Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Dari Siapa?


__ADS_3

Rainer langsung terdiam saat mendengar ucapan Nayra. Dia baru menyadari apa yang telah diucapkan mulut lemesnya tersebut.


"Memangnya kenapa jika honeymoon? Kamu nggak mau?" Bukannya menjawab, Rainer malah balik bertanya.


"Cckkk. Nggak mau. Mau ngapain pakai honeymoon segala. Orang kita juga nggak bakal ngapa-ngapain, kan?" Entah mengapa Rainer mendengar nada kesal dari suara Nayra.


"Memang kamu sudah siap di apa-apain?" tanya Rainer.


"Diapa-apain? Maksudnya bagaimana itu?"


"Ya, itu. Di meg-meg, di bolak-balik, sama ditusuk-tusuk," ucap Rainer tanpa dosa.


"Pak Rain mau buat sate? Jangan bilang habis itu mau dikipas-kipas dan ditiup-tiup?!"


Sontak saja Rainer langsung mendengus kesal. "Cckkk. Cakep-cakep begini dibilang mau buat sate. Tapi nggak apa-apa sih jika dagingnya kamu ini."


Nayra semakin kesal karena obrolan unfaedah tersebut. Dia harus buru-buru mematikan panggilan telepon tersebut sebelum Si Hujan semakin merajalela.


"Sudah, sudah. Tutup dulu teleponnya," ucap Nayra.


"Hhhmm."


Setelahnya, Nayra segera menutup panggilan telepon Rainer. Jika diteruskan, sudah bisa dipastikan omongan Rainer tidak akan ada habisnya. Setelah itu, Nayra baru melanjutkan aktivitasnya yang terhenti.


Tak sampai satu jam kemudian, Rainer benar-benar sudah kembali. Nayra cukup terkejut saat tiba-tiba Rainer sudah pulang ketika dia sedang membereskan peralatan dapur yang dipakainya untuk memasak tadi.

__ADS_1


"Lho, kok sudah pulang?" tanya Nayra sambil berjalan menghampiri Rainer.


Bukannya menjawab pertanyaan Nayra, Rainer langsung mengulurkan tangan kanannya.


"Salim dulu," ucap Rainer. Nayra menatap uluran tangan tersebut dan meraihnya. 


Melihat hal itu, entah mengapa Rainer jadi senyum-senyum sendiri. Ternyata, tingkah Rainer tak luput dari perhatian Nayra.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?"


"Memang kenapa? Nggak boleh senyum, begitu? Mulut-mulutku sendiri," jawab Rainer sambil berjalan menuju ruang makan.


Nayra yang melihat hal itu langsung mencebikkan bibir.


Mau tidak mau, Rainer mengurungkan niatnya menuju ruang makan. Dia berbalik dan beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri sementara Nayra menyiapkan makan siang untuk Rainer.


Tak berapa lama kemudian, Rainer sudah keluar dari dalam kamar. Dia juga sudah mengganti bajunya dengan baju rumahan yang sudah disiapkan oleh Nayra. Rainer segera bergegas menuju ruang makan. Perutnya benar-benar kelaparang sejak tadi.


"Segini cukup?" tanya Nayra sambil menunjukkan nasi yang diambilkannya untuk Rainer.


"Hhmm."


Setelah mengambilkan makan siang dan memberikannya kepada Rainer, Nayra hendak meninggalkan Rainer kembali ke dapur. Dia masih memiliki banyak cucian panci dan piring kotor yang belum selesai di cuci.


"Mau kemana?" tanya Rainer sambil menoleh.

__ADS_1


"Cuci piring."


"Duduk dulu. Temani makan." Rainer menggerakkan kepalanya menunjuk sebuah kursi yang ada di depannya.


Jika sudah seperti itu, mau tidak mau Nayra hanya bisa menuruti ucapan Rainer. Dia akan menunggu Rainer selesai makan siang.


Tidak ada obrolan yang terjadi selama Rainer makan. Nayra hanya bisa diam sambil menggerutu dalam hati. Mau pergi pun Rainer pasti tidak akan mengizinkan.


Hingga sebuah suara pesan masuk pada ponsel Nayra yang ada di sampingnya terdengar. Nayra buru-buru mengambil ponsel tersebut, dan langsung membukanya. Keningnya berkerut saat mendapat pesan dari Aaron.


Bisa kita bertemu nanti sore? - Aaron.


Nayra merasa heran saat membaca pesan Aaron. Namun, dia harus segera membalas pesan Aaron tersebut. Ketika dia sedang fokus mengetik, tiba-tiba Rainer bertanya.


"Dari siapa?" tanya Rainer sambil menatap ke arah Nayra.


Nayra mendongakkan kepala. Dia mengamati ekspresi Rainer saat itu.


"Aaron. Teman yang kebetulan kemarin bertemu."


Prakkk.


\=\=\=


Apa itu?

__ADS_1


__ADS_2