
Sementara itu di kantor Rainer, dia sedang mengadakan pertemuan dengan klien. Saat itu, ada Nayra dan Resta yang juga menemani Rainer. Mereka sedang mengadakan meeting dengan perwakilan perusahaan properti yang cukup besar. Perusahaan itu diwakili oleh beberapa orang. Pak Hardi dan beberapa timnya, serta Mita, putri pemilik perusahaan properti tersebut.
Mita yang memang masih baru terjun di perusahaan keluarga, memang sering ikut saat perusahaannya mengadakan pertemuan dengan beberapa perwakilan perusahaan lain. Dan, kali ini dia berkesempatan untuk mengikuti pertemuan dengan perusahaan Rainer.
Sepanjang rapat tersebut, Mita tampak sangat antusias. Dia bahkan duduk sangat dekat sekali. Bahkan, Mita terlihat tebar pesona di depan Rainer. Nayra yang melihat hal itu merasa sangat kesal. Entah mengapa rasanya dia ingin sekali mencakar-cakar wajah perempuan yang sudah berani menempel-nempel pada suaminya tersebut.
Akhir-akhir ini, emosi Nayra benar-benar sulit dikendalikan. Dia bisa dengan mudah marah dan terharu dalam waktu berdekatan.
Nayra masih menatap tajam ke arah Rainer yang masih menanggapi ucapan Mita. Rainer tidak menyadari jika dirinya diawasi oleh Nayra.
"Rasanya berbeda sekali jika meeting dengan pemilik perusahaan langsung. Kami merasa sangat dihargai. Terima kasih, Pak Rain. Kami benar-benar puas hari ini," ucap Mita sambil mengulas senyum terbaiknya.
"Sama-sama, Bu." Rainer menjawab dengan ekspresi biasa saja. Bahkan, senyuman pun hanya ditampilkan sambil lalu.
"Kami sangat menyukai tawaran Anda, Pak Rain. Untuk pertemuan selanjutnya, kita bisa jadwalkan kembali awal bulan depan," kali ini Pak Hardi yang bersuara.
__ADS_1
"Tentu, Pak. Kami akan sangat senang sekali menunggu jadwal pertemuan kita selanjutnya," jawab Rainer.
Setelah berbasa-basi, Pak Hardi dan tim segera berpamitan. Tak lupa juga Mita sempat meminta nomor ponsel Rainer. Karena tidak ingin mempermalukan Mita, akhirnya Rainer memberikan nomor ponselnya.
Nayra bertambah semakin kesal saat Rainer bersikap manis kepada Mita. Biasanya, Rainer memang tidak terlalu menggubris perempuan yang berani menggodanya. Namun, entah mengapa kali ini dia merespon Mita.
Nayra langsung bergegas keluar dari tempat meeting tersebut tanpa berpamitan kepada Rainer maupun Resta. Dan, tingkah Nayra tersebut membuat Rainer dan Resta penasaran.
"Pak, ada apa dengan Mbak Nayra?" tanya Resta sambil membereskan berkas.
Resta hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, mereka bergegas menuju ruangan mereka masing-masing. Jam makan siang yang masih kurang satu jam lagi, membuat mereka harus kembali memeriksa pekerjaannya.
Rainer tidak mendapati Nayra di ruangannya maupun di ruangan Nayra sendiri. Namun, Rainer bisa menebak jika Nayra tengah pergi ke pantry. Biasanya, Nayra akan membuatkan jus untuknya siang-siang begini.
Namun, hingga menjelang makan siang, Nayra belum juga kembali. Rainer mendadak kesal karena istrinya tersebut juga tidak bisa dihubungi. Ketika Rainer hendak menemui Resta, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Terlihat nama sang mama di layar tersebut. Rainer segera menggeser ikon berwarna hijau untuk menyambungkan panggilan.
__ADS_1
"Hallo, Ma. Ada apa?" Sapa Rainer begitu panggilan telepon tersambung.
"Ada apa ada apa. Apa yang sebenarnya terjadi, Rain?" Suara mama Rainer terdengar meninggi di seberang sana.
Rainer yang bingung pun hanya bisa diam sambil mengernyitkan kening. Dia masih belum bisa memahami maksud ucapan mamanya tersebut.
"Maksud mama apa?"
"Maksud mama apa? Kamu bahkan tidak sadar telah membuat Nayra menangis sesenggukan begini? Untung tadi mama ke kantor dan melihat Nayra tengah menangis. Jika mama tidak kesini, mama pasti tidak tahu jika menantu mama tertekan."
Kedua bola mata dan mulut Rainer langsung membulat. Dia cukup terkejut setelah mendengar ucapan mamanya tersebut.
"Tertekan bagaimana, Ma? Kami bahkan tidak melakukan apa-apa di kantor. Dan, Nayra juga biasanya suka-suka saja saat aku tekan dalam-dalam. Bahkan, dia suka teriak-teriak heboh, Ma."
Sek sek Rain, iki mamamu ngomong apa, kamu jawabnya apa. Kurang minum ini. 🤧
__ADS_1