Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Mendengar Penjelasan


__ADS_3

Nayra masih menatap tangannya yang ditarik oleh Rainer. Mereka berjalan cepat menuju tempat mobil Rainer terparkir.


"Masuk!" ucap Rainer. 


Rainer yang sudah membuka pintu mobil bagian penumpang, langsung menoleh dan menatap tajam ke arah Nayra. Mau tidak mau, Nayra hanya bisa menuruti ucapan Rainer. Dia berjalan mendekati pintu mobil dan menyelinap masuk ke dalamnya.


Rainet menutup pintu dengan sedikit lebih keras. Setelah itu, dia berjalan ke arah kemudi dan langsung membuka pintunya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rainer langsung masuk dan menyalakan mobil tersebut.


Nayra masih diam tak bersuara. Dia benar-benar bingung harus melakukan apa. Bahkan, untuk bersuara pun Nayra terlihat kesulitan. Dia takut jika bersuara, Rainer akan semakin marah.


Diam-diam, Nayra melirik ke arah tangan Rainer yang sedang mencengkram kemudi erat-erat. Bahkan, jari-jari tangan Rainer terlihat memutih saking kencangnya dia mencengkram kemudi. Nayra hanya bisa menggigiti bibir bawahnya karena cemas.


Hingga beberapa menit kemudian, Rainer lebih dulu bersuara saat mobil yang dikemudikannya berhenti di lampu merah.


"Dari mana kamu mengenal laki-laki itu?" tanya Rainer.


Seketika Nayra menolehkan kepala. "Eh, ma-maksudnya Aaron?" tanya Nayra memastikan.


Rainer menoleh dengan kening berkerut. "Jadi laki-laki yang kamu maksud Aaron itu dia?" Bukannya menjawab, Rainer justru balik bertanya.

__ADS_1


Nayra yang masih bingung, hanya bisa menganggukkan kepala.


"I-iya, Mas. Mas Rain kenal dengan Aaron?"


Rainer hanya bisa mendengus kesal setelah mendengar pertanyaan Nayra. Dia tidak menjawab sampai menjalankan kembali mobilnya saat lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.


"Bastian Aaron Hadiwijaya. Atau lebih dikenal dengan nama Bastian Hadi. Dia adik kelasku dulu saat masih sekolah," ucap Rainer tiba-tiba.


Kedua bola mata Nayra langsung membulat. Dia menoleh ke arah Rainer dengan menggeser tubuhnya hingga kini miring ke arah Rainer.


"Jadi, Mas Rain sudah kenal dengan Aaron?"


"Awalnya, aku tidak terlalu melihat jelas wajah laki-laki yang bersamamu saat di pesta dulu. Aku pikir, dia orang lain. Tapi, aku tidak menyangka jika laki-laki itu adalah Bass."


"Jika kamu bertanya apa aku mengenal laki-laki itu? Jawabannya adalah iya. Aku memang mengenalnya. Kami, mengenalnya dengan nama Bastian Hadi. Saat masih sekolah, dia juga sering dipanggil dengan sebutan Bass."


Nayra hanya mengangguk-anggukkan kepala. Setelah mengetahui kenyataan jika Rainer mengenal Aaron, tidak serta merta menjawab rasa penasaran Nayra. Dia cukup penasaran kenapa Aaron tidak suka dengan Rainer. Atau, itu hanya asumsinya saja? batin Nayra.


"Eh, a-apa Mas Rain punya ma…," belum sempat Nayra menyelesaikan pertanyaannya. Rainer sudah lebih dulu bersuara.

__ADS_1


"Iya. Aku memang pernah ada masalah dengan Bass. Dan, aku akan menjelaskan hal itu kepadamu. Tapi, aku minta setelah kamu mendengar semua ceritaku, jangan pernah lagi berhubungan dengan Bastian. Mengerti?" Rainer menoleh dan menatap tajam ke arah Nayra.


Mau tidak mau, Nayra hanya bisa menganggukkan kepala. Tentu saja dia tidak berani membantah Rainer dalam situasi seperti ini.


Dan setelah itu, tidak ada obrolan yang terjadi hingga mobil Rainer mulai memasuki lobi hotel yang sempat digunakan untuk acara perusahaan beberapa minggu yang lalu. Kening Nayra berkerut saat Rainer mengajaknya turun dari mobil.


"Kenapa kesini?" tanya Nayra bingung.


"Nanti siang ada janji dengan klien di sini," jawab Rainer santai sambil menarik lengan Nayra menuju bagian resepsionis.


"Selamat pagi, Pak Rain. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang resepsionis begitu melihat kedatangan Rainer.


"Kamar biasa dan jangan lupakan makan siang," ucap Rainer sambil menarik lengan Nayra menjauh dari resepsionis tanpa menunggu jawaban.


Nayra hanya bisa pasrah saat tangannya masih ditarik oleh Rainer. Namun, saat keduanya hendak memasuki lift, ada sepasang mata yang melihat Nayra dan Rainer. Apalagi, saat tangan keduanya masih bertautan.


"Apa-apaan itu?" ucapnya geram.


•••

__ADS_1


Sabar ya, ngetiknya masih kabur-kaburan dari kerjaan di real life. 


__ADS_2