Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Ancaman Papa


__ADS_3

Papa Rainer masih menatap tajam ke arah Pram. Dia benar-benar kesal jika Pram sudah mengungkit-ungkit masalah harta. Mendiang istrinya, sudah mendapatkan bagian dari orang tua papa Rainer. Dan, semua itu juga sudah diambil alih oleh Pram.


Namun, memang Pram adalah orang yang tidak tahu diri. Dia menjual hampir semua aset milik mendiang istrinya, yang tak lain adalah warisan dari kakek Rainer. Pram hanya menyisakan rumah yang saat ini ditinggalinya dan sebuah unit apartemen yang ditempati oleh Regina. 


Awalnya, papa Rainer benar-benar kesal mengetahui hal itu. Namun, karena papa Rainer masih memikirkan pendidikan Regina saat itu, akhirnya beliau memberikan beberapa fasilitas kepada Regina. Namun ternyata, hal itu lagi-lagi disalahgunakan oleh Pram dan Regina.


Saat mengetahui tindakan Pram dan Regina, papa Rainer langsung menghentikan bantuannya. Dan, sejak saat itu Pram menjadi gelap mata. Dia mulai menghasut Regina agar mendekati Rainer. Pram tahu jika saat itu Rainer menaruh hati terhadap putrinya tersebut.


Beruntung saat itu niat Pram sudah diketahui oleh Rainer dan papanya. Dan, sejak saat itu Rainer mulai menjauhi dan menjaga jarak terhadap Pram dan Regina.


Papa Rainer yang masih melihat kemarahan pada wajah Pram, langsung kembali bersuara.


"Jika kamu masih sayang dengan hidupmu, jalani apa yang menjadi tanggung jawabmu. Tidak usah melihat hak orang lain yang bukan menjadi hak kamu. Dan ingat, sekali lagi kamu mengganggu keluargaku, aku tidak akan segan-segan melenyapkanmu hingga menyusul anakmu itu," ucap papa Rainer sambil mengacungkan jari telunjuk di depan wajah Pram.


Sepertinya, kali ini papa Rainer tidak akan tinggal diam. Sudah cukup beliau diam mendapati tindakan semena-mena dan seenaknya yang dilakukan oleh Pram tersebut.


Setelah memberikan peringatan, papa Rainer mengajak Resta serta Rainer untuk segera pergi dari rumah sakit tersebut. Sudah cukup bagi mereka mengetahui dan membuktikan sendiri berita tentang kematian Regina.


Pram mengepalkan kedua tangannya saat ketiga laki-laki tersebut pergi meninggalkannya. Rasa marah yang dirasakan oleh Pram sudah mencapai ubun-ubun. Dia benar-benar ingin sekali memberi pelajaran kepada keluarga William tersebut.


"Awas kamu William. Kamu, istri, serta anak kamu harus menerima balasan atas apa yang telah kamu lakukan," ucap Pram sambil menggertakkan gigi. 

__ADS_1


Pram berniat untuk kembali lagi ke dalam rumah sakit untuk mengurus pemakaman putrinya. Namun, langkah kakinya terhenti saat beberapa orang polisi menghampirinya. Dan, bisa ditebak apa yang akan para polisi itu lakukan? Ya, mereka membawa surat panggilan untuk Pram.


Pram tidak bisa berkutik saat para polisi tersebut menunjukkan surat panggilan kepadanya. Mau tidak mau Pram langsung ikut ke kantor polisi.


Sore itu, Rainer kembali ke rumah orang tuanya. Nayra yang sudah pulang dari kantor, langsung menyambut kedatangan suami dan mertuanya tersebut. 


"Bagaimana tadi, Mas? Apa semuanya lancar?" tanya Nayra saat membantu Rainer melepas kancing kemejanya. Hal itu biasa dilakukan oleh Nayra sekaligus untuk menjalin komunikasi dengan Rainer.


"Hhhmmm."


"Jadi ke rumah sakit?" 


Nayra cukup terkejut mendengar jawaban Rainer. Dia sedikit was-was jika sampai Pram berbuat sesuatu yang tidak-tidak kepada suami dan mertuanya itu.


"Dia tidak ngapa-ngapain kalian kan, Mas?" tanya Nayra sambil mengerutkan kening.


"Nggak. Dia bahkan tidak berkutik saat papa turun tangan."


Nayra mengangguk-anggukkan kepala. Dia merasa cukup lega setelah mendengar jawaban suaminya tersebut.


"Lalu, urusan di kantor polisi juga sudah beres, kan?"

__ADS_1


"Hhmmm. Pram juga sudah dijemput tadi."


"Eh, benarkah? Langsungan begitu?" tanya Nayra kaget. Dia berpikir jika akan perlu beberapa hari untuk memanggil Pram setelah laporan yang dibuat oleh Rainer terhadapnya. 


Ya, Rainer memang melaporkan Pram dan beberapa orang yang terlibat dengannya untuk melakukan tindakan yang berakibat pencemaran nama baik perusahaan. Beruntung Rainer mempunyai bukti yang cukup kuat untuk menyeret Pram ke pihak berwajib.


"Tentu saja. Jika bisa dilakukan dengan segera, ngapain harus menunggu lama," jawab Rainer sambil menatap wajah Nayra yang sedang membantunya melepaskan ikat pinggang.


Entah mengapa tiba-tiba Rainer merasakan sesuatu yang berdesir di bawah sana. Tak tanggung-tanggung sesuatu langsung membuat celananya mengetat di bagian bawah sana karena tak sengaja tangan Nayra sempat menyenggol bagian tersebut beberapa kali. Hingga akhirnya Rainer menghentikan gerakan tangan Nayra.


"Lepasnya di kamar mandi saja. Sekalian bantu mandiin. Tanganku capek seharian bekerja," ucap Rainer tanpa dosa.


Nayra yang kaget pun langsung mendongakkan kepala dan menatap wajah Rainer dengan mata terpicing.


"Memang kamu sibuk apa seharian, Mas? Bukannya tadi kamu hanya menjawab pertanyaan para wartawan?"


Mendengar hal itu, Rainer langsung mendengus kesal. Sambil menarik lengan Nayra menuju kamar mandi, Rainer menjawab pertanyaan istrinya tersebut.


"Tanganku kan capek pegang mikrofon dan nyetir."


Adakah yang percaya dengan ucapan Rainer? Cung dulu ☝️

__ADS_1


__ADS_2