
Sepanjang siang, Nayra dan Linda saling bercerita. Bahkan, Nayra yang lebih banyak curhat tentang kehidupan rumah tangganya dengan Rainer. Linda yang sudah tahu sifat Rainer, berusaha menenangkan Nayra.
Hingga setelah makan siang, Linda segera berpamitan. Dia beralasan tidak mau bertemu dengan Rainer nanti jika suami Nayra tersebut pulang.
Dan, benar saja. Setelah tiga puluh menit Linda pulang, Rainer sudah pulang. Saat itu, Nayra yang sedang berada di laundry room hanya menoleh sekilas ke arah Rainer. Namun rupanya, saat itu Rainer tidak datang sendiri. Ada papa Rainer yang ikut datang.
Seketika Nayra langsung menghampiri sang mertua dan menyapa beliau.
"Mama nggak ikut, Pa?" tanya Nayra saat mendudukkan diri di samping Rainer. Mau tidak mau, Nayra harus terlihat biasa saja di depan papa mertuanya tersebut.
"Mama lagi menghadiri acara launching produk kosmetik temannya. Nanti sore minta jemput," jawab papa Rainer.
Nayra mengangguk-anggukkan kepala mengerti.
"Papa sudah makan siang?"
"Sudah, Nay. Suami kamu tadi sudah mengajak papa makan siang sekalian. Dia menolak makan siang di rumah karena tidak mau merepotkan kamu. Bahkan, hari ini pun dia deal proyek dengan rekannya juga sendiri karena tidak mau kamu terlalu capek katanya," ucap papa sambil beranjak berdiri menuju toilet.
Nayra sampai terkejut dengan apa yang diucapkan papa Rainer tersebut. Dia sama sekali tidak menyangka jika Rainer melakukan semua itu karena tidak mau dirinya terlalu capek. Entah mengapa perasaan Nayra menjadi melow.
__ADS_1
Seketika Nayra menoleh ke arah Rainer yang tengah duduk di sampingnya tersebut dengan tatapan berkaca-kaca. Bibirnya bahkan sudah melengkung ke bawah.
Rainer bukannya tidak menyadari jika Nayra sedang menghadapnya, namun dia pura-pura tidak menanggapi tindakan istrinya tersebut.
"Ma-masss?" suara Nayra yang sudah serak langsung mengagetkan Rainer. Dia tidak menyangka jika Nayra akan menangis saat itu juga.
Melihat tingkah Nayra, sontak Rainer langsung menoleh. Kedua bola matanya langsung membulat ketika melihat butiran air mata jatuh di kedua pipi Nayra tersebut.
"Nay, kamu kenapa?" tanya Rainer buru-buru. Dia bahkan langsung melepaskan tangannya dari ponsel dan menggeser tubuh mendekati Nayra. "Ada apa? Kenapa menangis?" lanjut Rainer.
Bukannya berhenti menangis, Nayra bahkan langsung memeluk tubuh suaminya tersebut dengan erat. Entah mengapa dia mendadak merasa bersalah dengan sikap kekanakan yang dilakukannya sejak semalam.
"Ada apa, hhmm? Kenapa menangis?" tanya Rainer dengan suara lembut.
Bukannya menjawab, Nayra hanya menggelengkan kepala. Dia masih terisak di dalam dekapan sang suami. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Rainer.
"Maaf, Mas. Maaf," ucap Nayra di tengah-tengah isak tangisnya.
"Sstttt. Maaf untuk apa? Kamu ngga salah apa-apa," jawab Rainer sambil kembali menghujami Nayra dengan beberapa kecupan.
__ADS_1
"A-aku kemarin diemin kamu. Hiks hiks hiks. Maaf."
"Nggak apa-apa. Aku juga salah kemarin mengeraskan suara. Maaf, Sayang." Rainer mengeratkan pelukannya lebih erat.
Nayra yang baru pertama kali mendengar panggilan sayang dari sang suami, mendadak melepaskan pelukannya dan mendongakkan kepala. Dia menatap wajah Rainer dengan deraian air mata. Entah mengapa hatinya langsung jumpalitan tidak karuan hanya dengan mendengar panggilan tersebut.
"Ta-tadi kamu bilang apa, Mas?" tanya Nayra sambil masih menatap wajah Rainer lekat-lekat.
Kening Rainer berkerut. Dia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Nayra.
"Apa? Yang mana?" Rainer justru balik bertanya.
"Yang tadi. Kamu ngomong apa?" ucapan Nayra terdengar mendesak.
Belum sempat Rainer menjawab, terdengar suara sang papa dari arah kamar mandi.
"Rain, nanti kamu saja yang jemput mama kamu, ya. Papa ngantuk mau tidur siang dulu."
Rainer dan Nayra sama-sama menoleh ke arah samping. Rainer langsung mendesahkan napas berat. Mau tidak mau, dia tetap harus menyetujui permintaan papanya tersebut.
__ADS_1