
Nayra langsung diam membeku. Otaknya tiba-tiba blank. Dia sama sekali tidak mampu mencerna ucapan Rainer dengan baik.
Menikah? Apa maksudnya tadi? Siapa yang akan menikah? batin Nayra mencoba mengingat-ingat apa yang diucapkan Rainer.
"Me-menikah? Maksudnya apa? Siapa yang akan menikah?"
Rainer mendengus kesal. Dia tidak menjawab pertanyaan Nayra hingga membelokkan mobil ke arah taman kota yang kebetulan berada tak jauh dari posisinya saat itu. Hingga mobil yang dikemudikan Rainer berhenti di tempat parkir, Rainer memarkirkan mobil dan mematikannya.
Rainer melepas seat belt dan menatap wajah Nayra yang tengah menunggu jawabannya tersebut. Rainer menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan sebelum menjawab ucapan Nayra.
"Kita. Kita yang akan menikah." Rainer menjawab pertanyaan Nayra dengan tenang.
Nayra yang masih belum paham mengapa mereka akan menikah pun langsung mengernyitkan kening.
"Eh? Kita? Pak Rain bercanda, ya? Mengapa kita akan menikah? Kita tidak ada hubungan apa-apa, Pak?"
Rainer mendengus kesal sambil menatap ke arah Nayra. "Nanti. Setelah menikah, kita akan punya hubungan."
Nayra mencebikkan bibir. "Jangan suka ngawur deh, Pak. Mana ada menikah model beginian. Menikah itu, dilakukan oleh dua orang yang saling mengenal, saling mencintai, dan saling menghargai. Lha kita?"
__ADS_1
"Kita kan juga saling mengenal. Apa salahnya jika kita menikah?" Rainer tidak mau kalah.
"Kita memang saling mengenal, Pak. Tapi kita tidak saling mencintai. Lagian, jangan suka aneh-aneh deh, Pak. Sudah cukup Anda membuat saya malu kepada Tuan dan Nyonya kemarin. Jangan bertingkah aneh-aneh lagi. Saya tidak mau lagi mengecewakan Tuan dan Nyonya." Nayra menatap tajam ke arah Rainer.
Tak mau kalah, Rainer kembali menjawab. "Justru dengan menikah denganku, kamu bisa membuat orang tuaku bahagia."
Kening Nayra berkerut. Dia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Rainer.
"Maksudnya?"
Rainer menghirup napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya.
"Jadi, apa salahnya jika kita membuat status itu lebih jelas?" Rainer menatap serius ke arah Nayra.
Lagi-lagi Nayra masih tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia menatap Rainer dengan kening berkerut.
"Ini maksud sebenarnya apa sih, Pak? Pak Rain mau bermain-main? Pernikahan bukan mainan, Pak. Pernikahan itu sakral. Anda tidak boleh sembarangan menikah dan kemudian berpisah seenaknya. Dikira kawin model kucing apa?" Nayra merengut kesal.
"Cckkk. Sembarangan. Siapa juga yang mau main-main. Aku serius. Aku serius ingin menikahimu." Kali ini, Rainer berkata dengan ekspresi serius. Tidak ada tatapan bercanda pada matanya. Kedua mata Rainer menghujam dalam pada mata Nayra.
__ADS_1
Nayra yang hendak bersuara, mengurungkan niatnya saat melihat kesungguhan Rainer. Entah mengapa jantungnya mendadak berdegup kencang saat mendengar ucapan Rainer.
"I-ini Pak Rain serius?"
"Tentu saja. Aku serius ingin menikahimu. Bahkan, semua surat penting yang diperlukan untuk menikah, sudah akan siap besok siang. Kita akan menikah besok di KUA. Akad nikah dulu. Setelah ini, kita akan menggelar resepsi pernikahan."
Sontak saja ucapan Rainer membuat Nayra tercengang. Menikah? Secepat ini? Dengan Rainer? Nayra seolah kehilangan kata-kata. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rainer.
"A-anda serius, Pak?"
"Tentu saja. Harus berapa kali lagi aku jelaskan jika aku serius?" Rainer mendengus kesal.
"Ta-tapi, kita tidak saling cinta, Pak."
"Kata siapa?"
"Eh?"
Hayo, kata siapa Rain?
__ADS_1