Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Memangnya Aku Sudah Tua?


__ADS_3

Tak perlu menunggu lama, pesawat Rainer dan Nayra sudah bersiap untuk lepas landas. Nayra masih terlihat mengantuk saat sudah duduk di kursinya. Tentu saja dia duduk di sebelah Rainer. Rainer yang melihat hal itu, langsung bersuara.


"Tidurlah. Kita masih punya waktu sekitar satu jam untuk sampai Jogja," ucap Rainer.


Nayra menoleh sambil mencebikkan bibir. "Mana bisa tidur sekarang, Pak. Yang ada juga pusing kepala saya nanti."


Rainer mengernyitkan kening. "Pusing? Kenapa?"


"Ini jam berapa, Pak? Saya tidak bisa tidur jika pagi seperti ini. Biasanya, jam segini saya juga sudah berpacaran dengan setumpuk berkas."


"Cckkk. Cobalah memejamkan mata. Nanti juga pasti bisa tidur."


Nayra hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Tidak mungkin dia menang debat melawan atasannya tersebut. Mau tidak mau, Nayra mencoba untuk memejamkan mata setelah pesawat yang mereka tumpangi lepas landas.


Mungkin karena sudah terlalu lelah, Nayra bisa dengan mudah terlelap saat mencoba memejamkan mata. Rainer melirik ke arah samping dan mendapati Nayra sudah terlelap sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


"Cckkk. Sudah tidur saja. Tadi bilang tidak mengantuk, alasan." Rainer mendengus kesal. Namun meskipun begitu, dia tetap menarik kepala Nayra hingga bersandar pada bahunya.


Perjalanan menuju Jogjakarta, berjalan dengan lancar. Nayra juga sudah bangun dari tidur singkatnya. Begitu sampai di bandara, Rainer sudah dijemput oleh seseorang. Dan, rupanya orang tersebut adalah orang baru yang bekerja di kantor Rainer. 


"Selamat siang, Pak Rain dan Ibu." Dewa, orang yang menjemput Rainer dan Nayra, memberikan sapaan kepada Rainer dan juga Nayra sambil membungkukkan badan.


Nayra langsung memelototkan kedua bola mata dan mulutnya juga langsung terbuka saat mendengar sapaan Dewa. Dia hendak protes namun Rainer sudah lebih dulu bersuara.


"Semua sudah siap?"


"Sudah, Pak. Semua team sudah menunggu."


Mau tidak mau, Nayra hanya bisa mengerucutkan bibir.


Ini orang kenapa seenaknya saja, sih. Mana tadi diam saja saat bawahannya memanggilku ibu. Dikiranya aku sudah tua apa?! Batin Nayra dongkol.

__ADS_1


Ternyata, perjalanan mereka menuju tempat pertemuan tidak terlalu jauh. Hanya sekitar empat puluh menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki halaman sebuah restoran. 


Rainer segera mengajak Nayra turun dan berjalan memasuki restoran. Meskipun kesal, Nayra masih tetap mengekori langkah kaki Rainer memasuki restoran tersebut.


"Pak, saya mau buka meja sendiri saja, ya. Saya tidak mau bergabung dengan Anda dan team. Saya tidak akan mengerti apa yang akan anda bicarakan nanti." Nayra sedikit berbisik di dekat telinga Rainer.


Rainer menoleh sekilas ke arah Nayra kemudian menganggukkan kepala. Dia memberikan izin kepada Nayra untuk membuka meja sendiri.


Dengan penuh semangat, Nayra langsung berbelok ke arah samping selatan. Dia ingin menikmati hijaunya tanaman dan bunga yang ada di sana. Ditambah lagi, udara alami yang sangat sejuk benar-benar membuat tubuh Nayra rileks.


Rainer langsung menghentikan langkah kakinya dan mengawasi Nayra. Dia harus memastikan Nayra masih berada dalam jarak pandangannya.


Dewa yang melihat hal itu, langsung bersuara.


"Apa perlu saya pesankan ruangan khusus untuk Ibu, Pak?" tanya Dewa. Dia berpikir jika Nayra adalah istri Rainer. Dewa tidak tahu jika sebenarnya Rainer belum menikah.

__ADS_1


\=\=\=


Mohon maaf kemarin tidak bisa up 🙏


__ADS_2