
Joel mendengar semua cerita Ara, dia cukup terkejut mendengar penuturan gadis cantik itu. Bagaimana bisa dia menjalani hidup keras itu sendirian selama ini.
"Pantas saja dia memilih untuk mencoba mengakhiri hidupnya, Haihh kenapa dia sama denganku ya? aku juga diselamatkan oleh sahabat sahabatku, Jika tidak aku mungkin sudah jadi monster dan kak William melindungi ku sampai akhir, uhhh jadi kangen kak Will," batin Joel.
Ara menceritakan kisahnya sambil menangis, benar benar berat baginya tapi Joel mendengar nya dengan sabar dan pengertian bahkan tidak sekalipun menyela saat Ara berbicara. Dia sangat menghormati Ara.
Gadis itu tampak sesenggukan, tentu saja karena traumanya besar dan mengerikan.
"Cihhh... jadi hanya karena pria bodoh itu kau ingin mengakhiri hidupmu? hanya karena sahabatmu mengkhianati mu kau ingin mengakhiri hidup mu? kau memang pengecut!" ejek Joel.
"Astaga mulut, jangan sembarang ngomong itu orang lagi depresi ya ampun!!!" dalam batin, Joel berteriak saat menyadari kesalahannya.
"Hiks hiks kenapa kau kasar sekali, aku... aku bercerita untuk mu tapi kau mengatakan hal hal kejam seperti itu, kau jahat !" ucap Ara yang malah semakin menangis karena ulah Joel.
"Waduh mampus !" gumam Joel sambil menepuk keningnya sendiri.
"Ehh Ra, Ara jangan nangis please, maaf maaf aku emang ceplas-ceplos maaf bukan maksudku menyakitimu lagi, aduuhhh tapi gimana ya kan emang benar yang aku bilang tadi," Joel seketika menjadi panik.
"Hiks hiks hiks... kau memang benar aku pengecut, aku anak buangan, aku memang gak diterima dan gak dianggap siapapun," ucap Ara sambil menunduk sedih.
Joel menekuk wajahnya dia benar benar pening Karena ulahnya sendiri.
" Ra maaf," ucap Joel lembut seraya menggenggam tangan gadis itu.
Mendengar suara lembut Joel untuk pertama kali sukses membuat hati gadis itu tersentuh, hatinya hangat dan tenang dia menatap Joel dengan wajah sembab dan hidung memerah.
"Maaf, aku memang tidak tau cara menghibur wanita, tapi..." Joel berhenti sejenak dan meminggirkan mobilnya.
Joel menatap gadis itu dan menggengg tangan Ara dengan erat.
"Hidupmu harus kau jalani, apa pun masa lalumu, apa pun masalahmu hiduplah untuk saat ini dan masa depan, biar apa yang berlalu tetap berlalu dan menjadi cerita yang akan diingat kelak, anggap saja kau sedang dibentuk menjadi pribadi yang kuat, kau pasti bisa menghadapi ini," ucap Joel.
"Mungkin kau banyak mengalami kepahitan dalam hidup, kisah kita mirip bahkan kisah keluarga ku juga lebih mengerikan Ra, berpisah puluhan tahun lalu dipertemukan kembali, hidup dalam teror Mafia, hidup dalam kebencian dan dendam, mengalami diksriminasi di dalam keluarga, dibuang, bahkan seorang wanita yang ku kenal bertemu suaminya karena dijebak,"
" Tapi kami semua berhasil melalui itu, dan hidup kami sangat bahagia sekarang meski dilengkapi dengan konflik kecil yang masih bisa ditangani," ucap Joel.
"Kau itu berharga, kau bisa membalas mereka yang membullymu, kau bisa membungkam mulut mereka dengan prestasi, kau bisa mengalahkan mereka, kau juga bisa jadi hebat, bukan berarti karena kau tidak di terima di lingkungan keluargamu, orang lain bisa seenaknya padamu, "cerocos Joel dengan kecepatan bicara seribu kilometer per jam.
" Ayolah jangan jadi pengecut, masa iya hanya gara gara laki laki bajingan kau mau mengakhiri hidupmu, ck... ck.. ck... kau terlalu naif Ara, dasar gadis aneh!" ketus Joel.
__ADS_1
Ara terbelalak mendengar semua ucapan Joel tanpa berhenti, tanpa ada Rem, dia lanjut saja kata katanya seperti kereta api yang melaju dengan sangat cepat.
