
Setelah kembali ke ruangannya, Nayra masih memikirkan ucapan Linda. Dia mulai meraba-raba hatinya apa benar dia sudah mulai mencintai suaminya itu.
Nayra tidak menyangkal jika dia merasa kesal apabila melihat Rainer berbicara cukup intens dengan perempuan. Meskipun, dia sebenarnya tahu jika hal yang dibicarakan hanya sebatas pekerjaan.
Nayra juga merasa gelisah dan tidak nyaman jika tidak melihat Rainer. Seperti, ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya. Apalagi, aktivitas harian mereka yang sudah biasa dilakukan, akan sangat terasa janggal jika tidak dilakukan.
Dan, semakin lama memikirkan ucapan Linda, Nayra semakin yakin jika dia sudah mencintai suaminya itu. Sebuah senyuman langsung terbit di bibirnya. Nayra apa yang diucapkan oleh Linda ada benarnya. Dia tidak perlu khawatir untuk menyampaikan ungkapan cinta kepada suaminya. Toh, mereka juga sudah halal.
Sore itu, Nayra pulang bersama dengan Rainer. Tadi pagi, dia tidak membawa mobil ke kantor. Nayra memilih berangkat ke kantor dengan menggunakan ojek online.
"Nanti mampir belanja sebentar ya, Mas. Aku ingin membeli bahan-bahan dapur," ucap Nayra sambil berjalan menuju lift. Dia dan Rainer hendak turun menuju lobi.
"Hhmmm."
"Oh, iya hampir lupa. Besok ada undangan untuk menghadiri launching produk terbaru E.T. Mereka benar-benar mengharapkan kedatangan kamu, Mas. Produk mereka disukai pasar karena iklan yang perusahaan kita buat cukup menarik perhatian pasar."
__ADS_1
Rainer hanya mengangguk-anggukkan kepala. Nayra mencebikkan bibir saat mendapati respon suaminya hanya berupa anggukan kepala.
"Dijawab kek, Mas. Masa hanya diam gitu," gerutu Nayra saat keduanya sudah memasuki lift.
Rainer menolehkan kepala. Keningnya berkerut saat mendapati Nayra protes dengan sikapnya. Biasanya, Nayra jarang sekali protes.
"Kenapa? Biasanya aku kan juga begini." Rainer berkilah.
"Ya kalau begitu, mulai sekarang jangan dibiasakan, dong. Biasakan merespon ucapan orang lain. Lebih ekspresif lah. Jangan lempeng-lempeng begitu, ih." Nayra mencebikkan bibir kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Memang sudah dari sononya begini, Nay. Di suruh merubah bagaimana lagi?" tanya Rainer sambil melangkahkan kaki keluar dari lift.
Nayra tidak menyahuti ucapan Rainer. Dia hanya mengekori suaminya tersebut sambil sesekali menyapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Hingga tak berapa lama kemudian, Nayra dan Rainer sudah berada di dalam mobil. Mereka segera beranjak menuju ke sebuah minimarket. Rainer mengantarkan Nayra untuk belanja barang-barang kebutuhannya.
Kurang dari satu jam kemudian, mobil yang dikemudikan Rainer sudah sampai di sebuah minimarket. Nayra segera bergegas turun dari mobil dan diikuti oleh Rainer. Jangan harap ada adegan membukakan pintu mobil seperti ala-ala pemain sinetron yang romantis, sama sekali tidak ada.
__ADS_1
Nayra mengambil trolley dan berjalan menyusuri rak yang berisi bumbu-bumbu dapur. Rainer yang masih mengekori Nayra berinisiatif untuk mendorong trolley tersebut. Rainer mengekori Nayra berjalan kesana kemari untuk memilih bahan makanan yang akan diolahnya selama beberapa hari ke depan.
Rainer masih mengikuti Nayra hingga ke area sayur-sayuran. Saat Nayra mengambil brokoli, entah mengapa perut Rainer terasa diaduk. Dia benar-benar merasa geli dan ingin muntah saat melihat bentuk brokoli tersebut.
Secepat kilat Rainer langsung berbalik dan berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi di minimarket tersebut. Dia meninggalkan Nayra yang tengah kebingungan melihat tingkahnya.
"Mas! Mau kemana?" teriak Nayra yang sudah tidak digubris oleh Rainer.
Nayra buru-buru mendorong trolley tersebut dan berjalan mengikuti Rainer hingga berada di depan toilet. Tak berapa lama kemudian, Rainer keluar dari toilet dengan wajah kusut dan basah. Melihat penampilan Rainer, Nayra merasa semakin khawatir.
"Ada apa, Mas? Kamu sakit?" tanya Nayra sambil memeriksa kening dan leher Rainer. Namun, dia tidak merasakan perbedaan suhu tubuh Rainer dengan tubuhnya.
Belum sempat menjawab pertanyaan Nayra, kedua netra Rainer menangkap dua bongkah brokoli di dalam trolley Nayra. Seketika perutnya kembali terasa seperti di aduk-aduk.
Hooeekkk. Hoooeekkk.
__ADS_1
Nah, lho. Si Hujan mabok brokoli. 🥦🥦