
Mama Rainer langsung tergelak mendengar ucapan Nayra. Sepertinya, menantunya itu mendadak blank. Fia sampai tidak menyadari apa yang diucapkannya.
Setelah beberapa saat kemudian, Nayra dan mama Rainer bersiap untuk pulang. Hari sudah menjelang sore, dan mama Rainer harus bersiap untuk mendampingi suaminya menghadiri acara amal di sebuah hotel di Jakarta.
Karena tidak mau merepotkan, Nayra memilih untuk pulang sendiri dengan menggunakan taksi online. Awalnya, sang mertua melarangnya. Namun, setelah mendapat bujukan dari Nayra, mau tidak mau akhirnya mama Rainer mengizinkan.
Menjelang pukul empat sore, Nayra sudah tiba di penthouse Rainer. Dia segera membersihkan diri dan mulai menyiapkan makan malam. Rainer sudah mengirimkan pesan jika dia akan pulang sore itu.
Ketika Nayra sedang berkutat di dapur, Rainer ternyata sudah pulang. Rainer yang tahu jika Nayra sedang berada di dapur, dia langsung berjalan menghampiri istrinya tersebut.
Rainer langsung berdiri di belakang Nayra dan melongokkan kepalanya di atas bahu sang istri. Nayra yang memang sudah mengetahui kedatangan Rainer, hanya bisa menolehkan kepala sekilas sebelum kembali melanjutkan aktivitas memasaknya.
"Masak apa?" tanya Rainer.
"Tumis jamur sama telur sambal."
"Hhmmm. Ada tempe goreng nggak?" Rainer masih menempel pada tubuh Nayra.
"Eh, mau tempe goreng? Ada di kulkas. Mau di gorengkan?"
__ADS_1
"Boleh. Di goreng sampai kering seperti biasa."
"Iya. Nanti aku goreng."
Rainer menjauhkan tubuhnya dari balik tubuh Nayra. Dia hendak beranjak ke kamar untuk membersihkan diri, namun langkah kakinya terhenti ketika Nayra kembali bersuara.
"Baju ganti dan airnya sudah aku siapkan, Mas. Setelah bersih-bersih, hubungi Mama dulu sebentar. Ada yang mau disampaikan tadi," ucap Nayra sambil menoleh sekilas sebelum kembali memasukkan jamur yang sudah siap diolah tersebut.
"Hhhmmm."
Tak butuh waktu lama, Rainer sudah selesai membersihkan diri. Dia juga segera menghubungi sang mama untuk membicarakan beberapa hal. Sementara itu, Nayra segera menyiapkan makanan yang sudah selesai dimasak tersebut di atas meja makan.
Setelah semua siap, dia dan Rainer bergegas untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib sebelum menyantap makan malam mereka.
Saat Nayra hendak mengambilkan nasi, tiba-tiba Rainer menarik pinggang Nayra dengan sedikit lebih keras hingga kini dia langsung terduduk di atas pangkuan Rainer. Sontak saja hal itu membuat Nayra terkejut.
"Eh, a-ada apa?" tanya Nayra bingung. Tangan kirinya masih memegang erat piring, sedangkan tangan kanannya memegang centong nasi. Kedua bola matanya menatap tajam ke arah Rainer.
"Seharian kita nggak ngapa-ngapain. Jadi, bisa kita nyicil sedikit?" ucap Rainer dengan ekspresi tanpa dosa.
__ADS_1
"Eh, nga-ngapa-ngapain? Memangnya mau apa?" Mendadak Nayra menjadi cengo. Entah mengapa seharian ini otaknya lebih sering blank.
"Tadi, Mama bilang jika kamu sudah mendengar semua cerita masa laluku juga keluargaku. Benar?" tanya Rainer sambil menarik piring Nayra dan meletakkan di atas meja makan.
Nayra hanya bisa mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya sambil mengangguk takut. Dia khawatir jika Rainer tidak menyukainya. Namun, ternyata dugaannya salah. Alih-alih marah, Rainer justru menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.
"Bagus. Karena kamu sudah tahu cerita masa laluku, mulai sekarang kamu harus bisa membantuku untuk benar-benar lepas dari perempuan itu."
"Eh, ba-bagaimana caranya?"
Rainer mendekatkan wajahnya pada telinga Nayra. Tentu saja hal itu membuat tubuh Nayra meremang hebat. Belum sempat rasa keterkejutan Nayra selesai, tiba-tiba tangan Rainer sudah menyelinap pada baju Nayra.
"Mau ikut pameran denganku?" Saat mengucapkannya, tangan Rainer langsung meeremass bakpao jumbo yang ditemukannya.
Aaahhhhhh eehhmmmmm.
Nayra bahkan langsung mengeluarkan suara horornya sambil menutup kedua bola matanya. Jangan lupakan tubuhnya langsung melengkung ke belakang sehingga membuat bagian dadaanya semakin membusung.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rainer langsung beraksi. Hap.
__ADS_1
•••
Emang ada cicak ya Rain? 🙄