Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Minta Pijat


__ADS_3

Rainer sempat menoleh sekilas ke arah belakang. Dia tidak menjawab pertanyaan Nayra dan masih terus menarik tangan sang istri menuju sebuah kamar yang ternyata sudah disiapkan untuk mereka.


Klek. Pintu kamar tersebut terbuka. Nayra mengikuti langkah kaki Rainer yang membawanya memasuki kamar yang berbeda dengan kamar mereka tadi.


"Kamar siapa ini, Mas?" tanya Nayra saat mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar. Bukan kamar mewah atau suite yang sudah dihiasi dekorasi kamar pengantin, namun kamar yang mereka masuki adalah kamar dengan tatanan dan dekorasi standard hotel.


"Kamar kita." Rainer menjawab sambil melepaskan kancing jas pengantin yang dipakainya.


Kening Nayra berkerut dan kembali menoleh ke arah Rainer.


"Kamar kita? Kok pindah kesini, Mas? Kita kan sudah punya kamar sendiri tadi?" 


Rainer yang saat itu sudah mulai melepaskan kancing kemejanya, lantas menoleh dan berjalan mendekati Nayra.


"Jika kita kembali ke kamar tadi, mama pasti akan menyeret kita kembali ke acara pesta. Aku sudah capek berkeliling terus dari tadi. Badanku sudah pegal-pegal semua. Mau dipijit."


Nayra yang mendengar jawaban Rainer, sontak langsung membulatkan kedua bola mata dan mulutnya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan suaminya itu.

__ADS_1


"Cckkk. Apaan sih, Mas? Memang resepsi pernikahan kan seperti itu. Jadi, wajar bagi pengantin jika capek menyalami para tamu undangan," Nayra mencebikkan bibir sambil menatap kesal ke arah Rainer.


"Kita kan sudah menyalami semua tamu undangan yang hadir. Toh, acara juga tinggal ramah tamah. Jadi, meskipun kita tidak ada di sana, acara juga masih bisa berjalan."


Nayra hanya bisa memutar kedua bola matanya jengah. Rasanya, dia sudah cukup capek hari itu. Apalagi, jika harus ditambah berdebat dengan suaminya.


"Terserah deh, Mas. Aku mau mandi kalau begitu," ucap Nayra saat netranya menatap sebuah tumpukan baju tidur di samping paper bag. Nayra yakin, baju itu sudah disiapkan untuknya.


Sambil berjalan menuju meja rias, Nayra mengangkat baju pestanya dan berniat untuk membersihkan make up. Rainer yang melihat hal itu, langsung mengikuti Nayra di belakang dan mulai memainkan resleting gaun pengantin Nayra.


"Mau apa, Mas?" tanya Nayra sambil masih mengamati ekspresi Rainer.


"Mau apa? Tentu saja mau pijit," jawab Rainer sekenanya.


"Kamu mau mijitin aku, Mas?" Wajah Nayra langsung berbinar penuh semangat. Tubuhnya yang sudah terasa sangat lelah, benar-benar mendambakan pijatan.


"Cckkk. Nanti dulu. Aku yang mau pijit. Sudah kubilang jika badanku sudah pegal-pegal semua, kan? Aku mau dipijit," ucap Rainer sambil mulai menarik resleting gaun pengantin Nayra.

__ADS_1


Tentu saja tindakan Rainer tersebut membuat Nayra bingung. Jika tubuh Rainer merasa pegal-pegal, lantas mengapa dia harus mengganggunya seperti itu? batin Nayra.


"Jika kamu capek, kenapa harus menggangguku, Mas? Aku mau bersih-bersih dulu," kilah Nayra.


"Aku bantu biar cepat selesai."


"Nggak perlu. Nanti tambah lama, Mas." Nayra masih mencoba mengelak.


"Tidak akan lama."


Nayra memutar bola matanya dengan jengah. "Katanya kamu capek, Mas. Sudah, biar aku bersih-bersih sendiri saja."


"Nggak apa-apa. Aku ikhlas membantu kamu. Lagian, aku juga tidak bisa memijat sendiri. Aku butuh bantuanmu untuk memijatnya." 


Rainer semakin merapat pada punggung Nayra yang sudah terbuka dengan lebar karena resletingnya sudah diturunkan oleh Rainer. Jangan lupakan tindakan Rainer yang menggesek-gesekkan 'senapan alaminya' pada punggung polos sang istri. Tentu saja hal itu membuat tubuh Nayra meremang tidak karuan.


"Astaga, Mas! Jadi senapan kamu yang minta dipijat?!" 

__ADS_1


__ADS_2