Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Honeymoon?


__ADS_3

Nayra hanya bisa mendesahkan napas berat saat mengetahui jika sang atasan tengah sakit. Sebenarnya, Rainer bukannya alergi parah terhadap udara malam. Namun, biasanya semua itu tergantung dengan kondisi tubuh Rainer dan berapa lama dia berada di luar ruangan tanpa penutup pakaian yang bagus.


Nayra segera turun dari tempat tidur dan menyalakan lampu terang. Kini, dia bisa melihat dengan lebih jelas keadaan Rainer daripada tadi yang hanya remang-remang karena pencahayaan hanya pada lampu tidur.


Nayra mengulurkan tangan untuk memeriksa suhu tubuh Rainer. Dan, dia cukup terkejut saat menyadari suhu tubuh Rainer sangat panas. 


"Astaga, Pak. Kenapa jadi panas seperti ini? Ccckkk. Ini pasti gara-gara tadi Bapak memberikan jaket kepada saya. Jadi sakit begini, kan?!" Nayra masih mengomeli Rainer yang sedang menahan dingin tubuhnya tersebut.


Setelah puas mengomel, Nayra segera mengambil telepon kamar hotel dan menghubungi resepsionis untuk meminta dibelikan beberapa obat dan keperluan yang dibutuhkan untuk meredakan panas Rainer.


Selama menunggu obat Rainer datang, Nayra membenahi selimut dan bantal Rainer. Dia ingin membuat sang atasan merasa nyaman.


Tak sampai tiga puluh menit kemudian, pesanan Nayra sudah datang dengan diantar oleh petugas hotel. Setelah itu, Nayra segera mengambil air putih dan menyiapkan obat untuk diminumkan kepada Rainer.


"Pak, bangun dulu. Minum obat biar panasnya segera turun," ucap Nayra sambil sedikit membuka selimut atasannya tersebut.

__ADS_1


Rainer yang masih tampak kesulitan untuk berbicara karena kedinginan, hanya bisa menuruti perintah Nayra. Dia langsung menelan obat yang disodorkan oleh Nayra dan meneguk air minum untuk membantu melarutkan obat.


Setelah itu, Rainer kembali berbaring. Sementara Nayra langsung bergegas mengambil air untuk mengompres Rainer.


Dengan telaten, Nayra mengganti kompresan Rainer yang sudah mengering. Hingga sekitar satu jam kemudian, kedua mata Nayra benar-benar sudah sangat lengket.


Nayra melirik jam pada layar ponselnya dan mendapati saat itu sudah hampir jam satu dini hari. Entah karena sudah sangat lelah atau memang karena Nayra malas berpindah tempat, Nayra langsung merebahkan diri di samping tubuh Rainer yang sedang terlelap tersebut. 


Saat ini, Nayra tengah meringkuk di dekat perut Rainer tanpa bantal. Nayra juga tanpa sadar masuk ke dalam selimut Rainer karena merasa kedinginan.


"Kompres?" gumam Rainer lirih.


Setelah mengingat apa yang sebenarnya terjadi, Rainer segera mengedarkan pandangan dan mendapati Nayra tengah terlelap di sampingnya agak ke bawah. Nayra meringkuk di dalam selimut tanpa bantal.


Rainer merasa kasihan saat melihat posisi tidur Nayra. Dia sedikit beranjak dari tidurnya dan menggeser Nayra agar mendapatkan posisi yang pas dan nyaman dalam tidurnya. Tak lupa juga Rainer memberikan sebuah bantal yang segera diletakkannya di bawah telinga Nayra.

__ADS_1


Begitu memastikan posisi Nayra sudah nyaman, Rainer kembali merebahkan diri. Dia ingin kembali beristirahat agar besok hari bisa kembali pulih seperti sedia kala.


Hujan gerimis mengiringi suasana pagi itu di Jogja. Tampak dua orang yang masih bergelung di dalam selimut, semakin mengeratkan selimut yang menutupi tubuh mereka. Ya, meskipun posisi tidur Rainer dan Nayra berjauhan, namun mereka masih memakai selimut yang sama.


Nayra saat itu tengah tertidur miring menghadap Rainer, sementara Rainer tengah tidur terlentang. Keduanya masih terlelap di bawah balutan selimut tebal yang membungkus tubuh mereka.


Tak berapa lama kemudian, terdengar suara berisik dari arah pintu dari kamar Rainer. Rainer dan Nayra bahkan masih terlelap tanpa merasa terganggu dengan suara berisik tersebut. 


Hingga sebuah suara berhasil membangunkan Rainer dan Nayra dari tidur lelap mereka.


"Rain, Nay?! Kalian serius sudah menikah? Ini maksudnya kalian bulan madu begitu?!"


\=\=\=


Siapa sih itu?

__ADS_1


Hayo, jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak ya.


__ADS_2