
Mama yang mendengar ucapan Rainer langsung geram. Dia benar-benar kesal dengan putranya tersebut.
"Mulutmu, Rain! Mama ngomong apa kamu nyambungnya apa. Sudah, sudah. Malam ini, Nayra mama bawa pulang. Dia akan menginap di rumah mama. Awas kalau kamu sampai ikut." Mama Rainer benar-benar kesal.
Mendengar ucapan sang mama, tentu saja Rainer menjadi kalang kabut. Dia yang selama ini selalu tidur sambil nempel-nempel pada tubuh Nayra, tentu saja langsung protes.
"Mana bisa begitu, Ma. Nayra kan istriku, sudah seharusnya dia pulang ke rumahku. Mama jangan aneh-aneh, ya." Suara Rainer terdengar kesal di telinga sang mama.
"Biarin. Biar kamu tau rasa sudah berani membuat Nayra nangis. Sudah, mama tutup dulu teleponnya."
__ADS_1
Tut.
Rainer bahkan belum sempat membalas ucapan sang mama, panggilan telepon tersebut sudah terputus. Rainer benar-benar kesal dibuatnya. Ingin sekali dia mengumpat karena mamanya itu berbuat seenaknya saja.
"Siialan! Ngapain juga mama harus kesini segala, sih?! Itu Nayra juga ngapain pakai nangis segala?" Rainer mengusap wajahnya dengan kasar. Siang itu, dia benar-benar kesal.
Sepanjang sisa hari itu, Rainer hanya bisa uring-uringan. Dan alhasil, Resta lah yang jadi bulan-bulanan Rainer. Hampir semua pekerjaan yang dilakukan oleh Resta selalu salah dimata Rainer. Bahkan, hanya karena kopi buatan Resta, Rainer bisa sangat marah.
Sore itu, Rainer bergegas kembali ke penthousenya. Awalnya, dia ingin langsung ke rumah orang tuanya untuk menjemput Nayra. Namun, sang mama mewanti-wanti Rainer untuk tidak melakukan niatnya tersebut.
__ADS_1
Rainer yang masih tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Nayra, hanya bisa pasrah menuruti permintaan mamanya tersebut. Dengan langkah gontai, Rainer berjalan menuju tempat dimana mobilnya terparkir.
Dengan malas, Rainer mulai menjalankan mobilnya untuk keliling sebentar. Entah mengapa pikirannya menjadi tidak karuan. Biasanya, dia akan merasa tenang-tenang saja saat pulang karena ditemani oleh Nayra. Atau paling tidak, akan ada Nayra yang menunggunya di rumah.
Namun, sore ini rasanya cukup berbeda. Rainer terlihat sangat malas untuk pulang. Dia mulai membayangkan hidup tanpa Nayra disampingnya. Entah mengapa baru sekarang Rainer menyadari dirinya tidak bisa jika tidak ada Nayra disampingnya.
Ketika tengah fokus pada jalanan di depannya, Rainer tidak menyadari jika tiba-tiba ada sebuah mobil yang berbelok dari arah kanan dan mengikutinya. Awalnya, Rainer mengira jika mobil tersebut hanya mobil biasa. Namun, saat Rainer berbelok, mobil tersebut juga mengikuti kemana mobil Rainer pergi.
Rainer sedikit menancapkan gas mobilnya untuk menghindari kejaran mobil yang ada di belakangnya tersebut. Namun, hal itu tidak serta merta berhasil. Mobil tersebut juga sama-sama menancap gas untuk mengejar mobil Rainer.
__ADS_1
Hingga saat mobil Rainer tiba di sebuah jalan yang cukup lurus, Rainer semakin menambah kecepatan mobilnya. Namun rupanya, mobil yang ada di belakang Rainer berhasil mengejarnya. Mobil tersebut berhasil mensejajari mobil Rainer.
Dan, tanpa aba-aba, mobil yang mengejar Rainer tersebut langsung banting stir ke kiri hingga membentur mobil Rainer. Rainer kehilangan keseimbangan hingga membuat mobilnya berbelok ke kiri dan langsung menabrak sebuah pohon di pinggir jalan. Kecelakaan pun tak dapat dihindari.