Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Puding?


__ADS_3

Citra yang mendengar ucapan Felix, langsung menoleh dan melayangkan tatapan kesal. Dia bahkan langsung meletakkan tumpukan jemuran yang baru saja diambil ke atas keranjang dengan kasar. Citra berjalan ke arah Felix yang masih tersenyum lebar tersebut.


"Apa tadi Om bilang?" tanya Citra sambil menahan kekesalannya. Citra yang masih kesal karena tindakan Felix tadi pagi yang sudah nyosor duluan, bertambah kekesalannya karena ucapan Felix yang ambigu tersebut.


"Emang aku bilang apa tadi?" Felix justru balik bertanya dengan tatapan polosnya. Hueekks. 


"Apa maksudnya tadi dengan Finn bagian atas dan om Felix bagian bawah? Om mau main rusuh-rusuhan?" Citra masih mendelik judes.


Bukannya takut, Felix justru malah senyum-senyum nyengir. 


"Rusuh-rusuh apa sih, Sayang? Kan wajar dalam keluarga itu berbagi. Tadi pagi aku kan sudah menawarkan jika kamu mau serius kita bisa langsung gas, kan. Aku bahkan nggak akan menolak sama sekali jika kamu ingin cepat-cepat aku halalin." Felix masih mengulas senyum ke arah Citra.


"Sayang-sayang. Enak saja panggil sayang-sayang." Citra masih kesal.


"Biar terbiasa, Sayang. Biar nggak canggung juga nanti. Jadi, segala sesuatu juga perlu latihan, kan?"


"Latihan? Latihan seperti apa maksud, Om? Yang seperti tadi?" 


"Tadi? Yang mana?" Felix mendadak bingung dengan apa maksud Citra.


"Om lupa? Sini, aku ingetin," jawab Citra yang langsung bergerak semakin dekat ke depan Felix. Dan, tanpa aba-aba Citra menarik tengkuk Felix agar sedikit lebih menunduk.


Tanpa menunggu protes Felix, Citra langsung membalaskan dendamnya tadi pagi. Secepat kilat Citra mellumat bibir Felix. Bahkan, Citra sempat menjjillat bibir papa Finn tersebut dengan lidahnya. Dan, setelah beberapa saat kemudian, Citra melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Itu sekalian balasan atas apa yang om Felix lakukan tadi pagi," ucap Citra setelah menegakkan tubuhnya.


Felix yang masih cukup terkejut, langsung mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya.


"I-itu tadi kamu cium aku, Cit?" tanya Felix masih tidak percaya.


"Cckkk. Emang nggak terasa, Om? Itu balasan tindakan om tadi pagi."


"Ya, terasa sih. Tapi masih kurang," jawab Felix dengan ekspresi tanpa dosa.


Citra mendelik judes ke arah Felix. Dia hendak pergi dari laundry room, namun seketika tangannya ditahan oleh Felix.


"Apa?" Citra menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Felix.


***


Sementara itu di rumah baru Nayra dan Rainer, mereka tengah bersiap makan malam. Asisten rumah tangga yang membantu mereka sudah pulang. Ya, Rainer dan Nayra memutuskan untuk mencari asisten rumah tangga yang bekerja hanya saat pagi hingga sore hari saja. Rainer tidak terlalu suka ada orang asing di rumahnya.


"Mau aku ambilkan apa, Mas?" tawar Nayra yang sudah siap dengan beberapa menu makan malam.


Rainer mengernyitkan kening sambil menggelengkan kepala. Dia masih merasa mual. Rupanya, Rainer masih merasa mual dan tidak enak badan saat malam menjelang.


"Aku mulai mual," ucap Rainer sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


Nayra mendesahkan napas beratnya. Dia mengira jika Rainer sudah tidak mual-mual lagi. Namun ternyata, dia salah. Rainer masih saja sensitif terhadap makanan.


"Tapi kamu belum makan, Mas."


Rainer menggelengkan kepala. Dia benar-benar tidak bisa makan makanan yang ada di depannya itu. Perutnya langsung merasa mual saat melihat jenis makanan-makanan itu.


"Aku mau jeruk saja," jawab Rainer sambil meraih buah jeruk dan beranjak dari ruang makan.


"Yakin mau jeruk saja, Mas? Ini makanannya bagaimana?" Nayra sedikit berteriak saat Rainer berjalan menuju ruang tengah. Dia langsung menyambar remote televisi dan menyalakannya.


"Kamu makan saja, Sayang. Aku benar-benar mual."


Nayra mendesahkan napas berat. Mau tidak mau, dia memakan makan malam itu sendirian. Beruntung tadi Nayra dan asisten rumah tangganya memasak dalam porsi sedikit meski ada beberapa menu yang dimasak.


Hingga beberapa saat kemudian, Rainer mendadak berdiri dari duduknya dan berjalan menuju meja makan dimana Nayra masih menyantap makan malamnya. Rainer mendadak ingin makan sesuatu setelah melihat tayangan iklan di televisi.


"Ada apa, Mas?" tanya Nayra.


"Aku sepertinya mau puding." 


"Eh, puding?" ulang Nayra sambil menoleh ke arah televisi yang sedang menyala. "Jangan bilang kamu ngidam ingin makan puding yang lagi viral di tok tak itu ya, Mas?"


Puding? Puding apa?

__ADS_1


__ADS_2