
Sontak saja Nayra kaget dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Rainer. Kedua bola matanya langsung membulat dengan tubuh terasa kaku. Jangan lupakan jantungnya yang mendadak berdegup sangat kencang. Bahkan, kedua lututnya terasa sangat lemas.
Beruntung Rainer tidak terlalu lama melakukan aksinya siang itu. Setelah sekitar sepuluh detik, Rainer menjauhkan wajahnya dari wajah Nayra. Kedua netranya masih menatap wajah Nayra dengan tatapan tajamnya.
"Aku nggak suka kamu masih memanggilku dengan sebutan 'pak'. Bukankah sudah aku bilang ganti panggilan itu jika tidak sedang di kantor?" Rainer menatap wajah Nayra lekat-lekat.
Tersadar dari keterkejutannya, Nayra langsung mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya. Dia menatap Rainer dengan bibir berkerut. Seketika Nayra memukul bahu Rainer dengan kesal.
"Cckkk. Apaan sih masih suka curi-curi kesempatan. Jangan suka aneh-aneh, deh." Nayra tampak tidak suka.
"Apanya yang suka curi-curi kesempatan? Aku hanya melakukan hal wajar yang dilakukan oleh suami istri. Tidak lebih."
"Tapi itu curi-curi ciuman. Dikira aku ini apa hampir di sosor setiap saat? Padahal aku belum pernah ngapa-ngapain." Nayra masih mengerucutkan bibir kesal.
Kening Rainer berkerut. "Maksudnya apa? Apa kamu mau ngapa-ngapain aku? Aku sih nggak masalah. Nanti pulang dari kantor, aku ikhlas kamu apa-apain."
__ADS_1
Lagi-lagi Nayra hanya bisa mendengus kesal. Entah mengapa atasan sekaligus suaminya tersebut berubah menjadi menyebalkan seperti ini.
"Haiisshh, sudah, sudah. Sekarang, berangkat ke kantor saja." Nayra mendorong tubuh Rainer agar menjauh dari depan pintu kamarnya.
Namun, tiba-tiba Rainer berhenti saat sudah berada di ruang tengah. Seketika tubuhnya berbalik dan langsung mendekap Nayra dalam pelukannya. Tentu saja hal itu membuat Nayra cukup terkejut. Lagi-lagi Nayra sampai bingung dan kaget dengan tindakan tiba-tiba Rainer.
"Jangan kemana-mana dulu hari ini. Mau belanja, boleh jika hanya di depan. Aku tidak akan lama ke kantor." Rainer segera melepaskan pelukannya setelah memberikan sebuah kecupan singkat pada pucuk kepala Nayra.
Tanpa menunggu jawaban Nayra, Rainer langsung beranjak keluar dari penthouse nya setelah menyambar kunci mobil. Dia meninggalkan Nayra yang tengah mematung di tempat.
Mau tidak mau, Nayra beranjak menuju tempat Rainer meletakkan charger ponsel di dekat televisi. Nayra bisa langsung menemukan barang-barang di rumah Rainer, karena memang sudah cukup hafal tempat barang-barang tersebut.
Setelah berhasil menemukan charger ponsel dan memasangnya, Nayra beranjak menuju dapur. Dan, seperti dugaan Nayra sebelumnya, dapur tersebut kosong. Tidak ada bahan makanan yang ada di sana.
"Hhhffftt. Selalu saja seperti ini," Nayra hanya bisa mendesahkan napas berat.
__ADS_1
Setelah itu, Nayra bergegas mengambil dompetnya. Dia ingin belanja bahan makanan di minimarket yang terletak tak jauh dari penthouse Rainer.
Tidak membutuhkan waktu lama, Nayra sudah berjalan memasuki minimarket tersebut. Dia segera mengambil trolley dan mulai mengisinya dengan barang-barang yang dibutuhkannya. Lagi-lagi, Nayra menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga. Bedanya kali ini, dia sudah benar-benar menjadi istri Rainer secara resmi.
Banyak barang yang dibeli Nayra saat itu. Mulai dari kebutuhan dapur hingga peralatan mandi dan laundry pun tak luput dari daftar belanjaannya. Namun, ketika Nayra sedang memilih sayuran, tiba-tiba sebuah panggilan mengagetkan Nayra.
"Nayra? Kamu kemana saja? Sejak acara perusahaan kamu menghilang dan ponsel kamu tidak bisa dihubungi?"
Nayra langsung berbalik dan mendapati seorang laki-laki tengah berdiri di sampingnya.
"Aaron?"
•••
Hayo lho, ketemu Aaron nih.
__ADS_1