Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Penasaran


__ADS_3

Felix yang masih terlihat tegang pun segera mengerjap-ngerjapkan kedua matanya saat mendengar tangisan Finn. Belum sempat Felix bersuara, Citra sudah secepat kilat berdiri dan berjalan tergesa-gesa menuju kamar Felix untuk menenangkan Finn.


"Hhhh. Apa benar mimpi malam itu benar-benar terjadi? Namun, jika memang benar terjadi, kenapa saat aku bangun tidak ada seorangpun di sana?" gumam Felix.


Entah mengapa ingatanya langsung tertuju pada peristiwa yang terjadi sekitar satu tahun yang lalu di Surabaya. Saat itu, Felix memang mendapatkan undangan untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan putri seorang manajer di perusahaannya.


Sebenarnya, Rainer juga mendapatkan undangan. Namun, dia tidak bisa hadir karena mamanya membutuhkan bantuan di Singapura. Alhasil, Felix harus datang sendiri.


Berhubung saat itu weekend, Felix memutuskan untuk tinggal lebih lama di Surabaya. Sekaligus untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya dari banyaknya pekerjaan.


Malam itu, Felix berniat untuk jalan-jalan di sekitar hotel tempatnya menginap. Namun ternyata, dia bertemu dengan salah seorang rekan bisnisnya. Edwin Nasution, nama rekan Felix tersebut.

__ADS_1


Mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah bar. Awalnya, Felix sempat menolak karena dia tidak ingin mabuk malam itu. Namun, setelah dibujuk beberapa kali, akhirnya Felix pun setuju.


Saat di bar, Felix sangat ingat dia tidak memesan minum minuman keras. Namun, entah mengapa dia menjadi tidak sadarkan diri. Dan, keesokan pagi dia sudah terbangun di dalam kamar hotelnya. Felix sama sekali tidak ingat apa yang telah terjadi malam itu. 


Namun, ada satu hal yang Felix rasa janggal setelah dirinya bangun pagi itu. Felix menemukan jepit rambut yang biasa dipakai oleh cleaning service di hotel tersebut. 


Awalnya, Felix tidak terlalu memikirkan hal itu. Namun, setelah adanya Finn, entah mengapa Felix menjadi berpikir yang tidak-tidak. Saat itu juga, Felix memutuskan untuk mulai mencari tahu siapa Finn sebenarnya. Terlepas dari apakah Finn anak biologisnya atau bukan, Felix tetap berjanji kepada diri sendiri untuk merawatnya.


Tak berapa lama kemudian, ternyata Citra keluar sambil menggendong Finn. Rupanya, bayi laki-laki tersebut tidak mau tidur lagi setelah terbangun tadi. Finn yang melihat Felix di ruang makan, entah mengapa langsung mengulurkan kedua tangannya untuk minta gendong. Refleks, Felix pun juga langsung menggendong Finn.


"Uuhh, anak papa kok nggak bobok lagi, mau main, hhmmm?" ucap Felix sambil memberikan kecupan bertubi-tubi pada pipi gembul Finn.

__ADS_1


Entah sadar atau tidak, Felix pun membiasakan diri untuk menyebut dirinya sendiri dengan panggilan 'papa'.


Karena Finn masih berusia tiga bulan, dia belum bisa menjawab ucapan Felix. Respon Finn hanya memukul-mukul pipi Felix sambil tersenyum cerah. Melihat senyuman Finn, entah mengapa Felix menjadi sangat bahagia. Dia merasa punya keluarga saat ini.


Citra yang melihat adegan ayah dan anak tersebut, langsung berinisiatif untuk membereskan sarapan mereka. Sementara itu, Felix segera beranjak menuju balkon untuk mendapatkan udara yang segar.


Ketika tengah membereskan meja makan, Citra kembali menimbang-nimbang tawaran Felix. Sebenarnya, dia cukup tertarik dengan tawaran itu. Dia bisa segera mengumpulkan uang untuk melanjutkan kuliahnya. Namun, ada sebagian hatinya yang masih ragu mengingat dia belum mengenal Felix. Apalagi, dengan adanya Finn, tidak menutup kemungkinan Felix akan juga menggodanya.


"Hhhh. Apa yang harus aku lakukan? Jika aku menerima tawaran itu, aku bisa menabung dengan lebih cepat. Namun, jika aku menerimanya, aku takut jika laki-laki itu akan menggodaku," gumam Citra.


Hingga beberapa saat kemudian, dia seolah tersadar dengan sesuatu.

__ADS_1


"Kenapa aku harus takut tergoda olehnya? Jika dia berani macam-macam, aku bisa saja melawannya. Hhmmm, ada untungnya juga aku pegang sabuk hitam taekwondo," gumam Citra kembali sambil mengulas senyumannya.


__ADS_2