Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Perkara Susu


__ADS_3

Kedua bola mata Felix masih menatap selembar surat tersebut dengan tatapan nanar. Namun setelah itu, Felix segera tersadar. Dia langsung mengalihkan tatapannya pada bayi laki-laki yang tengah terlelap tersebut. 


Saat tatapan matanya menatap wajah bayi laki-laki tersebut, tiba-tiba ingatannya melayang pada sebuah foto yang terpasang di dinding ruang tengah rumahnya dulu. Dan, dia kembali teringat pada wajah yang ada di foto tersebut sekarang ada di depannya.


"I-ini anak siapa? Masa anak gue?" gumam Felix masih belum bergerak.


Perhatiannya teralihkan saat bayi laki-laki tersebut mulai bergerak. Tangannya bergerak-gerak gelisah hingga kedua mata mungil tersebut terbuka.


Merasa asing dengan tempat baru, bayi berusia tiga bulan tersebut semakin gelisah. Dan, puncaknya dia mulai melengkungkan bibirnya ke bawah. Tak menunggu lebih lama lagi, tiba-tiba suara nyaring tangisan bayi laki-laki tersebut langsung terdengar.


Tentu saja hal itu membuat Felix langsung kaget. Dia gelagapan dan bingung harus melakukan apa. Hal yang bisa dilakukan oleh Felix adalah mengangkat bayi tersebut beserta keranjangnya. Namun, hal itu tentu saja belum bisa membuat si bayi laki-laki tersebut berhenti mrnangis.


Wajah Felix langsung pucat. Dia bergerak gerak gelisah seperti hendak menimang bayi itu. Namun, tentu saja gerakan dan tingkah Felix benar-benar aneh. Bukannya tenang, hal itu justru membuat bayi tersebut menangis semakin keras.


Mendengar tangisan yang semakin kecang, Felix menjadi semakin gelisah. Dia juga khawatir jika tangisan bayi laki-laki tersebut mengganggu kenyamanan tetangga unit apartemennya. Mau tidak mau, Felix membawa bayi yang masih menangis kencang tersebut masuk ke dalam unit apartemennya.


Setelah di bawa masuk, apakah tangis bayi laki-laki tersebut berhenti? Dan, jawabannya adalah tidak. Bukannya berhenti menangis, namun bayi laki-laki tersebut justru menangis semakin kencang.


"Aduuhh, ini kenapa nangisnya semakin kenceng?" Felix tampak bingung. Dia bergerak-gerak gelisah sambil masih menggendong keranjang bayi tersebut.

__ADS_1


"Eh, biasanya dia akan berhenti nangis jika minum susu. Mana susunya?" Felix menurunkan keranjang bayi tersebut di atas sofa. Setelah itu, dia mulai mencari-cari botol susu atau perlengkapan minum bayi tersebut. Namun, yang ditemukan justru botol susu kosong yang ada di bagian samping tas yang berisi perlengkapan bayi.


Tentu saja hal itu membuat Felix gelagapan. Dia bingung harus melakukan apa. Susu bayi? Mana punya dia stok susu bayi. Jangankan susu untuk bayi, susu untuk dewasa pun Felix juga tidak punya. 🤧


"Aduuhh. Bagaimana ini? Gue nggak punya susu bayi lagi. Masa iya gue kasih jus jeruk. Apa tidak apa-apa bayi minum jus jeruk?" Felix masih berdiri dengan gelisah.


Namun, Felix mengurungkan niatnya memberikan jus jeruk karena takut si bayi tidak suka rasa jeruk.


"Apa gue kasih air putih saja, ya? Siapa tahu langsung diam. Kalau haus dikasih minum kan langsung diam," lagi-lagi Felix berasumsi sendiri.


Suara tangisan bayi tersebut masih terdengar dengan keras. Bahkan, suaranya terdengar melengking hingga terdengar ke unit samping apartemen Felix.


Felix segera beranjak menuju pintu dan melihat pada monitor siapa yang sedang berkunjung malam-malam begitu. Keningnya berkerut saat melihat seseorang yang tidak dikenalnya. Eh, atau mungkin belum.


Karena merasa tamu tersebut tidak berbahaya, Felix segera membukakan pintu. 


Ceklek.


Terlihat seorang perempuan yang sepertinya masih seusia anak sekolah.

__ADS_1


"Kamu siapa?" tanya Felix. "Ada perlu apa?"


Bukannya menjawab pertanyaan Felix, perempuan tersebut langsung melongokkan kepalanya ke arah dalam apartemen Felix.


"Itu anak kamu kenapa nangis kejer gitu, Om? Suaranya kenceng banget sampai ganggu konsentrasi belajar. Emang diapain, sih?" tanya perempuan tersebut.


Mendengar pertanyaan tersebut, tentu saja Felix merasa kesal. Memang apa yang dia lakukan sehingga membuat bayi laki-laki tersebut menangis? Gerutu Felix.


"Cckkk. Sembarangan. Gue nggak ngapa-ngapain." Felix menatap kesal ke arah perempuan tersebut.


Netra perempuan tersebut tertuju pada botol susu kosong yang sedang dibawa oleh Felix. Dia bisa menduga jika bayi tersebut haus.


"Oh, haus? Segera buatkan susu deh, Om. Kasihan sampai nangis kejer gitu."


Mendengar hal itu, sontak Felix teringat jika dia tidak memiliki susu. Eh, maksudnya susu untuk bayi lho, ya. Felix menjadi bingung harus melakukan apa.


"Ehm, sebenarnya gue nggak punya susu. Kamu punya?" tanya Felix kikuk. Entah mengapa pandangan matanya langsung tertuju pada bagian depan perempuan yang ada di depannya tersebut.


'Astaga! Tubuh kecil begitu bagaimana bisa punya 'sanggul dada' sebesar itu? 38D ini pasti.'

__ADS_1


__ADS_2