Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Kemana Mereka Pergi?


__ADS_3

Rainer balas menatap ke arah sang mama. Entah mengapa dia cukup yakin dengan keputusan yang akan diambilnya.


"Bukankah Mama ingin aku segera menikah, kan? Aku akan menikahi Nayra." ucap Rainer sambil menatap ke arah sang mama.


Saat itu, bukan hanya mama Rainer yang terkejut. Namun, Nayra pun juga merasakan hal yang sama. Dia langsung menoleh ke arah Rainer dengan tatapan tidak percaya.


Sebenarnya, dalam hati, mama Rainer sudah bersorak kegirangan. Namun, dia ingin sedikit membuat Rainer lebih serius dengan ucapannya. Syukur-syukur dia akan mempercepat niatannya itu. Mengingat bisa saja ada sesuatu yang akan membuat Rainer mengurungkan niatnya.


"Apa maksud kamu, Rain? Kamu serius ingin menikahi Nayra?" tanya Mama Rainer dengan ekspresi sedikit meremehkan.


Entah mengapa Rainer merasa cukuo yakin dengan keputusannya. Dia langsung menganggukkan kepala dengan mantab.


"Iya, Ma. Aku akan menikahi Nayra," jawab Rainer dengan penuh keyakinan. Namun, dia melupakan satu hal. Rainer belum menanyakan niatnya itu kepada Nayra.


"Kamu yakin Nayra akan mau menerima kamu sebagai suaminya? Kalau Mama yang jadi Nayra, sudah pasti Mama akan menolak kamu sebagai suaminya." Mama Rainer sedikit mencibir ke arah sang putra.

__ADS_1


Mendengar ucapan mamanya, sontak saja Rainer langsung tersentak kaget. Rainer menatap ke arah mamanya dan Nayra bergantian.


"Me-memangnya kenapa?" Mendadak nyali Rainer menjadi ciut.


"Cckkk. Kalau Mama jadi Nayra, Mama tidak akan mau menerima laki-laki yang tidak mau jujur dan mengakui perbuatannya. Perempuan itu suka dengan laki-laki gentle, Rain. Selain itu, Mama juga nggak mau Nayra menikah dengan kamu." Mama Rainer menatap tajam ke arah sang putra.


Kedua bola mata Rainer dan Nayra langsung membulat dengan sempurna setelah mendengar ucapan Rainer. Rainer sama sekali tidak menyangka jika mamanya akan mengucapkan hal seperti itu.


"Ma," Rainer tampak hendak protes. Namun, ucapannya terhenti saat tiba-tiba sang mama berdiri. Mama Rainer langsung menarik tangan Nayra dan mengajaknya beranjak dan keluar dari kamar hotel.


"Eh, ke-kemana, Nyonya?" Nayra yang masih bingung pun hanya bisa berjalan mengikuti langkah kaki mama Rainer.


"Kita harus bersiap. Besok sore, kita harus segera berangkat ke Australia."


Rainer masih bisa mendengar jelas ucapan sang mama. Jantungnya mendadak berdetak sangat kencang. Kedua bola matanya membulat dengan sempurna. Dia bingung harus melakukan apa.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian, Rainer baru tersadar. Dia buru-buru beranjak keluar dari kamar kedua orang tuanya. Rainer ingin mengejar Nayra dan mamanya. Namun, dia sudah terlambat. Nayra dan mamanya sudah terlebih dahulu masuk ke dalam lift.


"Sialaann!" Rainer hanya bisa memukul-mukul dinding.


Dia harus bersabar dan menunggu lift berikutnya untuk bisa mengejar Nayra dan mamanya. Sambil menunggu, Rainer mencoba menghubungi Nayra. Namun, panggilan teleponnya tidak terhubung. Rainer baru ingat jika dia sudah mematikan ponsel Nayra. Double kesal deh jadinya.


Mama Rainer langsung menemui sang suami dan mengatakan jika dia akan pulang lebih dahulu. Mama Rainer menjelaskan secara singkat rencananya. Dan, ternyata sang suami juga setuju. Setelah itu, mama Rainer mengajak Nayra segera pergi dari hotel tempat diselenggarakannya acara kantor tersebut.


Rainer yang sudah berhasil mendapatkan lift, langsung keluar begitu sampai di lobi. Dia yakin jika mamanya itu akan membawa Nayra pergi. Rainer berniat mengejarnya. Namun, lagi-lagi dia terlambat.


"Kemana mereka pergi?" Rainer hanya bisa meraup wajahnya dengan kasar. Entah mengapa dia menjadi panik dan kalut seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya?


\=\=\=


Ada apa dengan Rainer? 🤔

__ADS_1


__ADS_2