Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Kabar Felix


__ADS_3

Dua hari berlalu sejak pesta resepsi pernikahan Rainer dan Nayra di gelar. Kini, Rainer dan Nayra sudah kembali ke kantor seperti biasa. Selama dua hari ini, Nayra merasakan perbedaan suasana kantor. Banyak karyawan yang berubah menjadi kikuk dan canggung saat berbicara dengan Nayra.


Tentu saja Nayra mengetahui apa yang menyebabkan hal itu. Meskipun begitu, berulang kali Nayra mengatakan untuk bersikap biasa saja kepada teman-temannya. Namun, tetap saja teman-teman Nayra tersebut masih terlihat sungkan.


Siang ini, Nayra berkesempatan untuk makan siang bersama dengan Linda dan beberapa orang temannya. Rainer ada pekerjaan yang harus diselesaikan dengan Felix sejak pagi. Jadi, Nayra bisa bernapas sedikit lega saat tidak harus menuruti beberapa permintaan yang sedikit aneh dari Rainer.


Menjelang makan siang, Resta sudah memberikan beberapa file yang harus Nayra periksa sebelum diserahkan kepada Rainer.


"Ini sudah semua?" tanya Nayra.


"Sudah, Mbak. Dan, ini juga ada poin tambahan sesuai permintaan Pak Rain." Resta menunjukkan beberapa poin tambahan yang dimaksud kepada Nayra.


Kening Nayra berkerut saat membaca poin tersebut. Namun, dia akan mengkonfirmasi langsung kepada Rainer nanti. Setelah kepergian Resta, Nayra bergegas menghampiri Linda dan teman-teman lainnya yang sudah menunggu di ruangan depan. Mereka berjanji untuk makan siang bersama di sebuah kafe baru tak jauh dari kantor.


Setelah meminta izin kepada Rainer, Nayra langsung mengambil dompetnya. Dia segera bergegas menuju ruang depan. Disana, sudah ada Linda, Mega, dan juga Ayu yang sudah menunggunya.


"Sudah lama? Maaf membuat kalian menunggu," ucap Nayra sambil berjalan menghampiri ketiga sahabatnya tersebut.

__ADS_1


"Santai saja bu Boss. Kami selalu siap setia menunggu, kok," ucap Londa sambil tersenyum nyengir.


Tentu saja hal itu membuat Nayra mencebikkan bibir. Dia tidak suka jika ada yang memanggilnya seperti itu.


"Iishh, kamu ngomong apa sih, Lin? Sudah, ayo kita berangkat."


"Siaapp." Ketiganya menjawab dengan kompak.


Setelahnya, Nayra dan teman-temannya langsung berangkat untuk makan siang. Sementara itu, di sebuah ruang meeting, Rainer tampak menatap layar laptopnya dengan ekspresi serius. Felix yang sejak tadi berada di sampingnya, bahkan tidak berani bersuara. Jika Rainer sedang dalam mode serius seperti itu, tidak ada yang berani mengganggunya. Bisa-bisa, orang yang sudah berani mengganggunya akan terkena amukan.


"Ini serius Dewa yang kirim?" tanya Rainer setelah beberapa saat kemudian.


"Kok lo bisa nggak ngomong ke gue, Lix?" Rainer menoleh dan menatap tajam ke arah sang sahabat sekaligus asistennya tersebut.


Bukannya takut, Felix hanya mencebikkan bibir. 


"Cckkk. Jangan salahkan gue jika lo telat dapat informasi. Setelah acara resepsi pernikahan, siapa yang sama sekali tidak mengaktifkan ponsel? Bahkan, ponsel Nayra pun tidak bisa di hubungi. Heran deh, pengantin baru semangat amat genjotannya," ucap Felix sambil mencibir ke arah Rainer.

__ADS_1


Apakah Rainer merasa malu dengan ucapan Felix? Oh, tidak. Justru Rainer langsung menoleh dan menjawab ucapan Felix dengan ekspresi bangganya.


"Emang apa salahnya gue melakukannya. Orang sama istri sendiri. Beda ceritanya jika melakukannya dengan istri orang lain."


Felix langsung mencebikkan bibir dan mendengus kesal. Dia merasa kesal kepada Rainer. Bukannya merasa malu, justru Rainer merasa sangat bangga. 


Felix hanya bisa misuh-misuh setelah mendengar ucapan Rainer.


"Makanya, jika mau nyaingin gue, segera nikahin tunangan lo tuh. Lama banget anak orang nggak segera dinikahin. Lo kira enak, anak orang hanya dibawa kesana kemari nggak di nikah-nikahin?"


Mendengar ucapan Rainer, Felix urung marah. Dia hanya bisa mendesahkan napas beratnya.


"Gue, sepertinya gagal nikah deh, Rain?" ucap Felix sambil mendesahkan napas berat. Dia juga langsung menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Bahunya juga nampak luruh.


Tentu saja ucapan Felix tadi membuat Rainer kaget. Dia langsung menoleh dan menatap tajam ke arah Felix.


"Lo serius? Kenapa lo nggak jadi nikah? Jangan bilang lo sudah bosan karena tunangan lo sudah nggak 'menggigit' lagi?"

__ADS_1


"Eh, maksud lo apa?"


Opo sih, Rain??


__ADS_2