
Meskipun kesal, Nayra terpaksa menuruti permintaan Rainer. Sebenarnya, Nayra sudah biasa menemani atasannya tersebut untuk menghadiri suatu acara atau undangan. Namun, tetap saja Nayra merasa jika disana dia pasti akan diam saja dan hanya mengekori Rainer.
"Cckkk, berasa jadi sekretaris Kim beneran ini mah. Tapi, kenapa nasibku nggak sebaik dia ya?" Nayra hanya mendesahkan napas berat sambil merapikan penampilannya.
Ya, saat ini Nayra tengah berada di sebuah butik. Rainer menolak permintaan Nayra untuk pulang dulu berganti baju. Rainer lebih memilih untuk membeli baju baru untuk mereka. Apalagi, acara nanti malam ada dress code nya, yaitu warna maroon. Dan, Rainer merasa tidak mempunyai kemeja berwarna itu.
Seperti biasa, Nayra akan memilih gaun yang paling murah namun tetap elegan. Apalagi, acara nanti malam adalah acara yang diselenggarakan oleh salah satu klien besar untuk RH. Tentu saja Nayra tidak boleh tampil asal-asalan.
Setelah memilih gaun yang sesuai, Nayra juga langsung berhias di butik tersebut. Rainer yang sudah cukup hafal dengan aktivitas Nayra, memilih menunggu di bawah sambil memainkan ponselnya.
Tak perlu menunggu lama, Nayra sudah bisa langsung siap kurang dari lima belas menit kemudian. Dia benar-benar bisa melakukan make up sendiri tanpa bantuan orang lain secepat itu.
Nayra berjalan pelan-pelan saat menuruni tangga. Sepatu heels yang dipakai Nayra lumayan tinggi. Jadi, dia harus berhati-hati ketika berjalan agar tidak tergelincir.
Nayra mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan sang atasan. Setelah menemukan keberadaan Rainer, Nayra segera berjalan mendekatinya.
"Pak, saya sudah siap," ucap Nayra ketika sudah berada di samping Rainer.
__ADS_1
Seketika Rainer mendongakkan kepala. Kedua bola matanya langsung melebar saat melihat penampilan Nayra. Entah mengapa, Rainer langsung kaget. Ini memang pertama kali bagi Rainer melihat Nayra menggunakan baju berwarna maroon. Dan ternyata, warna baju itu benar-benar pas untuk kulit Nayra yang putih.
Nayra kebingungan saat melihat Rainer yang masih diam menatapnya. Entah mengapa dia merasa pilihan bajunya saat itu tidak sesuai.
"Pak? Ada apa? Apa pilihan baju saya salah?" tanya Nayra kebingungan.
Rainer yang tersadar pun langsung mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Dia terpaksa harus berdehem beberapa kali untuk menghilangkan kecanggungan.
"Tidak. Sudah sesuai dengan dress code nya. Ayo, segera berangkat."
Tak ada obrolan yang terjadi ketika berada di dalam mobil. Rainer fokus pada jalanan di depannya, sedangkan Nayra tengah memainkan ponselnya.
Beruntung jarak butik dan tempat acara tidak terlalu jauh. Hanya memerlukan waktu sekitar lima belas menit, mobil yang dikemudikan Rainer sudah memasuki area parkir. Setelah memarkirkan mobil, Rainer dan Nayra langsung turun.
Seperti biasa, Nayra langsung menggandeng lengan Rainer saat berada di lokasi acara. Entah mengapa hal itu sudah refleks dilakukan oleh mereka. Rainer dengan otomatis menyodorkan lengannya, begitu pula Nayra juga langsung menggandengnya.
Rainer dan Nayra segera memasuki tempat acara. Ternyata, sudah cukup banyak tamu undangan yang hadir. Keduanya langsung diantar menuju tempat yang sudah disediakan.
__ADS_1
"Katanya masih soft opening, tapi ini sudah seperti grand opening saja," gumam Nayra saat berjalan menuju mejanya.
Rainer yang saat itu berada di samping Nayra, tentu saja mendengar ucapan sang sekretaris.
"Jangan samakan soft opening ini dengan acara lainnya. Tentu saja kelas mereka beda."
Nayra hanya bisa mencebikkan bibir sambil menatap ke arah sang atasan. Tak mau berdebat, Nayra lebih memilih diam dan mengikuti langkah kaki Rainer.
Tanpa di sadari, di seberang ada yang tengah menatap kedatangan dua orang tersebut. Sebuah senyuman terbit pada bibirnya.
"Cckkk. Masih saja datang barengan."
\=\=\=
Hhmmm, siapa sih itu?
Jangan lupa tinggalkan jejak untuk cerita ini ya. Bantu promosi juga biar banyak yang mampir 🤧
__ADS_1