Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Penjelasan 2


__ADS_3

Felix mulai mengingat-ingat apa yang terjadi sekitar satu tahun yang lalu. Hotel, dan sebuah ikat rambut yang ditemukannya saat itu. Apakah ada hubungannya? batin Felix.


"Maksud kamu, apakah dia bekerja di hotel x?" tanya Felix yang sudah mulai panik.


"Iya, Mas." Agung menganggukkan kepala. "Rafika, Ibu kandung Finn dan Hendra, laki-laki itu memang bekerja di hotel x. Keduanya sudah hampir satu tahun bekerja di sana. Hanya saja, mereka tidak berada di posisi yang sama. Ibu kandung Finn, bekerja sebagai cleaning service, sedangkan laki-laki ini bekerja sebagai salah satu staf di bagian marketing," lanjut Agung.


"Mereka sudah cukup dekat sejak bekerja di hotel tersebut. Mereka berkenalan saat melamar pekerjaan di sana. Dan, sejak saat itu keduanya lumayan akrab."


"Hendra mengaku jika dia menaruh hati dengan Rafika ini. Dan, sepertinya Rafika juga merasakan hal yang sama. Namun, semuanya berubah sejak malam itu. Hendra mengaku, jika Rafika berubah menjadi pendiam sejak mendapat giliran shift malam pada hari itu."


"Awalnya, Hendra tidak menyadari jika ada yang tidak beres dengan Rafika. Namun, beberapa bulan kemudian, dia mengetahui jika Rafika sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dan, alasannya ternyata karena dia telah berbadan dua."

__ADS_1


"Hendra sempat marah dengan apa yang terjadi dengan Rafika. Namun, karena Rafika terus memohon untuk tidak mengusiknya, mau tidak mau Hendra menuruti permintaan Rafika. Dia membantu sebisa mungkin kebutuhan Rafika meski selalu ditolak."


"Hendra juga sempat meretas CCTV dan menyelidiki laki-laki yang bersama dengan Rafika malam itu. Dan, orang yang muncul adalah Mas Felix. Sejak saat itu, Hendra mulai menyelidiki Mas Felix. Dia ingin meminta tanggung jawab untuk Rafika."


"Rafika yang mengetahui hal itu, langsung melarang. Rafika bilang, malam itu bukan kesalahan Mas Felix sepenuhnya. Rafika bilang jika malam itu dialah yang sebenarnya memaksa Mas Felix 'melakulan itu' dengannya."


Kedua bola mata Felix langsung membesar setelah mendengar ucapan Agung. Dia benar-benar tidak mengerti maksud ucapan laki-laki itu.


Agung menghembuskan napas berat sebelum kembali bercerita. 


"Malam itu, sebelum Mas Felix kembali ke kamar dalam keadaan mabuk, sudah ada orang yang menyiapkan air minum yang sudah diberi obat pperrangsang. Entah apa maksud orang yang menyiapkan obat itu untuk Anda. Padahal, malam itu Anda sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri."

__ADS_1


"Rafika yang mendapat perintah untuk membersihkan kamar Anda, langsung bergegas ke sana dan mulai membersihkan kamar. Saat itu, dia tidak sengaja menumpahkan minuman yang berada di atas nakas. Dan sialnya, minuman itu masih menyisakan setengah. Entah bagaimana caranya dia bisa ikut meneguk sisa minuman itu dan membuat dia terkena efek obat yang sudah disiapkan untuk Anda."


"Dan, pada saat tubuh Rafika bereaksi karena obat itu, Anda datang dengan tubuh sempoyongan. Sepertinya, teman Anda hanya mengantar hingga depan pintu kamar hotel. Dia tidak ikut masuk sehingga tidak mengetahui ada Rafika di dalam sana."


"Entah apa yang terjadi selanjutnya, sepertinya Anda dan Rafika langsung mulai serang menyerang saat itu," ucap Agung sambil menatap Felix lekat-lekat.


Felix yang mendengar penjelasan Agung, hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Entah mengapa dia mendadak mendapatkan kilatan ingatan pada malam itu. Bukan tentang awal mula kejadian yang terjadi, tetapi justru kilatan ingatan yang muncul di kepala Felix adalah aktivitas panas dan menggebu.


Felix justru ingat bagaimana hebohnya seorang perempuan yang sedang duduk di atasnya sambil mendesis dan menghentak-hentakkan pinggulnya dengan keras.


Ingatan itu membuat Felix merasa panas dingin. Jantungnya mendadak berdegup kencang dan keringat dingin mulai keluar di pelipisnya. Felix benar-benar gelisah sambil lagi-lagi mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Astaga! Kenapa jadi ingatan itu yang muncul," ucap Felix frustasi.


__ADS_2