
Nayra langsung menoleh ke arah Rainer untuk mengkonfirmasi apa yang baru saja dilihatnya.
"I-ini kan Pak Pram?" ucap Nayra sambil menatap ke arah Rainer.
"Hhhmmm."
"Kok bisa dia makan bareng dengan Pak Haryadi?"
"Itulah yang jadi pertanyaan. Kamu tahu, perusahaan kita sedang ada proyek dengan perusahaan Pak Haryadi. Dan, kita juga sudah dua kali meeting dengan mereka. Tapi, minggu lalu mereka membatalkan rencana kerjasama tersebut. Menurut kamu, apa ada kemungkinan Pram ikut terlibat di dalamnya?" tanya Rainer.
Nayra tampak memikirkan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan Rainer.
"Entahlah, Mas. Aku juga tidak tahu. Tapi, kita tidak bisa menuduhnya tanpa bukti yang jelas. Memang benar mereka pernah bertemu. Tapi, kita tidak tahu pertemuan mereka untuk apa. Siapa tahu jika mereka memang ada keperluan lain." Nayra mencoba berpikir realistis.
Mendengar jawaban Nayra, Rainer lalu menceritakan apa yang diketahuinya dari Felix. Mulai dari rencana yang akan direncanakan oleh Pram dan Regina untuk balas dendam, hingga rencana mengambil alih perusahaan.
Awalnya, Nayra tidak sependapat dengan apa yang diucapkan oleh Rainer. Namun, setelah Rainer menunjukkan beberapa bukti lain dari ponselnya, Nayra menjadi percaya.
"Kok bisa sih, Mas? Apa yang membuat mereka sangat berambisi dengan perusahaan papa?"
"Entahlah. Mungkin, mereka berpendapat jika mereka punya bagian di perusahaan papa."
"Papa sudah tahu hal ini, Mas?"
__ADS_1
"Hhhmmm. Papa juga sudah mulai mengantisipasi hal ini."
"Kok aku nggak tahu, Mas. Kamu nggak cerita, ih." Nayra mengerucutkan bibir kesal sambil menatap tajam ke arah Rainer.
"Bukannya tidak mau ngasih tahu, tapi aku juga baru tahu hal ini."
Nayra mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia beranjak untuk melanjutkan aktivitasnya berganti baju. Rainer yang melihat hal itu, hanya bisa menelan salivanya. Tidak mungkin jika dia menerkam Nayra lagi. Mereka harus makan malam dulu.
Setelah Nayra siap, kali ini Rainer dan Nayra memutuskan untuk makan malam di luar. Mereka memutuskan untuk makan malam di warung makan pinggir jalan yang terletak tak jauh dari kontrakan Nayra dulu.
"Yakin mau makan malam disini, Mas?" tanya Nayra meyakinkan.
"Hhmmm. Kamu nggak percaya aku mau makan malam di tempat seperti ini?" Rainer menoleh ke arah Nayra dengan tatapan kesal.
"Ehm, aku kangen nasi goreng yang biasa kamu bawakan," jawab Rainer sambil memalingkan wajah. Entah mengapa wajahnya terasa panas.
Mendengar jawaban sang suami, Nayra hanya bisa melongo. Setelahnya, dia hanya bisa tertawa terbahak-bahak mendengar mendengar jawaban suaminya tersebut.
Rainer langsung menoleh. Meskipun merasa malu, namun dia cukup kesal melihat Nayra menertawakannya.
"Kenapa menertawakanku?" Rainer menggerutu kesal.
"Hahahaha, maaf, Sayang. Aku hanya tidak menyangka jika kamu masih ingat rasa nasi goreng Bu Maryam," jawab Nayra sambil masih tertawa. Dia tidak sadar jika memanggil Rainer dengan panggilan 'sayang'.
__ADS_1
Namun, hal lain justru dirasakan oleh Rainer. Setelah tadi merasa kesal karena diledek oleh sang istri, namun sekarang dia cukup senang dengan panggilan tersebut. Tanpa sadar, bibir Rainer senyum-senyum sendiri.
Nayra yang masih meredakan tawanya, langsung menoleh saat melihat Rainer senyum-senyum.
"Eh, a-ada apa? Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Nayra setelah berhasil menghentikan tawanya.
Bukannya menjawab pertanyaan Nayra, Rainer justru memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah Nayra. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Nayra. Tentu saja hal itu membuat Nayra menjadi panik.
"Eh, ma-mau apa?"
"Aku suka panggilan itu. Mulai sekarang, panggil aku begitu."
"Hah, pa-panggilan yang mana?" Otak Nayra terasa blank karena intimidasi Rainer. Namun, beberapa saat kemudian, dia baru menyadari kelemesan mulutnya. Nayra sadar sudah memanggil Rainer dengan panggilan 'sayang'.
Setelah ingat, entah mengapa wajah Nayra langsung terasa panas. Dia benar-benar merasa malu telah keceplosan.
"Ehm, ma-maksudnya 'sa-sayang'? cicit Nayra.
"Hhhm panggil aku begitu," jawab Rainer sambil semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Nayra.
Ketika jarak antara bibir keduanya semakin dekat, tiba-tiba terdengar ketikan dari arah luar mobil Rainer.
"Pak, jangan meshoomm disini!"
__ADS_1
"Eh,"