Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Usaha Rainer


__ADS_3

Selama dua hari ini, aktivitas di perusahaan Rainer benar-benar sibuk. Beberapa tim yang memang masih mengerjakan proyek, harus bekerja sebaik mungkin untuk menunjukkan kepada klien jika mereka bisa diandalkan.


Sementara untuk tim lain, mereka bekerja untuk mencari dan menyiapkan beberapa bukti guna melakukan klarifikasi terkait pemberitaan yang menerpa mereka.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Nayra dan Resta. Sejak kemarin, Nayra dan Resta bahkan tidak sempat keluar kantor untuk makan siang. Keduanya benar-benar sibuk menyiapkan beberapa hal.


Siang ini, Rainer pergi keluar kantor untuk menemui seseorang. Nayra yang tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Rainer, hanya bisa mengiyakan saat suaminya meminta dia tetap di kantor. Mau tidak mau, Nayra hanya bisa mengikuti permintaan Rainer.


Hingga menjelang jam pulang kantor, Rainer belum juga kembali. Nayra dan Resta bahkan sudah terlihat lelah mengerjakan beberapa pekerjaan yang menumpuk.


"Mbak, ini kita mau lembur lagi seperti semalam?" tanya Resta yang baru saja kembali dari ruang HRD.


Nayra menoleh ke arah pintu. Terlihat Resta yang sudah cukup lelah karena banyaknya pekerjaan selama dua hari ini.


"Kita pulang saja ya, Ta. Aku capek sekali, nih," jawab Nayra sambil menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"Tapi, Pak Rain?" Resta tampak khawatir jika Rainer akan marah saat tidak mendapati dirinya dan Nayra di kantor.


"Nanti coba aku hubungi dia dulu," jawab Nayra sambil hendak meraih ponselnya. 


Namun, belum sempat Nayra mencari nomor ponsel Rainer, ponsel tersebut sudah lebih dulu berdering. Rainer sudah menghubunginya terlebih dahulu. Nayra buru-buru menyambungkan panggilan dari Rainer tersebut.


"Hallo, Mas?" sapa Nayra setelah panggilan dari Rainer terhubung.

__ADS_1


"Kamu dimana, Nay?"


"Masih di kantor ini."


"Bareng Resta?"


"Iya, Mas. Ini Resta juga masih ada. Ada apa, Mas? Kamu mau balik ke kantor?" tanya Nayra.


"Nggak. Kamu dan Resta aku tunggu sekarang di rumah kafe Om Hen. Ada yang harus kita kerjakan di sini," ucap Rainer.


"Eh, O Hen? PakHendra kan maksudnya?"


"Iya, temannya papa."


"Iya. Kita harus menyelesaikan masalah perusahaan. Segera."


Nayra segera mengiyakan ucapan Rainer. Setelah itu, Nayra langsung menutup panggilan telepon tersebut. Resta yang sudah diberitahu pun langsung bersiap-siap. Sore itu, Nayra dan Resta langsung beranjak menuju kafe yang dimaksud oleh Rainer.


Sekitar satu jam kemudian, Nayra dan Resta sudah tiba di kafe yang dimaksud. Mereka langsung menuju ruangan pribadi si pemilik kafe. Ternyata, sudah ada beberapa orang yang tidak Nayra dan Resta kenal.


Setelah membahas beberapa hal, Nayra baru mengetahui jika mereka adalah orang-orang yang akan membantu perusahaan untuk melakukan klarifikasi. Nayra dan Resta langsung memberikan beberapa bukti yang diperlukan.


Cukup lama mereka bekerja di kafe tersebut. Dan, menjelang pukul sepuluh malam Nayra dan Rainer baru kembali ke rumah orang tua Rainer. Ya, selama beberapa hari ini mereka memang menginap di rumah utama keluarga Rainer.

__ADS_1


"Jadi, sudah ada bukti jika semua skandal yang menimpa perusahaan adalah ulah Pram?" tanya papa Rainer sesaat setelah Rainer kembali dari membersihkan diri dan berjalan menuju ke ruang tengah.


"Sudah, Pa. Dan, semua percakapan Pram saat melakukan pertemuan dengan beberapa petinggi perusahaan itu sudah terekam dengan baik," ujar Rainer.


Papa Rainer langsung mengangguk-anggukkan kepala. Dia merasa cukup bangga saat putranya bisa menyelesaikan masalah yang menimpa perusahaan.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Papa Rainer.


"Aku akan menjelaskan dan melakukan klarifikasi kepada perusahaan yang telah menuduh kita, Pa. Dan, aku juga akan menggandeng pihak pemerintah yang sudah bekerja sama dengan kita. Mama sudah membantu untuk melobi penanggung jawab mereka."


Lagi-lagi papa Rainer mengangguk-anggukkan kepala sambil mengulas senyuman.


"Bagus, Rain. Kali ini, papa tidak akan membiarkan Pram lagi. Sudah cukup papa membantunya selama ini," ucap papa Rainer.


"Jangan, Pa. Jangan membantu laki-laki itu lagi. Aku juga sudah muak dengan wajahnya yang berbulu domba itu." Rainer terlihat sangat kesal.


"Kamu benar, Rain. Setelah ini, kita harus menyingkirkan Pram dan antek-anteknya. Termasuk, Regina. Papa tidak mau dia mengganggu rumah tanggamu dengan Nayra."


Seketika Rainer menoleh ke arah sang papa dengan ekspresi terkejut.


"Eh, papa tahu?"


Mumpung sudah ada jatah vote, sisakan satu untuk Nayra dan Rainer ya, biar tambah rame. Jangan lupa bantu promosi cerita ini, ya. Terima kasih. 🤗

__ADS_1


__ADS_2