
Aktivitas yang dilakukan oleh Nayra dan Rainer di dalam kamar mandi, ternyata memakan waktu lebih dari tiga puluh menit. Tak sampai disitu, setelah selesai membersihkan diri, Rainer langsung membawa Nayra kembali ke kamar. Dan, bisa dipastikan apa yang dilakukan oleh Rainer kepada Nayra.
Setelah kelelahan karena mendapat serangan bertubi-tubi dari sang suami, Nayra akhirnya terkapar. Dia langsung terlelap setelah keduanya menyelesaikan pergumulan yang entah sudah mencapai ronde ke berapa.
Rainer yang melihat sang istri sudah terlelap, langsung beranjak memesan makanan online. Perutnya sudah meronta-ronta minta di isi.
Menjelang pukul tiga sore, makanan pesanan Rainer baru datang. Rainer segera menyantap makanan tersebut dengan lahap. Maklum, waktu makan siangnya sedikit terlambat karena aktivitasnya bersama dengan Nayra.
Belum selesai Rainer menyantap makan siangnya, terdengar suara ponselnya berbunyi. Ponsel Rainer yang berada di depannya, langsung di raih. Begitu memastikan siapa yang menghubungi, Rainer langsung menyambungkan panggilan telepon tersebut.
"Hhmmm," sapa Rainer begitu panggilan telepon terhubung.
"Rain, lo sudah dengar kabar apa belum?"
"Kabar apa?"
"Cckkk. Lo pasti belum dengar. Heran, deh. Setelah menikah, sepertinya lo sering sekali ketinggalan berita. Ngapain aja sih kerjaan lo?"
"Berisik. Lo niat nggak sih kasih tau ada berita apaan, Lix. Jika nggak, gue matiin telponnya." Rainer sudah menggerutu kesal karena sang sahabat tidak segera memberitahu kabar yang dimaksud. Ya, sore itu, Felix lah yang sedang menghubungi Rainer.
__ADS_1
"Nggak sabaran banget sih, lo." Felix terdengar berdecak kesal di seberang sana. "Gue baru ketemu Dewa. Dia mendapat informasi jika Adinawa Group dan Hadiwijaya Group akan melakukan pernikahan bisnis. Lo tahu maksudnya kan?" lanjut Felix.
Rainer menghentikan aktivitas makannya. Dia kembali fokus pada suara Felix di ponselnya.
"Pernikahan bisnis? Maksud lo, salah satu anggota keluarga mereka akan menikah?"
"Hhmmm."
"Tunggu, Hadiwijaya? Maksud lo, keluarga Bastian Hadiwijaya?"
"Yups."
"Sepertinya begitu. Setau gue, Hadiwijaya hanya mempunyai dua orang anak. Bastian dan Edgar. Edgar masih SD atau SMP mungkin. Jadi, kemungkinan besar memang Bastian yang akan menikah."
Rainer mengangguk-anggukkan kepala. Dia mulai bisa menebak kemana alur cerita ini akan bermuara.
"Sepertinya, mereka bekerja sama untuk melebarkan sayap di bidang properti," ucap Rainer.
"Sepertinya memang begitu. Lo yakin mau melepas daera barat, Rain?" tanya Felix.
__ADS_1
"Gue nggak melepas, Lix. Tapi untuk saat ini, gue fokus di bagian timur dulu. Disana banyak banget potensi wisata. Jika kita bisa ikut terlibat di dalamnya, tidak menutup kemungkinan kita bisa mendapatkan pasar."
Felix mengangguk-anggukkan kepala. Dia cukup setuju dengan apa yang disampaikan oleh Rainer.
"Gue setuju dengan lo, Rain. Lalu, bagaimana lo bisa ngatasin dua perusahaan itu?"
"Kita ikuti saja alur yang mereka buat. Setidaknya, kita sudah maju dua langkah di depan mereka. Gue nggak terlalu ambil pusing dengan hal itu. Dengan adanya pernikahan bisnis itu, gue bisa sedikit lebih tenang," jawab Rainer.
Kening Felix berkerut. Dia yang melakukan panggilan suara, tidak bisa melihat ekspresi yang ditampilkan oleh sahabat sekaligus atasannya tersebut.
"Sedikit bernapas lega? Maksudnya apa?" tanya Felix bingung.
Rainer mendesahkan napas berat sebelum menjawab pertanyaan Felix.
"Jika Bastian menikah, gue bisa sedikit lebih tenang karena istri gue nggak ada yang gangguin," jawab Rainer.
"Astaga! Gue nggak menyangka lo jadi sebucin ini sama istri lo, Rain," ucap Felix sambil tergelak.
"Berisikkkk."
__ADS_1