
Setelah insiden tadi, Nayra langsung meminta Rainer pergi dari tempat tersebut. Nayra tidak ingin melanjutkan niatnya untuk makan malam di tempat tersebut karena sudah terlanjur malu.
"Kenapa harus pindah tempat, sih? Aku kan pengen makan nasi goreng di tempat tadi." Rainer masih menggerutu kesal karena keinginannya untuk makan nasi goreng gagal.
Nayra menolehkan kepala ke arah Rainer yang sedang fokus mengemudikan mobil.
"Masih mau makan di tempat tadi? Ya sudah, sana makan saja sendiri. Aku sing nggak mau. Sudah malu," ucap Nayra sambil mengerucutkan bibir.
Rainer menoleh sekilas sebelum kembali bersuara.
"Malu kenapa, sih? Yang tadi? Kan sudah aku jelaskan ke bapak-bapak tadi. Kita sudah menikah, jadi wajar dong jika mau civokan," ucap Rainer menggebu-gebu. Rupanya, dia masih menganggap apa yang terjadi tadi merupakan hal yang wajar.
"Wajar kamu bilang, Mas? Yang benar saja. Kalau di rumah sih nggak apa-apa. Lha ini, kamu mau main sosor saja di tempat umum." Nayra masih kesal dengan jawaban Rainer.
Belum sempat Rainer menyahuti ucapan Nayra, terdengar suara ponselnya berdering. Rainer langsung menyambungkan panggilan tersebut ketika mengetahui siapa yang sedang menghubunginya.
"Hallo, Ma."
"...."
"Iya, ini lagi di jalan sama Nayra."
"...."
"Belum, sih. Tadi, rencananya mau makan malam di luar. Eh, nggak taunya ada yang gangguin."
"...."
"Dimana?"
"...."
__ADS_1
"Baiklah. Kami akan langsung kesana."
Setelahnya, Rainer segera mematikan panggilan telepon dari mamanya tersebut. Nayra langsung menoleh begitu melihat Rainer selesai bertelepon.
"Ada apa, Mas?"
"Mama minta kita ikut makan malam bareng."
"Mama sama papa?"
"Hhhmmm."
"Memangnya mau makan malam dimana? Kita hanya pakai celana jeans dan kaos doang lho, Mas."
"Nggak apa-apa. Makan malam di restoran biasa, kok."
Nayra bisa sedikit lebih tenang setelah mendengar jawaban Rainer. Dia sempat panik tadi karena mengira salah kostum.
Mobil yang dikemudikan Rainer berhenti di sebuah perempatan dengan lampu merah sedang menyala. Nayra menolehkan kepala ke arah samping, tepat dimana sebuah mobil mewah berhenti di samping mobil Rainer.
"Lho, itu kan…," ucapan Nayra terhenti saat mobil yang berada di sampingnya tersebut berjalan.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Rainer. Sambil menjalankan mobilnya karena lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau, Rainer menoleh ke arah Nayra.
"Ada apa?" tanya Rainer penasaran.
"Mas, sepertinya tadi aku melihat seseorang, deh," jawab Nayra sambil masih mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Dia masih terlihat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Apa? Apa yang baru saja kamu lihat?"
Antara yakin atau tidak, Nayra tetap menyampaikan apa yang baru saja dilihatnya.
__ADS_1
"Lihat mobil yang tadi berhenti di samping kita nggak, Mas?" Bukannya menjawab, Nayra justru bertanya kepada Rainer.
"Nggak, sih. Memang ada apa? Kamu mau mobil seperti itu?" tanya Rainer yang masih belum mengerti maksud pertanyaan Nayra.
"Bukan, ih." Nayra langsung mendengus kesal. "Bukan itu, Mas. Tadi yang aku maksud orang di dalamnya."
"Memangnya ada apa? Kamu kenal?" tanya Rainer.
"Ehm, tadi sepertinya aku melihat Mbak Monic, Mas," ucap Nayra lirih.
"Eh, Monic? Tunangan Felix?" Rainer tampak terkejut.
"Iya. Wajahnya jelas sekali. Tadi, dia menghadap ke arahku."
"Kata Felix, Monic kan lagi di Manado. Ada pekerjaan dari perusahaan katanya." Rainer menjelaskan seperti ucapan Felix tadi siang sebelum pulang.
"Ehm, begitu, ya. Memang Mbak Monic masih jadi sekretaris Pak Robert?"
"Masih. Dan, dia juga pergi ke Manado untuk mendampingi atasannya itu," jawab Rainer.
Setelah mendengar ucapan Rainer, Nayra menjadi berpikir. Tadi, dia melihat dengan jelas wajah Monic yang sedang beradegan 'horor' dengan seorang laki-laki. Nayra sangat yakin jika wanita itu adalah Monic. Meskipun jendela mobilnya ditutup, namun jendela mobil yang ada di sebelahnya terbuka. Dan, lampunya kebetulan sedang dinyalakan. Jadi, Nayra bisa melihat dengan jelas wajah perempuan itu.
Untuk wajah laki-laki yang sedang menjadi drakula karena menghisap leher si perempuan, Nayra tidak bisa melihatnya. Posisi laki-laki tersebut membelakangi Nayra dengan wajah sudah berada di ceruk leher si perempuan.
Nayra masih sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak mendengar ucapan Rainer. Baru setelah Rainer menebuk pahanya, Nayra tersadar dan langsung menoleh ke arah Rainer.
"Eh, apa, Mas?"
"Apa, apa? Kamu nggak dengar tadi aku ngomong apa?" tanya Rainer kesal.
"Ma-maaf, Mas. Aku nggak konsen tadi," jawab Nayra merasa bersalah.
__ADS_1
"Kalau diajak ngobrol gini saja sering nggak konsen. Coba kalau di ajak masak-masakan sosis, pasti langsung full konsentrasinya."
"Ish. Itukan kamu, Mas."