
Meskipun kesal dengan ucapan dan permintaan Rainer yang memintanya segera pulang, namun Nayra mau tidak mau menuruti ucapan suaminya tersebut. Jika tidak, bisa-bisa Nayra bahkan tidak beranjak dari tempat tidur nanti malam.
Sepanjang langkah kaki Nayra menuju lobi, dia banyak memikirkan tentang kehidupan rumah tangganya nanti. Apakah dia akan bisa bertahan dengan Rainer sampai tua? Ataukah mereka akan sama-sama menyerah nanti? Entahlah. Nayra bahkan tidak bisa menebak bagaimana perjalanan kehidupannya kelak.
Baik Nayra maupun Rainer, sama-sama belum memiliki rasa cinta. Namun meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan rasa itu akan muncul seiring dengan perjalanan waktu. Nayra hanya bisa berdoa semoga rasa itu akan segera datang diantara keduanya. Bukankah rasa itu bisa diawali dengan rasa nyaman diantara keduanya? Itulah yang diyakini oleh Nayra saat ini.
Begitu Nayra sudah sampai di lobi kantor, dia sudah melihat mobil Rainer sedang menunggu kedatangannya. Nayra sempat berpapasan dengan beberapa orang dan langsung memberikan hormat kepadanya. Tentu saja hal itu tidak membuat Nayra nyaman.
Nayra segera berjalan menuju mobil Rainer. Dia tidak ingin membuat sang suami kesal karena berlama-lama saat berjalan.
"Lama sekali, sih?" Tuh kan, Rainer sudah langsung menggerutu kesal sambil menjalankan mobil.
"Aku kan harus beresin beberapa pekerjaan, Mas. Lagian, ini juga masih jam kantor. Mana bisa kamu seenaknya mengajak pulang begini, Mas?" ucap Nayra.
__ADS_1
"Biarin. Aku kan bosnya."
Nayra hanya bisa menghela napas beratnya.
"Iya, aku tahu itu. Tapi, dulu kan kamu tidak seperti ini, Mas. Kamu orang yang cukup disiplin tentang waktu." Nayra masih berniat protes.
"Itu kan beda. Dulu aku belum menikah. Dan sekarang, aku sudah menikah." Rainer menjawab dengan santai.
"Cckkk. Apa hubungannya sudah menikah atau belum, Mas. Papa yang pemilik perusahaan pun tidak melakukan hal seperti ini dulu," jawab Nayra. Ya, dulu memang Nayra sempat menjadi sekretaris papa Rainer sebelum menjadi sekretaris Rainer. Jadi, Nayra cukup tau kinerja mertuanya tersebut.
Sontak saja jawaban Rainer tersebut berhasil membuat Nayra membulatkan mulut dan kedua matanya. Dia menoleh ke arah Rainer dan menatap horor suaminya tersebut.
"Buka puasa? Dikira makanan apa." Nayra menggerutu kesal setelah mendengar ucapan Rainer.
__ADS_1
Rainer tidak menggubris ucapan sang istri. Dia hanya fokus pada jalanan di depannya dan berharap segera sampai di penthouse miliknya.
Sekitar satu jam kemudian, mobil yang dikemudikan Rainer sudah berhasil diparkirkan di basement. Dia dan Nayra segera keluar dari mobil dan bergegas menuju lift.
Sekitar lima menit kemudian, keduanya sudah memasuki penthouse. Begitu keduanya memasuki ruang tamu, Rainer segera menyerang Nayra. Tentu saja tindakan Rainer tersebut membuat Nayra cukup terkejut.
Nayra henda protes dengan tindakan tiba-tiba Rainer, namun bibirnya langsung dibungkam oleh bibir Rainer.
Eehhmmm. Hhhmmmmpphhh. Eehhmmmmpphh.
Suara pertemuan benda kenyal tersebut langsung terdengar begitu Rainer mulai beraksi. Hingga beberapa saat kemudian, Nayra langsung memukul-mukul bahu Rainer karena dia merasa sudah kehabisan oksigen.
Rainer melepaskan pagutan bibir keduanya. Namun, dia tidak menghentikan tindakannya. Rainer menurunkan wajahnya hingga mencapai ceruk leher Nayra dan mulai beraksi disana. Hingga sebuah suara membuat Nayra langsung mendorong tubuh suaminya tersebut.
__ADS_1
"Hhmm, kok rasanya asin."
Bruukkk.