
Meski masih bingung dengan apa yang diucapkan Rainer, Nayra tetap menuruti saat tangan Rainer menariknya hingga kamar hotel. Rainer meminta Nayra segera mengemasi barang-barangnya. Entah mengapa Nayra menurut begitu saja.
Saat Nayra sedang mengemasi barang-barangnya, Rainer tengah sibuk menghubungi seseorang. Meski dengan menggerutu kesal, Nayra tetap memasukkan beberapa barangnya ke dalam paper bag. Ya, Nayra memang tidak membawa tas saat itu.
"Cckkk. Dasar si bos aneh. Seenaknya saja main perintah. Apa coba maksudnya semua ini? Sudah jelas-jelas aku dipecat, kenapa masih menyuruhku melakukan ini itu?" gerutu Nayra sambil melipat dan memasukkan bajunya ke dalam paper bag.
Tak berapa lama kemudian, Nayra sudah selesai. Dia duduk di tepi tempat tidur untuk menunggu Rainer selesai menelepon.
Tak sampai lima menit kemudian, Rainer sudah selesai menelepon. Dia segera berbalik dan menatap ke arah Nayra. Tatapannya beralih pada paper bag yang sudah berjajar rapi di samping Nayra.
"Kamu sudah selesai?" tanya Rainer.
Nayra masih menatap bingung ke arah Rainer. "Sudah. Kita mau kemana?"
"Nanti kamu akan tau. Sekarang, kita harus keluar dari sini." Rainer segera beranjak dan meraih paper bag Nayra. Tak lupa juga tangannya langsung menggenggam tangan Nayra dan menariknya.
Tentu saja hal itu membuat Nayra kesal. Dia ingin sekali protes kemana Rainer akan membawanya pergi. Namun, saat Nayra dan Rainer keluar dan menutup kamar hotel, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa mereka.
"Lho, Pak Rain? Mbak Nayra? Ka-kalian?" Seorang laki-laki tampak cukup terkejut saat melihat Nayra dan Rainer baru saja keluar dari sebuah kamar hotel. Kedua mata dan mulut laki-laki tersebut tampak membulat saat melihat hal itu. Pertemuan tak terduga tersebut benar-benar membuat mereka terkejut.
__ADS_1
Nayra mendadak panik. Dia refleks mendekat ke arah Rainer. Apakah Nayra mengenal laki-laki tersebut? Dan, jawabannya adalah iya. Laki-laki tersebut adalah Pak Jimmy. Salah seorang kolega bisnis Rainer.
Beberapa waktu yang lalu, Rainer dan Nayra juga pernah mendapatkan undangan untuk menghadiri pembukaan restoran terbarunya.
Rainer dengan cepat mengubah ekspresinya. Dia mengulas sedikit senyuman ke arah Pak Jimmy.
"Ah, Pak Jimmy. Kebetulan sekali kita bertemu disini," ucap Rainer sambil mengulurkan tangan.
Meskipun tampak bingung, Pak Jimmy menerima uluran tangan Rainer.
"Kalian?" Pak Jimmy menggantung pertanyaannya. Entah mengapa beliau mendadak bingung harus bertanya apa.
"Mungkin Anda bingung melihat kami keluar dari kamar hotel, Pak. Tapi, sebentar lagi Anda tidak akan bingung lagi dengan status kami, hehehe." Rainer menampilkan ekspresi ceria.
Tampak Pak Jimmy masih bingung. Namun, sebelum beliau menanyakan sesuatu, Rainer buru-buru berpamitan dan menarik Nayra segera beranjak. Mau tidak mau, Nayra hanya mengikuti langkah kaki Rainer setelah sebelumnya sempat berpamitan kepada Pak Jimmy dengan menundukkan kepala.
Tak banyak bicara, Nayra kini hanya bisa mengikuti langkah kaki Rainer menuju tempat parkir. Nayra dan Rainer segera memasuki mobil begitu mereka sampai di depan mobil Rainer.
Tanpa banyak bicara, Rainer segera menyalakan mobil dan melajukannya meninggalkan area parkir hotel.
__ADS_1
Karena kesal, Nayra langsung menoleh dan menatap tajam ke arah Rainer.
"Saya mau dibawa kemana, Pak?"
Rainer menoleh sekilas ke arah Nayra. Dia masih tidak menjawab pertanyaan tersebut. Rainer kembali fokus pada jalanan yang ada di depannya.
Nayra benar-benar di buat kesal dengan Rainer yang hanya diam saja tidak menjawab pertanyaannya.
"Pak?! Anda dengar pertanyaan saya apa tidak, ih." Nayra memukul lengan Rainer dengan kesal.
Dan, berhasil. Akhirnya Rainer menoleh dan menjawab pertanyaan Nayra.
"Kita akan menikah. Segera."
"Hah?!"
\=\=\=
Ada ngajak nikah modelan begitu?
__ADS_1