
Rainer masih mendengarkan penjelasan Felix. Sesekali keningnya berkerut sambil masih menatap wajah Felix seolah sahabat sekaligus asistennya tersebut berbicara dengan bahasa planet.
"Jadi begitu Rain alasan gue nggak bisa pegang ponsel dua hari kemarin. Gue benar-benar sibuk ngurusin tuh bayi," jelas Felix.
Rainer masih belum bisa memberikan respon apa-apa. Dia masih menatap wajah Felix yang tengah meneguk air minum Rainer tersebut.
"Lo, lo bilang bayi itu anak lo? Kapan lo buatnya?" tanya Rainer akhirnya.
Felix mendesahkan napas berat sebelum menjawab pertanyaan Rainer.
"Itu yang ditulis pada surat kemarin, Rain. Gue juga sudah coba periksa CCTV malam itu, namun mati. Entah itu sengaja atau kebetulan gue juga nggak tahu, Rain." Felix mendesahkan napas berat.
"Lalu, ibu bayi itu…?" Rainer menggantung pertanyaannya. "Lo tau siapa ibu bayi itu, kan?" lanjut Rainer.
Lagi-lagi Felix menggelengkan kepala.
"Gue nggak tau, Rain. Gue benar-benar nggak ingat." Felix meraup kasar wajahnya. Selama dua hari ini, Felix tidak berhenti memikirkan siapa ibu Finn sebenarnya.
Kedua bola mata Rainer membulat dengan sempurna. Dia tidak menyangka jika Felix bisa sampai lupa dengan siapa dia kerjasama membuat bayi.
"Lo yakin nggak ingat, Lix?"
Hanya gelengan yang didapat Rainer sebagai jawaban.
__ADS_1
"Gue benar-benar nggak ingat, Rain. Maka dari itu, gue mau minta tolong sama lo buat bantu cari informasi tentang ini. Gue sendiri bingung harus mulai dari mana," desah Felix frustasi.
Rainer yang melihat wajah Felix sudah mulai kusut, menjadi tidak tega. Selama ini, Felix yang terkenal jahil dan ceria, kini terlihat cukup frustasi. Rainer bisa membayangkan betapa kalutnya Felix saat ini.
"Gue akan bantu lo. Gue bisa minta tolong teman papa untuk bantu selidiki masalah ini," ucap Rainer.
Mendengar jawaban tersebut, seketika wajah Felix berbinar bahagia. Felix langsung berdiri dan memeluk tubuh Rainet dengan erat sebagai ungkapan terima kasihnya.
"Thanks, Rain. Terima kasih lo sudah mau bantu gue," ucap Felix sambil masih memeluk tubuh Rainer.
Pada saat bersamaan, masuklah Dewa yang sudah bersiap memberikan laporan untuk Rainer. Dia langsung membeku saat melihat dua orang petinggi perusahaan tersebut sedang berpelukan.
"A-apa yang kalian lakukan? Ja-jangan bilang ka-kalian mau main pedang-pedangan?" ucap Dewa sambil masih memelototkan kedua matanya.
"Siiialaann! Jangan bicara sembarangan! Gue masih suka 'lapis lempit' istri gue!" Rainer langsung menatap tajam ke arah Dewa.
Melihat tatapan tajam tersebut, Dewa hanya bisa mematung dan menelan salivanya dengan keras. Dia benar-benar merinding dengan tatapan Rainer.
"Ehm, i-itu ma-maksud saya bukan begitu, Pak." Dewa tidak berani mengangkat kepala. Dia benar-benar takut melihat tatapan tajam Rainer.
Setelah drama tersebut, pekerjaan mereka kembali dilanjutkan. Felix sedikit merasa lega ketika Rainer sudah berjanji untuk membantunya mencari tahu siapa ibu kandung Finn sebenarnya.
Menjelang makan siang, felix yang fokus dengan pekerjaannya, tidak menghiraukan ponselnya yang sejak tadi berdering. Dia terlalu fokus bekerja hingga mengabaikan apa yang ada di sekitarnya. Hingga beberapa saat kemudian, dia merasa terganggu dengan ponsel yang sejak tadi berbunyi.
__ADS_1
Dengan malas Felix mengulurkan tangannya meraih ponsel yang tergeletak di samping kanannya tersebut. Netranya melihat layar ponsel yang masih berdering itu.
Kedua bola mata Felix langsung membulat saat melihat nama Citra terpampang di sana. Dia benar-benar lupa jika mempunyai anak yang saat ini tengah bersama sang pengasuh. Felix buru-buru menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.
"Hallo, Cit. Ada apa?'' tanya Felix buru-buru.
"Lama banget angkatnya, Om. Lagi sibuk, ya?"
"Eh, enggak-enggak. Sudah selesai ini. Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Finn?" tanya Felix penasaran.
"Ccckkk, bukan, Om. Ini, aku cuma mau bilang popok dan susu Finn sudah mau habis. Bisa minta tolong Om saja yang beli?"
Felix mengerutkan kening. Dia memang sudah berjanji akan mengajak Citra belanja kebutuhan Finn nanti sepulang kerja.
"Kenapa harus aku yang beli sendiri? Bukankah nanti sore aku sudah berjanji akan mengajakmu belanja? Mana ngerti aku barang-barang kebutuhan bayi," ucap Felix.
"Jika aku ikut, nanti Finn bagaimana, Om?"
"Diajak saja sekalian. Hitung-hitung biar Finn terbiasa dengan papa dan mamanya."
"Eh, mamanya? Memang sudah ketemu siapa mamanya, Om?"
"Belum. Jadi, untuk sementara, kamu saja yang gantiin mamanya Finn."
__ADS_1
"Lho?"