
"Memang adegan horor apa? Aku kan hanya mau ganti baju. Jika mau adegan horor beneran, nanti malam aku ajarin." Rainer langsung menatap wajah Nayra dengan kesal.
"Hah, jangan suka satu macam ya, Pak!" Nayra menatap tajam ke arah sang atasan. Dikiranya dia perempuan apaan yang mau seenaknya diajak macam-macam.
"Maksudnya apa jangan satu macam? Kamu mau jika macam-macam? Mau yang seperti apa? Seperti yang ada di cerita dengan rate dua puluh satu plus seperti di novel-novel yang kamu baca itu?"
"Cckkk. Apaan sih, Pak? Nggak usah aneh-aneh, deh. Aku bukan perempuan gampangan yang bisa seenaknya Bapak taken, ya!" Nayra menatap wajah Rainer dengan tatapan berkilat-kilat.
Rainer hanya mencebikkan bibir sambil menyipitkan kedua matanya ke arah Nayra.
"Aku sama sekali nggak tertarik untuk taken kamu, ya."
"Ya, ya, ya." Nayra langsung berlalu meninggalkan kamar Rainer dan kembali ke kamarnya melalui connecting door.
Rainer yang melihat kepergian Nayra langsung mengumpat kesal.
"Cckkk. Jika bukan karena dia sekretaris yang cukup cekatan, aku sudah pasti akan dengan senang hati menukar tambahnya." Rainer menggerutu kesal setelah Nayra menutup pintu.
__ADS_1
Setelah itu, Rainer segera berganti baju. Dia tidak mau jika Nayra datang kembali dan memergokinya berpolos-polos ria. Rainer adalah tipe orang tidak bisa berganti baju di kamar mandi.
Sementara itu di dalam kamar Nayra, dia segera bersiap-siap dengan segala perlengkapan mandinya. Tubuh Nayra merasa sangat lengket. Dia ingin segera membersihkan diri.
Sambil membawa seluruh keperluan mandi dan juga baju ganti, Nayra langsung berjalan menuju kamar mandi. Dia benar-benar ingin memanjakan diri dengan berendam. Rasanya, otot-otot tubuh Nayra benar-benar sudah menegang.
Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Nayra berendam dan membersihkan diri. Tak lama, tidak sampai satu jam kemudian, Nayra sudah selesai membersihkan diri. Dia segera mengeringkan tubuh sebelum berganti pakaian.
Nayra memilih memakai dress sederhana yang sudah dibelinya tadi. Dengan rambut yang masih dibungkus handuk, Nayra langsung keluar dari kamar mandi. Saat Nayra hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sesosok orang yang tengah terlelap di atas tempat tidurnya.
Siapa lagi jika bukan Rainer. Bahkan, laki-laki tersebut dengan seenaknya memonopoli tempat tidur king size tersebut.
Dia menggoyang-goyangkan kaki Rainer untuk membangunkan laki-laki tersebut.
"Pak, bangun, Pak. Bapak kenapa tidur di kamar saya? Ngarep sekali minta kelon saya, Pak," ucap Nayra asal sambil masih menggoyang-goyangkan kaki Rainer.
Rainer yang merasa terganggu pun membuka kedua matanya. Dia menatap ke arah Nayra dan menggeliat.
__ADS_1
"Ada apa sih, Nay?" tanya Rainer dengan ekspresi tanpa dosa.
"Ada apa, ada apa? Bapak nyadar nggak sih jika sudah tidur di kamar saya? Jika Bapak mau tidur di kamar ini, baiklah. Saya akan pindah ke kamar Bapak." Nayra masih berdiri di samping temoat tidur sambil menatap tajam ke arah Rainer.
Mendapati omelan Nayra, Rainer berusaha duduk dan mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah itu, Rainer menatap ke arah Nayra dengan tatapan tajamnya.
"Siapa juga yang mau pindah ke kamar ini? Aku capek nungguin kamu mandi nggak selesai-selesai sampai ketiduran. Lagian, ngapain mandi lama sekali, sih? Apa yang mau kamu bersihkan, paling juga nggak ada yang lihat."
Nayra tampak semakin kesal setelah mendengar ucapan Rainer.
"Aku membersihkan diri bukan semata-mata untuk menyenangkan orang yang melihat ya, Pak. Tapi untuk kesehatan. Lagian, tubuh-tubuhku sendiri ini, ngapain Bapak yang ribet, sih."
"Itu karena kamu lama. Aku jadi penasaran siapa yang akan menjadi suami kamu nanti. Akan seperti apa kesalnya laki-laki itu saat menunggu kamu mandi." Rainer tak mau kalah.
"Rasakan saja sendiri nanti." Nayra menjawab sambil berbalik ke arah meja rias.
"Eh, maksudnya apa?"
__ADS_1
\=\=\=
Maksudnya apa sih?