Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Nayra Semakin Cantik


__ADS_3

Tak lama, Nayra dan Rainer sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Setelah bersiap-siap, keduanya langsung berangkat menuju sebuah restoran yang sudah dijanjikan oleh sang mama.


"Mama dan papa sudah datang, Mas?" tanya Nayra sambil melepaskan seatbelt. Mereka baru saja tiba di restoran yang sudah dijanjikan.


"Sudah. Mama sudah menunggu kita."


Nayra mengangguk dan segera membuka pintu mobil. Tidak ada yang berubah dari sikap keduanya meskipun sudah menyandang status sebagai suami istri. Rainer tetap bersikap sama seperti saat sebelum menikah dengan Nayra. Pun, hal yang sama juga dilakukan oleh Nayra.


Mereka tidak biasa menunjukkan sisi romantis di depan umum. Bahkan, hanya untuk bergandengan tangan pun tidak mereka lakukan. Tapi, hal itu akan berbeda jika mereka sudah berada di rumah. Rainer tidak akan canggung-canggung lagi untuk menunjukkan apa yang diinginkannya kepada Nayra.


Setelah keluar dari mobil, keduanya langsung bergegas untuk memasuki restoran. Rainer yang sudah mengetahui meja yang telah dipesan oleh sang mam, langsung berjalan kearahnya dan diikuti oleh Nayra.


Kening Nayra berkerut saat di kejauhan dia melihat seseorang yang sangat tidak asing baginya. Bahkan, tadi siang pun mereka juga sudah bertemu.


"Ma," ucap Rainer sambil menghampiri sang mama dan memberikan pelukan kecil.


"Kalian sudah datang," ucap mama Rainer sambil bergantian memeluk Nayra.

__ADS_1


Hal yang sama juga dilakukan oleh Rainer dan Nayra kepada sang papa. Setelah itu, baru mereka mengambil tempat duduk yang berada di samping sang mama.


"Kak, apa kabar?" tanya seseorang begitu Rainer dan Nayra sudah menempati kursi mereka masing-masing.


"Baik," jawab Rainer singkat. Bahkan, dia tidak menoleh ataupun menyapa.


Nayra yang mengetahui tingkah Rainer pun hanya bisa melirik sekilas ke arah sang suami. Disaat bersamaan, tatapan mata Nayra bertemu dengan sepasang mata yang mengawasinya dengan tajam. Namun, Nayra terlihat biasa saja. Bahkan, dia melengkungkan senyuman untuk menyapanya.


"Mbak Regina apa kabar? Kita bertemu lagi," ucap Nayra sambil masih mengulas senyuman.


"Baik." Mau tidak mau, Regina terpaksa menjawab sapaan Nayra. Dia tidak mau dianggap tidak sopan di depan orang tua Rainer.


"Pak Pram, lama tidak bertemu. Apa kabar?" sapa Nayra pada laki-laki yang mendekati usia setengah abad tersebut.


"Baik, Nay. Lama tidak bertemu. Ternyata, semakin hari kamu terlihat semakin cantik saja," jawab Pram sambil diiringi kekehan tawa.


Belum sempat Nayra menanggapi ucapan Pram, Rainer sudah lebih dulu bereaksi. Dia menggebrak meja dengan sedikit lebih keras. Tatapan mata tajamnya langsung menghunus ke arah Pram yang cukup terkejut dengan sikap Rainer.

__ADS_1


"Jangan bicara sembarangan, Om. Aku tidak suka jika Om menggoda Nayra." Rainer langsung memprotes ucapan Pram.


Nayra yang duduk di samping Rainer, merasa cukup khawatir saat melihat ekspresi Rainer. Dia buru-buru menenangkan Rainer dengan cara mengusap-usap bahu sang suami.


"Sudah, Mas. Pak Pram hanya bercanda tadi." Nayra berbisik di dekat telinga Rainer.


Melihat kedekatan Nayra dan Rainer, tentu saja hal itu membuat rasa penasaran Pram dan Regina.


"Om hanya bercanda, Rain. Jangan terlalu posesif sama sekretaris kamu. Jika ada yang melihat, mereka bisa salah paham dengan tingkah kamu," ucap Pram sambil masih mengamati interaksi Rainer dan Nayra.


"Apa peduliku dengan tanggapan orang lain? Selama aku tidak mengusik urusan mereka dan mereka juga tidak mengusikku, aku tidak peduli. Satu yang aku pedulikan adalah kenyamanan orang tua dan istriku," ucap Rainer sambil masih menatap tajam ke arah Pram.


Sontak saja ucapan Rainer membuat Pram dan Regina terkejut.


"I-istri? Kamu sudah menikah, Kak?"


•••

__ADS_1


Kira-kira, bagaimana tanggapan Regina dan ayahnya saat mengetahui jika Rainer dan Nayra sudah menikah ya?


__ADS_2