
Secepat kilat Nayra langsung membersihkan diri. Dia mandi dibawah guyuran shower. Entah apa istilahnya, tapi mandi yang dilakukan oleh Nayra hanya memakan waktu kurang dari lima menit.
Nayra langsung memakai bathrobe dan menarik handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah. Setelah itu, dia segera beranjak menuju meja rias mini yang berada di samping lemari baju. Dia memakai beberapa cream pagi dan memoleskan lipstik di bibirnya.
Setelah dirasa cukup, Nayra buru-buru mengambil baju baru yang ada di dalam lemari. Sebuah celana jean dan kaos putih tampak pas untuk tubuhnya. Nayra juga menggosok-gosok rambutnya agar cepat kering. Pagi itu, dia tidak akan sempat mengeringkan rambut basahnya.
Setelah semua selesai, Nayra segera beranjak menuju dapur. Namun, langkah kakinya terhenti saat Rainer sudah berdiri di dekat pintu kamarnya sambil membawa kotak makanan.
"Eh, sudah selesai sarapan, Pak?" tanya Nayra sambil menatap tangan Rainer.
"Aku belum sarapan. Masakanmu sudah aku pindah di sini. Kita harus segera berangkat agar tidak ketinggalan pesawat." Rainer memberikan kotak makan itu kepada Nayra.
"Lalu ini?" Nayra masih tampak bingung.
"Sarapan di jalan."
Nayra hanya bisa pasrah mendengar ucapan Rainer. Setelah itu, dia langsung menyambar tas dan ponselnya. Nayra segera menggunakan sepatu dan langsung mengekori Rainer keluar dari penthouse.
Tak berapa lama kemudian, mobil Rainer sudah keluar dari basement. Nayra masih meminta izin untuk membuka kaca jendela mobil agar rambutnya bisa segera kering.
"Aku lapar," ucap Rainer sambil masih fokus pada jalanan di depannya.
"Eh, lapar? Itu ada bekal makanan kan, Pak?" Nayra menunjuk kotak makanan yang ada di belakang.
__ADS_1
"Menurut kamu aku bisa makan dengan kondisi menyetir begini?" Rainer menoleh ke arah Nayra dengan tatapan tajamnya.
"Lalu harus bagaimana? Berhenti dulu?" Nayra masih belum mengerti maksud Rainer.
"Suapi."
"Eh? Suapi?" Nayra mendadak cengo. Meskipun bukan pertama kalinya, tapi dia selalu merasa aneh jika melakukan hal itu kepada Rainer.
"Kamu mau aku berhenti dan kita akan ketinggalan pesawat? Begitu?"
Cckkk. Itu kan pesawat Anda. Tidak ada hubungannya denganku, gerutu Nayra dalam hati.
"Iya, iya. Aku suapi." Dengan sangat terpaksa, Nayra mengambil kotak makanan dan membukanya.
"Ini dijadikan satu semua, Pak?" tanya Nayra sambil menatap ke arah Rainer.
"Hhmmm."
"Cckkk. Lalu aku makan apa?" Nayra menggerutu sambil mengerucutkan bibir.
"Itu kan, banyak. Makan berdua juga sudah kenyang. Kamu kira aku sanggup menghabiskan itu semua, hah?"
Nayra hanya diam sambil mengambil sendok makan. Segera dia menyendokkan makanan tersebut dan menyodorkan ke depan mulut Rainer.
__ADS_1
Seperti biasa, Rainer selalu lahap jika memakan masakan Nayra. Dia jarang sekali protes apapun masakan yang dimasak oleh sekretarisnya tersebut.
Sesekali Rainer menatap ke arah Nayra yang masih cemberut. "Jika kamu tidak sarapan, perut kamu bisa sakit. Semalam kamu juga hanya makan puding, kan?" ucap Rainer sambil masih fokus pada jalanan di depannya.
Terdengar dengusan kesal dari Nayra. Namun setelahnya, mau tidak mau Nayra menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. Bohong jika dia tidak merasa lapar. Sejak sebelum mandi, cacing di perutnya sudah berisik minta diisi.
Tak terasa mobil yang dikemudikan oleh Rainer sudah memasuki area parkir bandara. Rainer segera memarkirkan mobilnya dan bersiap untuk turun.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Nayra. Setelah merapikan penampilan dan juga rambutnya, Nayra segera bergegas turun menyusul Rainer yang sudah lebih dulu turun dari mobil.
"Pak, jangan cepat-cepat jalannya! Nggak lihat ini saya pakai heels begini," protes Nayra. Dia merasa kesulitan mengejar Rainer yang menurutnya berjalan cukup cepat.
Rainer berhenti dan menoleh ke belakang. Terlihat Nayra berlari-lari kecil mengejarnya dengan sepatu dengan heels setinggi dua belas sentimeter yang dipakainya kemarin. Ya, Nayra memang hanya memakai satu sepatu sejak dari kantor kemarin.
"Sudah tahu kita buru-buru masih pakai sepatu hak tinggi!" Rainer menggerutu sambil berbalik.
"Eh, jika tidak pakai sepatu ini? Saya harus pakai sepatu mana? Sepatu Bapak? Atau sandal jepit begitu? Lagian ya, salah Bapak sendiri tidak membiarkan saya pulang dulu semalam. Jika saya pulang dulu, mana mungkin saya akan memakai sepatu ini." Nayra langsung membalas omelan Rainer.
Jangan kira Nayra akan diam saja mendapatkan omelan dari Rainer. Jika dia merasa tidak bersalah, Nayra pasti akan langsung menjawab ucapan atasannya tersebut.
"Berisik!"
\=\=\=
__ADS_1
Hhhh, mau apa sih sebenarnya mereka? 🤧