream tabir surya di tangannya, “Lihat sini,” ucap vasko yang sudah menaruh cream itu di tangannya.
Diandra menurut, entah kenapa Dian mau menurut jika Vasko sudah berbicara mungkin karena takut di makan singa liar itu kali ya.
Vasko mengoleskan cream itu dengan lembut di wajah Diandra, dia dengan teliti Mengoleskannya hingga rata di wajah gadis itu.
“Selesai, nah oleskan di leher dan tanganmu, kau bisa gosong nanti,” ucap Vasko meletakkan cream itu di tangan Diandra.
“Ini punya siapa kak?” Tanya Dian sambil menatap cream itu.
__ADS_1
“Punya Otniel, kalian berdua sama sama bocah, kulit kalian sama sama sensitif, untung kulihat, wajahmu bisa merah merah sepanjang hari,” ucap Vasko sambil menyentil kening Diandra.
“Heheeh terimakasih kak,” ucap Dian.
Sementara itu, pria kurus kering yang melirik Diandra sejak tadi mulai bekerja mengawasi mereka dari sisi lain rumah itu, dia mengambil potret mereka berdua yang tampak seperti sepasang kekasih.
“Hahahah ini akan jadi titik kelemahan pria itu, habis kau kali ini di tangan bosku, aku tau kau bagian dari kelompok itu,” ucap pria itu.
Joel menatap datar ke arah pria kurus kerontang itu, dia memasang CCTV tersembunyi di seluruh sudut lahan pertaniannya dan tak ada satu pun yang tau kecuali dirinya dan sahabat sahabatnya.
“Berani sekali kau mengusik ketenangan kelompok kami,” gumam Joel sambil menatap pria itu dengan mata berapi api.
Sementara itu, Di dalam ruangan rapat, David yang tengah mengikuti rapat intern perusahaan menerima pesan masuk dari sahabatnya joel.
Matanya terbelalak melihat foto yang dikirimkan oleh Joel padanya, hampir saja topengnya lepas.
“Astaga apa yang mereka lakukan sebenarnya? Apa ini acara tv untuk penangkapan ular? Berani sekali dia memegang ular itu,” gumam David.
Kemudian dia men-skroll ke foto selanjutnya, “Pfttthhh..... hahahhaha,” David tertawa terbahak bahak membuat seluruh peserta rapat merinding ketakutan apalagi yang sedang melakukan presentasi, kakinya bergetar ketakutan bahkan hampir saja kencing celana karena tawa David terdengar menyeramkan bagi mereka.
“Kak bisa kau fokus, semua memperhatikan kakak,” bisik Joy yang juga heran dengan kelakuan bos mereka yang tiba tiba itu.
“Hahahaha, Joy lihat ini,” ucap David sambil menunjukkan foto di ponsel nya pada joy.
Sama halnya dengan David, Joy juga terbelalak sekaligus tergelak melihat isi foto itu.
“Hahaha... astaga, ini benar benar lucu,” ucap gadis itu sambil tertawa apalagi melihat wajah Diandra yang sepertinya pasrah dengan terik matahari dan wajah yang berlumuran tanah.
Bukannya semakin tenang, para karyawan justru bergetar ketakutan melihat hal langka terjadi secara langsung di depan mata mereka. Bos dingin dan setan kecil itu tertawa bersama sama.
“Ekhm.... rapat kita hentikan sampai disini saja, kirim materi presentasi kalian pada Joy dan akan ku tinjau ulang nanti, rapat kita akhiri,” ucap David.
Para karyawan keluar dengan wajah pucat, kaki bergetar, jantung yang hampir berhenti berdenyut dan tubuh lemas.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen