Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Usaha Felix


__ADS_3

Citra yang saat itu sedang memegang kaos Finn dan hendak menjemurnya, langsung menoleh ke arah Felix dan tidak sengaja menjatuhkan kaos Finn saking terkejutnya. Kedua bola mata dan mulut Citra langsung terbuka setelah mendengar ucapan Felix yang tiba-tiba tersebut.


"Ka-kawin? A-apa maksud Om? Jangan aneh-aneh ya," cicit Citra panik. Dia bahkan langsung beranjak mundur sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Entah mengapa otaknya langsung traveling begitu mendengar kata kawin keluar dari bibir Felix.


Begitu menyadari kesalahan pemilihan kata, Felix langsung buru-buru menjelaskan.


"Eh, bu-bukan begitu. Maksudku, nikah. Iya, nikah. Bukan kawin yang 'itu'." Felix langsung meralat ucapannya. Entah mengapa dia mendadak gugup sehingga antara otak dan mulutnya tidak sejalur.


Kening Citra masih berkerut. Dia benar-benar belum bisa mencerna apa maksud ucapan Felix tersebut.


"Ini maksudnya apa ya, Om? Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Om Felix ucapkan."


Felix tampak frustasi. Dia sendiri masih bingung dengan apa yang baru saja diucapkannya. Felix mencoba menenangkan diri sebelum berbicara kembali dengan Citra.


"Kamu selesaikan dulu jemur baju Finn. Setelah ini, kita bicara. Aku tidurkan Finn dulu," ucap Felix sambil menatap Citra dengan tatapan serius.

__ADS_1


Mau tidak mau, Citra hanya bisa menganggukkan kepala dengan penuh tanda tanya. Dia kembali melanjutkan aktivitas menjemur baju setelah Felix berlalu dari sana.


Tak berapa lama kemudian, Citra sudah selesai. Dia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Entah mengapa tenggorokannya terasa kering. Padahal, Citra tidak melakukan aktivitas yang berat.


Sebenarnya, Citra masih khawatir dengan Felix. Dia terlihat enggan menghampiri Felix yang ternyata sudah menunggunya di ruang tengah dengan Finn sedang tidur di atas karpet di depannya. Ya, Felix memang menidurkan Finn di ruang tengah saat itu.


Citra terlihat ragu-ragu saat hendak berjalan menghampiri Felix. Namun, mau tidak mau dia tetap harus menghampiri papa Finn itu untuk meminta penjelasan apa maksud ucapannya tadi.


Felix yang menyadari jika Citra berjalan ke arahnya, langsung menoleh. Dia segera meletakkan ponsel yang sejak tadi dimainkannya ke atas meja. Felix pun bergeser untuk memberikan ruang bagi Citra agar duduk di dekatnya.


Dengan sedikit ragu-ragu, Citra memberanikan diri duduk di karpet dekat dengan ujung kaki Finn. Felix sendiri yang sudah bergeser hingga dekat kepala Finn, langsung beringsut hingga kini menghadap ke arah Citra.


Keduanya masih diam dan belum ada yang bersuara. Citra yang penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Felix, sementara Felix sendiri tengah berusaha mengatur detak jantungnya yang entah mengapa menjadi bertalu-talu.


Hingga beberapa saat kemudian, Felix memberanikan diri bersuara. Dia sudah menimbang-ninbang jika apa yang akan dibicarakannya dengan Citra kali ini, akan berdampak besar bagi kehidupan mereka berdua ke depannya.

__ADS_1


"Ehm, begini Cit. Apa yang akan aku bicarakan kali ini, mungkin akan membuat kamu terkejut. Tapi, aku minta jangan marah. Tolong pikirkan ini dulu baik-baik. Aku tidak memaksa dan tidak menuntut kamu untuk setuju untuk melakukannya. Tapi, setidaknya kamu bisa memikirkan ini untuk jangka waktu lama." Felix mencoba untuk membuka suara.


Citra yang masih diam mendengarkan ucapan Felix. Dia menatap laki-laki yang sedang duduk bersila di depannya itu sambil mengusap-usap kedua lututnya. Entah hal itu dilakukan untuk mengurangi kegugupan, atau memang ada yang salah dengan kedua lututnya itu.


"Maksudnya bagaimana ya, Om?" tanya Citra.


Setelah menghela napas panjang, Felix akhirnya kembali menjelaskan.


"Aku tau kamu sudah menganggap Finn seperti anak kamu sendiri. Meskipun kamu mengelak, tapi apa yang kamu tunjukkan saat Finn sakit kemarin tidak bisa dibohongi. Dan, aku sangat-sangat berterima kasih untuk perhatianmu itu pada Finn."


Felix menjeda ucapannya sebentar sebelum kembali melanjutkan.


"Seperti yang kamu ketahui, Finn sudah kehilangan ibunya. Dan, sebagai ayah yang baik, aku akan tetap mengusahakan yang terbaik untuk Finn termasuk mencarikan mama yang menyayanginya dengan sepenuh hati. Mama yang bisa menjadi tempat untuk Finn bermanja, berkeluh kesah nantinya, dan juga berbagi kebahagiaan. Dan, aku bisa melihat semua kriteria itu ada di kamu, Cit. Jadi, maukah kamu menikah denganku untuk menjadi mama Finn?"


Hhmmm, dijawab mau nggak ya kira-kira? 

__ADS_1


__ADS_2