
Felix mendengus kesal setelah mendengar ucapan Rainer.
"Cckkk. Apa-apaan itu? Emang serigala main gigit?" Felix mencibir ke arah Rainer.
Rainer hanya mengedikkan bahu sambil kembali fokus pada layar laptopnya. Sementara Felix, dia kembali mengingat-ingat ucapan Monic, sang tunangan kemarin pagi.
Flashback on
Felix yang baru saja melakukan jogging pagi, langsung berjalan kembali menuju unit apartemennya. Dia memang tinggal di sebuah apartemen. Ya, meskipun dia tidak sekaya Rainer, namun Felix sudah menjadi orang kepercayaan Rainer sejak beberapa tahun yang lalu. Jadi, jangan ditanyakan lagi berapa aset yang sudah dimilikinya.
Sudah hampir dua tahun, Felix menempati unit apartemennya tersebut. Dia yang bolak balik Jakarta-Jogja, juga sudah memiliki sebuah rumah sederhana di Jogja. Rumah sederhana berlantai satu dengan tipe tujuh puluh dua tersebut, berhasil dibeli Felix setelah mengumpulkan uang sekitar satu tahun. Dan, untuk hasil kerja kerasnya tersebut, Felix benar-benar sangat bangga.
Ibu Felix sudah meninggal sejak dia berusia enam belas tahun. Sementara sang ayah, sudah menikah lagi dan memiliki keluarga baru. Bahkan, sejak sang ayah menikah lagi, Felix sudah tidak pernah dianggap sebagai anggota keluarganya lagi. Beruntung, Felix masih mempunyai seorang nenek dari mendiang ibunya yang masih sehat walafiat hingga saat ini.
Sejak hampir dua tahun yang lalu, Felix menjalin hubungan dengan seorang gadis bernama Maudy Monica. Monic, panggilan kekasih Felix yang saat ini sudah menjadi tunangannya.
Sebenarnya, hubungan keduanya cukup baik. Bahkan, keduanya sudah merencanakan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Orang tua Monic pun sudah merestui hubungan keduanya. Namun, entah mengapa selama sekitar satu bulan ini, sepertinya Monic mulai berubah.
Awalnya, Felix tidak menyadari perubahan tunangannya tersebut. Namun, setelah Monic pindah bekerja di kantor baru, perubahan tersebut mulai terasa. Felix dan Monic semakin jarang berkomunikasi. Bahkan, untuk bertemu pun Felix harus membuat janji terlebih dahulu.
Puncaknya adalah kemarin pagi saat Felix kembali dari jogging pagi. Tanpa sengaja, dia melihat sesosok perempuan yang sangat mirip dengan Monic keluar dari lift saat Felix hendak memasuki lift satunya. Kening Felix berkerut saat melihat langkah kaki perempuan tersebut yang nampak terburu-buru memasuki sebuah taksi online.
Ketika Felix ingin mengejar, pintu lift yang dinaikinya sudah terlanjur tertutup. Mau tidak mau, Felix hanya bisa pasrah.
Begitu Felix tiba di unit apartemennya, dia segera mengambil ponsel dan langsung menghubungi Monic. Namun, ponsel tersebut tidak aktif. Felix juga mencoba mengirimkan beberapa pesan kepada Monic, namun lagi-lagi belum bisa terkirim.
__ADS_1
Felix hanya bisa pasrah. Dia akan mencari tahu nanti jika pikirannya sudah lebih tenang.
Flashback off.
Setelah cukup memeriksa beberapa bukti yang diberikan Felix dan membicarakan beberapa urusan, Rainer segera beranjak berdiri. Dia sudah merasa cukup lapar mengingat jam makan siang baru saja lewat.
Dengan cepat, Rainer mengambil ponselnya untuk menghubungi Nayra. Hingga pada sering keempat, panggilan tersebut terhubung.
"Hallo, Mas."
"Dari mana saja kamu?" Suara Rainer langsung terdengar ngegas. Dia sedikit kesal karena panggilan teleponnya tidak segera dijawab oleh sang istri.
"Dari ruangan kamu, Mas. Antar berkas. Ada apa?" Nayra berusaha menjawab santai padahal dalam hatinya sudah menggerutu kesal.
Tentu saja ucapan Rainer tersebut membuat Nayra bingung. Bagaimana tidak, dia baru saja kembali makan siang dengan teman-temannya. Mana mungkin dia akan makan siang lagi.
Haduh, bagaimana ini? Aku kan baru makan siang tadi. Jika ditolak, dia pasti ngamuk. Kalau dituruti, nggak mungkin juga aku sanggup makan siang lagi, batin Nayra.
Rainer yang menunggu jawaban Nayra, langsung mendengus kesal saat tidak mendapatkan respon.
"Nay, kamu dengar tidak aku ngomong apa?" Suara Rainer sudah mulai ngegas kembali.
Nayra yang cukup kaget, langsung menjawab dengan terburu-buru.
"Eh, dengar kok, Mas. Tapi, ehm, aku sudah makan siang sama yang lainnya tadi. Ini juga baru balik ke kantor, Mas," jawab Nayra sambil menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Hening sejenak setelah Nayra menjawab ucapan Rainer. Nayra sempat was was saat tak mendapati sahutan dari sang suami.
Bukannya menjawab, Rainer justru balik bertanya.
"Pekerjaan kamu sudah selesai?" tanya Rainer kemudian.
"Eh, sudah. Tadi sudah aku taruh di atas meja kamu, Mas." Nayra tampak lega setelah mendengar ucapan Rainer yang terdengar biasa saja.
"Bagus. Sekarang, segera kemasi barang-barang kamu. Aku tunggu di bawah. Kita pulang."
Kedua bola mata Nayra langsung membulat dengan sempurna setelah mendengar ucapan Rainer.
"Eh, pu-pulang? Ma-mau apa?" Nayra langsung bingung. Pasalnya, saat ini masih siang. Belum jadwalnya pulang kantor.
"Mau makan siang."
"Mau makan siang? Lalu, kenapa harus pulang? Kamu bisa makan siang di restoran atau di kantin kantor, Mas. Kenapa aku yang harus pulang?"
"Karena kamu makan siangku."
"Lhoh."
Sambil nunggu up, bisa mampir di cerita othor yang baru, ya. Judul "Kok, Jadi Nikah?"
__ADS_1