
Rainer masih terus mencari-cari keberadaan Nayra dan sang mama. Entah mengapa dia mendadak panik. Hingga saat dia berjalan menuju tempat parkir, tak sengaja Rainer bertemu dengan Felix. Sahabat sekaligus asistennya tersebut, sudah berniat pulang.
"Lho, Rain? Ngapain lo disini?" tanya Felix bingung saat melihat Rainer mencari-cari mobil orang tuanya.
Rainer menoleh. Dia melihat sahabatnya tersebut tengah berdiri di samping mobilnya.
"Lo mau kemana?" Bukannya menjawab pertanyaan Felix, Rainer justru balik bertanya.
"Cckkk. Gue mau pulang, lah." Felix mendengus kesal.
"Lo lihat kemana nyokap gue bawa Nayra?" Rainer sudah tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Eh, nyokap lo? Maksudnya apa? Kok bisa nyokap lo bawa Nayra? Bukannya tadi lo yang tarik-tarik Nayra?"
Rainer meraup wajahnya dengan kasar. Dia bingung bagaimana cara menjelaskan kepada Felix. Merasa semakin penasaran, akhirnya Felix mendesak Rainer untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Mau tidak mau, Rainer menjelaskan kepada Felix apa yang sebenarnya terjadi. Rainer juga menceritakan apa yang sudah dilakukannya terhadap Nayra, dan apa yang akan dilakukan oleh mamanya tersebut.
__ADS_1
Setelah mendengar cerita Rainer, Felix tidak bisa menahan tawanya. Dia bahkan sampai memegangi perut saat tertawa. Tentu saja hal itu membuat Rainer semakin kesal.
"Puas-puasin ketawa sana!" Rainer bahkan langsung mendorong tubuh Felix hingga membentur pintu mobil saking kesalnya.
Dan, tentu saja hal itu tidak membuat Felix marah. Dia cukup tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh Rainer. Setelah bisa mengendalikan tawanya, Felix kembali menatap wajah sahabatnya yang tampak frustasi tersebut.
"Tunggu, Rain. Lo bilang jika nyokap lo akan membawa Nayra pergi ke Australia?"
"Hhmmm."
Rainer membulatkan kedua matanya dengan malas. Dia menatap wajah Felix dengan ekspresi kesal.
"Lo pikir nyokap gue nggak bisa lakuin apa yang dia mau?"
"Ya, bisa, sih. Tapi, masa iya nyokap lo bawa Nayra pergi ke Australia dan meninggalkan pekerjaannya. Atau jangan-jangan…," Felix menggantung ucapannya sambil menatap wajah Rainer.
"Nayra dipecat."
__ADS_1
Dan, benar seperti dugaan Felix. Mama Rainer tahu seberapa tergantungnya Rainer kepada Nayra. Dan, salah satu cara membuat Rainer kalang kabut adalah mengambil Nayra dari sisinya.
Felix tersenyum senang. Rupanya, dia sudah mulai bisa mencium rencana mama Rainer. Dan untuk itu, Felix akan dengan senang hati membantu mama Rainer.
"Oh, pantesan. Kalau Nayra dipecat, berarti dia sudah tidak bertanggung jawab dengan segala printilan di kantor, kan? Dan yang lebih penting, dia tidak harus berurusan atau bersinggungan dengan lo lagi."
"Kalau boleh jujur, gue sih sebenarnya kasihan sama Nayra. Dia pasti kerepotan banget dengan segala printilan dan urusan yang dilakukan. Bahkan, untuk urusan pribadinya pun gue yakin dia tidak punya waktu. Dia lebih banyak ngurusin lo dari pada ngurusin hidupnya sendiri," ucap Felix dengan ekspresi prihatin.
Entah mengapa Rainer langsung terdiam saat mendengar ucapan Felix. Dia benar-benar tidak pernah memikirkan hal itu. Selama ini, Rainer memang benar-benar tergantung dengan Nayra. Bahkan, hampir semua urusan dan keperluannya diurus dengan baik oleh Nayra.
Rainer juga sama sekali tidak pernah melihat Nayra dekat atau jalan dengan laki-laki lain. Rainer baru menyadari jika selama ini memang Nayra hampir selalu bersamanya. Dan, baru dua kali dia melihat Nayra terlihat bersama dengan seorang laki-laki.
Tentu saja puncaknya adalah tadi saat Rainer melihat Nayra dengan Aaron. Entah mengapa ada sebuah perasaan tidak rela yang tiba-tiba dirasakannya.
\=\=\=
Hhhmmm, enaknya diapain sih ini Si Hujan? 🤔
__ADS_1