Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Makan Siang


__ADS_3

Mendengar ucapan laki-laki tadi, membuat Resta, Rainer serta papa terlihat terkejut. Mereka tidak menduga jika akan terjadi kecelakaan di depan mobil mereka.


"Apa kecelakaannya parah?" tanya Resta.


"Lumayan, Pak. Mobil putih dihantam dari arah kanan dengan kecepatan penuh saat menerobos lampu merah. Satu orang pengemudi dan satu orang penumpang di mobil putih langsung meninggal di tempat. Saat ini, jenazah keduanya sudah dibawah ke rumah sakit," jelas laki-laki tadi.


"Lalu yang dua lagi?"


"Seorang pengemudi mobil hitam yang menabrak mobil putih langsung meregang nyawa. Satu lagi seorang laki-laki yang sepertinya agak mabuk dan berhenti di depan zebra cross langsung tertabrak. Tadi, masih bisa teriak-teriak saat dibawa ambulance. Semoga masih bisa tertolong," ucap laki-laki tersebut.


Baik Resta maupun Rainer langsung mengangguk mengerti. Resta mengucapkan terima kasih dan memberikan selembar uang berwarna biru sebagai ucapan terima kasih karena telah membantunya mencari jalan.


Saat mobil yang dikemudikan Resta berbelok dan melewati mobil yang baru saja mengalami tabrakan tersebut, Rainer sempat melihat ke arah mobil yang sudah benar-benar ringsek itu. Rainer langsung teringat dengan mobil yang selalu dipakai oleh Regina.


'Ah, mobil seperti itu kan banyak. Lagian, kalau pun dia yang mengalami kecelakaan, aku juga sudah nggak mau ambil pusing', gumam Rainer dalam hati.


Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Resta sudah memasuki area parkir sebuah restoran. Rainer, Papa dan juga Resta harus berlari-lari kecil untuk menghindari hujan yang masih mengguyur cukup deras tersebut. Mereka terpaksa berlari-lari kecil menuju restoran karena tidak ada payung dalam mobil.


Setelah sampai di dalam restoran, Resta langsung memesan tempat VIP untuk mereka. Kebetulan, masih ada tempat untuk mereka yang belum melakukan reservasi sebelumnya. Tak perlu menunggu lama, sajian makan siang mereka sudah diantar. Karena sudah sama-sama lapar, mereka bertiga langsung menyantap makan siang mereka.

__ADS_1


Sesekali mereka bertiga mengobrol tentang masalah pekerjaan. Resta dengan penuh semangat menjawab dengan baik apa yang menjadi tugasnya.


"Bagus. Aku bangga dengan kinerjamu, Ta. Meskipun masih muda, tapi kinerja kamu patut diacungi jempol," ucap papa Rainer sambil mengangkat jari jempolnya.


Resta menyunggingkan senyum bahagia sambil menganggukkan kepala.


"Terima kasih, Tuan. Berkat Tuan, Pak Rain, dan perusahaan saya bisa berada di titik ini," jawab Resta sambil menatap kedua atasannya tersebut dengan penuh haru.


"Meskipun begitu, kinerja kamu harus ditingkatkan. Setelah ini, mungkin kerjaan kamu akan lebih berat," ucap Rainer kemudian.


Kening Resta berkerut. Dia belum mengerti maksud ucapan Rainer.


"Semakin berat? Maksudnya apa, Pak? Apakah pekerjaan saya selama ini masih kurang berat hingga saya harus bersiap-siap lagi?" tanya Resta dengan ekspresi polosnya.


"Aku berencana menarik Nayra di perusahaanku. Jika saat itu tiba, kamu harus menghandle semuanya sendiri," ucap Rainer.


Kedua bola mata dan mulut Redta langsung terbuka dengan lebar. Dia cukup terkejut mendengar ucapan atasannya tersebut.


"Eh, serius, Pak? Mbak Nayra akan pindah?"

__ADS_1


"Hhmmm."


"Kenapa, Pak? Bukannya Mbak Nayra banyak dibutuhkan di kantor?" tanya Resta.


Lagi-lagi, Rainer menoleh ke arah Resta dengan tatapan menusuk. Dia terlihat sangat kesal setelah mendengar ucapan Resta.


"Ccckkkk. Aku yang lebih membutuhkan Nayra bukan kantor." Rainer menggerutu kesal.


Mendapati jawaban ketus Rainer, Resta menjadi salah tingkah. Dia cukup mengetahui sebucin apa atasannya tersebut terhadap sang istri. Meskipun terlihat sangat dingin, tapi Resta bisa menebak jika atasannya tersebut sangat panas di atas ranjang.


"Ma-maaf, Pak. Maksud saya bukan begitu, tadi." Resta langsung menggelengkan kepala. Dia tidak mau ucapannya akan menjadi sabit yang akan menebas lehernya nanti.


Belum sempat Rainer menyahuti ucapan Resta, ponselnya yang berada di sebelah kiri Rainer berbunyi. Rainer melirik nama yang tertera pada layar dan segera menyambungkan panggilan.


"Hhmmm?" sapa Rainer.


"Mas, kamu dimana? Sudah dengar kabar apa belum? Regina dan sekretarisnya meninggal dunia karena kecelakaan."


"Eh?"

__ADS_1


Kasih kata-kata dong🤭


….


__ADS_2