Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Jangan Ditutupi


__ADS_3

Nayra memeluk tubuh Rainer dengan erat. Tubuhnya langsung mengejang dan bergetar dengan hebat saat sesuatu terasa meledak di bawah sana. Tubuh Nayra masih bergetar dan berguncang-guncang karena Rainer masih terus bergerak.


"Ma-massss." Nayra masih merengek sambil mencengkeram lengan Rainer dengan erat.


"Tahan dulu," ucap Rainer dengan suara serak tertahan.


Nayra yang merasakan sesuatu yang sensitif di bagian bawah tubuhnya, hanya bisa memeluk tubuh Rainer dengan erat. Beberapa menit kemudian, Nayra sudah mulai bisa merasakan sensasi lagi. Namun, rupanya Rainer belum cukup dengan apa yang sudah dilakukannya.


Rainer menghentikan gerakan pinggulnya dan seketika menekuk kedua kaki Nayra ke atas. Sontak saja hal itu membuat Nayra menjadi semakin panik.


"Eh, eh, Mas…," belum sempat Nayra menyelesaikan ucapannya, Rainer sudah mulai bergerak kembali. Kali ini, tekanan dan desakan yang diberikan oleh Rainer tidak main-main. Dia bahkan bergerak semakin aktif untuk mengejar suatu ledakan yang dirasakannya.


"Aaaahhh eehhmmm, Maassss." Nayra terus meracau sambil menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya memegang lengan Rainer dengan erat, sementara kepala Nayra menggeleng ke kiri dan ke kanan.


"Tahan dulu. Aku mau sampai," ucap Rainer dengan napas tertahan. Hal yang sama juga kembali dirasakan oleh Nayra.

__ADS_1


Gerakan keduanya semakin cepat. Kali ini, Nayra tidak hanya diam saja menerima perlakuan Rainer. Namun, dia juga mulai bisa mengimbangi gerakan Rainer meski masih terasa kesulitan.


Peluh Rainer dan Nayra pun sudah bercampur menjadi satu. Keduanya seakan berlomba untuk mengejar ledakan yang sudah sama-sama mendesak ingin dikeluarkan. Hingga, beberapa saat kemudian, Rainer menghentakkan pinggulnya dengan keras di bawah sana.


Rainer merasakan sensasi yang baru pertama dirasakannya. Dia merasakan miliknya berkedut dan terasa disedot dengan kuat di bawah sana. Rupanya, Nayra juga sudah merasakan hal yang sama seperti Rainer. Bahkan, tubuhnya bergetar hebat setelah ledakan yang dialaminya bersamaan dengan Rainer.


Rainer dan Nayra masih dalam posisi yang sama. Keduanya bahkan masih tidak bergerak untuk menikmati sisa-sisa pertempuran mereka. Hanya Rainer yang langsung ambruk di atas tubuh Nayra tanpa melepaskan sesuatu yang sedang mukbang di bawah sana.


Napas Nayra dan Rainer masih memburu. Mereka seolah berebut oksigen untuk memenuhi paru-paru mereka. Nayra bahkan bisa merasakan peluh Rainer yang menetes dan mengenai bahu kanannya. Keduanya masih diam tanpa bersuara.


Saat itu, Rainer benar-benar bisa melihat sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya. Tanpa sadar, Rainer menelan salivanya dengan keras. Meski usianya sudah cukup matang, namun saat itu adalah pertama kali bagi Rainer melakukan aktivitas 'ngebor' di atas ranjang. Dan, saat itu juga pertama kali bagi Rainer mengambil sesuatu yang paling berharga milik seorang perempuan.


Nayra yang saat itu masih diposisi yang sama seperti tadi, benar-benar merasa malu saat Rainer dengan penuh has srat menatap bagian bawah tubuhnya yang tengah terbuka lebar karena posisi kedua kaki Nayra masih di tekuk ke atas. Kedua mata Rainer bahkan sudah berkilat-kilat dengan bibir menyunggingkan senyuman. Jika dibiarkan terlalu lam, bukan tidak mungkin Rainer akan meneteskan air liurnya.


"Ma-maasss," Nayra merengek sambil hendak menutup kedua pahanya dari tatapan mata sang suami.

__ADS_1


Namun, usahanya tampak sia-sia saat Rainer seketika menahan kedua paha Nayra agar tetap terbuka.


"Jangan di tutupi. Biarkan dulu. Ada yang meluber keluar, tuh. Mau dibersihkan, nggak?" tanya Rainer sambil menatap wajah Nayra dengan penuh maksud.


"Eh, i-iya." Nayra mendadak gugup.


"Pakai jari, lidah, atau apa, nih?"


"Hah?"


***


Beribu-ribu maaf untuk reader yang sudah lama menunggu up. Mohon maaf karena ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan, othor baru bisa ngetik lanjutan cerita ini. 


Othor mengsedih sebenarnya lama ndak muncul disini. Maafkeun, 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2