
Siang itu juga, Rainer, Resta dan papa langsung beranjak menuju rumah sakit tempat para korban kecelakaan beruntun tersebut dibawa. Mereka ingin memastikan kebenaran berita yang disampaikan oleh Nayra tentang kecelakaan yang menimpa Regina dan telah merenggut nyawanya tersebut.
Tak sampai tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Resta sudah memasuki area parkir rumah sakit. Ketiga orang tersebut segera bergegas keluar dari mobil dan berjalan menuju ke bagian resepsionis untuk menanyakan keberadaan korban.
Saat Rainer hendak bertanya, terdengar suara gaduh yang berasal dari arah sebelah tangga. Rainer langsung menoleh dan mendapati keberadaan Pram disana yang sedang memaksa untuk memasuki sebuah ruangan. Tak lupa juga sumpah serapah dan isakan tangis sempat didengar oleh Rainer.
Papa dan Resta ternyata juga melihat adegan tersebut. Bukannya mendekati Pram yang tengah mengamuk, papa justru mendekati Rainer.
"Sepertinya memang benar kecelakaan itu menimpa Regina, Rain," ucap papa sambil masih menatap ke arah Pram.
"Iya, Pa. Aku pastikan dulu kebenarannya," jawab Rainer.
Setelah itu, Rainer memutuskan untuk melanjutkan niatnya bertanya tentang korban kecelakaan tersebut. Dan, ternyata memang benar jika Regina dan managernya yang menjadi korban kecelakaan itu.
__ADS_1
Setelah memastikan kebenaran berita itu, Rainer, papa dan Resta langsung beranjak pergi dari rumah sakit tersebut. Namun, saat mereka bertiga hendak berjalan menuju tempat parkir, tiba-tiba sebuah panggilan ditujukan ke arah mereka.
"Heh, kalian! Berhenti!" teriak sebuah suara.
Seketika Rainer dan yang lainnya menghentikan langkah dan berbalik. Mereka melihat Pram yang tengah menatap tajam ke arah mereka. Jangan lupakan ekspresi bengis langsung terlihat dari wajah laki-laki tersebut.
"Apa yang kalian lakukan, hah?!" Lagi-lagi Pram berteriak sambil berjalan menghampiri Rainer. "Sudah puas kalian membuat hidup kami menderita?! Sudah puas kalian membuat anakku seperti ini?!" ucap Pram dengan tatapan marah. Langkah kakinya panjang-panjang menuju ke arah papa Rainer.
Ketiga orang yang melihat kedatangan Pram, masih diam menunggu apa yang akan laki-laki itu lakukan. Mereka tahu akan sangat percuma dan membuang tenaga jika mereka meladeni tingkah Pram yang seenaknya begitu.
"Apa-apaan ini, Pram! Lepasin papa gue!" Rainer langsung mencengkram lengan Pram dan menghempaskannya dengan kasar.
Tatapan mata Pram langsung menghunus tajam ke arah Rainer. Dia terlihat sangat marah menatap Rainer.
__ADS_1
"Kamu dan papa kamu harus merasakan apa yang aku rasakan. Aku tidak akan tinggal diam atas semua yang kalian lakukan terhadapku dan Regina!" ucap pram dengan mata berkilat marah.
"Kamu pikir kami yang menyebabkan anak kamu itu kehilangan nyawa? Cckkk, dasar siinting! Mikir itu pakai otak, jangan pakai dengkul!" Rainer tak kalah kesalnya. Dia benar-benar kesal saat Pram menuduhnya dan sang papa terlibat atas kematian Regina.
"Jika bukan gara-gara kalian menghentikan semua fasilitas Gina, dia tidak akan banting tulang seperti ini. Ini semua gara-gara kaliaaannn!" Pram masih menggila dengan tatapan marah ke arah Rainer dan papanya.
Ketika Rainer hendak menjawab ucapan Pram, papa Rainer langsung mencegahnya dan beringsut mendekat ke arah Pram.
"Dengar, Pram. Aku sudah berbaik hati dengan memberikan semua fasilitas kepadamu dan Regina. Tapi, aku tidak bisa lagi mentolerir tindakan kamu yang sudah berani membocorkan data perusahaan. Masih untung aku tidak mengambil tindakan dengan tingkah seenaknya yang kamu lakukan saat itu. Jadi, jangan lagi kamu mengusik keluargaku jika tidak mau menerima konsekuensinya," ucap papa Rainer dengan ekspresi tegas.
Bukannya takut, Pram justru semakin marah. Dia merasa tidak terima saat mendapati tuduhan seperti itu.
"Dengar William yang terhormat. Jika kalian memberikan bagian untuk mendiang istriku, aku juga tidak akan melakukan hal itu. Tapi kalian terlalu serakah hingga menguasai apa yang menjadi hak orang lain seorang diri. Jadi, jangan menyalahkan orang lain jika kalian mengalami kerugian." Pram masih tidak mau menyerah.
__ADS_1
Lagi-lagi Rainer hendak bersuara, namun papanya langsung mencegah.
"Kamu minta bagian untuk usaha yang kudirikan atas usahaku sendiri? Memangnya kamu siapa? Anakku?"