"A... aku mana bisa, jujur saja terakhir kali kita bertemu saat kau memarahiku, aku melawan Kakakku, dan kedua orang tuaku, hasilnya apa? aku malah akan dibunuh,aku tak bisa berkutik Joel, kau tidak paham!" ucap Ara dengan nada lirih.
"Haihhhh.... serahmulah dibilangin malah nyenyenye... bla bla bla...lemah dasar perempuan ini ya bikin puyeng, gitu aja kalah huh.... " ketus Joel.
"Kau selalu bilang eke... lemeh... gek biseee... eke...perempiiin... nyonyonyonyo... heh... lemah dikit dikit nyerah, nangis idihhh.... gak malu sama umur,"celetuk Joel dengan wajah ditekuk, tampak kalau dia kesal dengan ucapan Ara.
"Pria ini aneh sekali, dia benar benar manusia langka, dan apa barusan itu? dia mengejekku? hahhh hidup macam apa ini!!" batin Ara.
" Dengar ya Ara," ucap Joel sambil menatap gadis itu.
"aku menyukaimu, aku akan membantumu membalaskan semua perbuatan mereka padamu, " ucap Joel dalam hati.
" Udah dengar ?" ucap Joel.
"Hah? bilang apa emang?" Ara jadi bingung. Ya bingunglah, Joel bicara di dalam hati, ada ada saja.
"Belum dengar ya hahahhaha..... kalau begitu bantu aku cari penjual gorengan, kau tidak dengar tiga manusia tadi sudah menuntutku, bisa habis jadi lalapan aku," celetuk Joel.
"Aneh, sebenarnya siapa pria ini, kenapa aneh begini?" batin Ara.
Pletakk
"Awhhh.... shhh... kenapa?"
"Kenapa kenapa... jangan mikir yang nggak nggak dasar perempuan, cepat tunjukkan dimana penjual gorengan, kalau nggak ku cium kau Sekarang!" ketus Joel sambil menekuk wajahnya.
Ara terkejut, pria disampingnya itu benar benar pemaksa.
" di dekat supermarket tempatku bekerja ada penjual gorengan, rasanya cukup enak, kesana saja," jawab Ara.
"ngomong dong dari tadi, jangan melamun doang, dasar gadis aneh," ketus Joel.
"A... aku...
"Udah diem, kalau nggak cium nih!" ucap Joel.
Spontan Ara menutup mulutnya, lebih baik cari aman daripada harus dicium sama si pria cerewet di sampingnya.
Joel dan Ara melaju menuju tempat yang dimaksud oleh gadis itu. Cukup canggung di dalam mobil namun celetukan dan ucapan ucapan aneh Joel berhasil sedikit mencairkan suasana diantara mereka berdua.
__ADS_1
Setibanya di dekat supermarket, Joel turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ara.
"Ini seperti mimpi dibukakan pintu oleh pangeran khayalan, tapi... apa ini akan baik baik saja? aku takut... dia... orang jahat, aku...
pletakkk
Satu sentilan mendarat lagi di kening gadis itu.
"Keluar , dasar gadis supermarket, kerjamu bengong terus," ketus Joel yang sedari tadi sudah membukakan pintu, tapi gadi itu malah melamun.
"Eh... ma..maaf," cicit gadis itu.
Joel menutup mobil, dia berjalan bersama gadis itu.
" Dimana?" tanya Joel.
Dengan berani pria itu menggenggam tangan Ara, gadis itu tentu terkejut karena belum apa apa, Joel sudah menggandengnya tangannya tanpa canggung sedikit pun.
"Di... disana,"ucap Ara sambil menunjuk penjual gorengan di dekat supermarket.
Joel mengangguk, dengan santai dia berjalan sambil menggenggam tangan Ara.
" Jo..Joel, apa kita harus berpegangan tangan seperti ini?" tanya Ara dengan suara gugup.
"Apa? " kau mau aku merangkul mu? ahhh baiklah bukan masalah, toh kita sepasang kekasih sekarang iya kan," ucap Joel sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Bu... bukan begitu maksudku, Ki..kita dilihat orang, malu"cicit gadis itu.
"Heh kenapa malu, kan pakai baju, dasar aneh!" celetuk Joel sambil berjalan di belakang gadis itu dan memegang kedua bahunya.
Ara tampak diam saja, dia mengikuti dan menuruti pria itu.
"Pendekatan paling sempurna heheheh...." batin Joel.
"Mereka disana... ba.. bagaimana ini?" Ara diam dalam ketakutan entah apa yang dilihatnya.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉😉