
Setelah perdebatan antara Rainer dan sang mama, akhirnya diputuskan jika malam itu mama Rainer akan menginap di penthouse Rainer. Dan, satu hal lagi yang diputuskan adalah Nayra akan pindah kamar. Tidak ada pisah-pisahan kamar lagi.
Rainer dan Nayra hanya bisa pasrah saat sang ibu suri sudah bertitah. Mereka hanya bisa menuruti apa yang diinginkan mama Rainer tersebut.
"Mama sudah bilang papa kamu jika menginap di sini malam ini. Dan, besok siang papa kamu akan ke Jakarta," ucap mama Rainer sambil berjalan menuju kamar yang awalnya ditempati oleh Nayra.
"Kenapa Papa harus ke Jakarta, Ma? Apa pekerjaannya tidak banyak?" Rainer protes. Dia tidak mau jika kedua orang tuanya akan memintanya melakukan hal-hal aneh lagi.
Mama Rainer berhenti di depan pintu kamar. Dia menoleh dan menatap wajah putranya tersebut dengan tatapan tajam.
"Memang kenapa jika Papamu ke sini? Kamu keberatan?"
Rainer hanya bisa mendesahkan napas beratnya. "Ya, nggak begitu juga, Ma."
"Maksudnya apa nggak begitu juga? Tadi sudah Mama bilang jika kamu harus melakukan semua prosesi dengan benar, kan?"
"Iya. Tapi, tidak sekarang, Ma. Di kantor lagi banyak sekali pekerjaan. Aku juga butuh Nayra di kantor."
__ADS_1
Mama Rainer menatap wajah putranya tersebut dengan kening berkerut. "Kamu bukan sedang mencari-cari alasan kan, Rain?"
"Cckkk. Mana mungkin aku mencari alasan, Ma. Aku memang membutuhkan Nayra di kantor."
Mama Rainer mendesahkan napas berat. Setelah itu, dia berganti menatap Nayra yang sedang berdiri tak jauh dari Rainer.
"Apa kamu tidak apa-apa kembali bekerja di kantor, Nay?"
Nayra mendongakkan kepala dan menatap wajah mama Rainer. Terlihat ekspresi khawatir pada raut wajah wanita paruh baya tersebut.
"Tidak apa-apa, Ma. Justru aku lebih senang kembali ke kantor. Akan sangat bosan jika hanya berdiam diri tanpa beraktivitas," ucap Nayra sambil mengulas senyuman.
"Tuh kan, Ma. Apa juga aku bilang. Nayra sendiri juga pasti senang kembali ke kantor," ucap Rainer.
"Cckkk. Itu sih kamunya aja yang kesenengan, Rain. Kamu senang jika Nayra selalu ada dalam pengawasan kamu. Coba Nayra pergi seperti kemarin, Mama yakin kamu akan kelimpungan seperti orang giila," cibir sang mama.
Nayra cukup terkejut mendengar ucapan mertuanya tersebut. Dia merasa penasaran apakah benar jika Rainer akan kelimpungan jika dia pergi, batun Nayra. Saat ini, Nayra menoleh dan mendapati ekspresi malu dan salah tingkah Rainer.
__ADS_1
"Ma-mana ada yang seperti itu, Ma. Jangan suka ngomong sembarangan." Rainer sedikit melirik ke arah Nayra. Dan, seperti dugaannya, Nayra sedang menatapnya dengan kening berkerut.
"Masih suka mengelak." Mama Rainer mendengus kesal sambil berlalu untuk memasuki kamar. Beliau ingin segera beristirahat.
Kini, tinggallah Rainer dan Nayra yang masih berdiri di depan pintu kamar Rainer. Nayra melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat. Namun, dia bingung harus bagaimana. Rainer sama sekali tidak menawarinya untuk masuk ke dalam kamar.
"Ehm, sa-saya…," belum sempat Nayra menyelesaikan ucapannya, Rainer langsung menariknya menuju kamar. Tentu saja hal itu membuat Nayra cukup terkejut.
Setelah masuk, Rainer melepaskan tarikan tangannya pada tangan Nayra. Dia juga langsung mengunci pintu kamar tersebut.
Nayra yang melihat hal itu, langsung membulatkan kedua bola matanya.
"Ke-kenapa pintunya dikunci? Biasanya juga tidak pernah dikunci?" tanya Nayra was-was.
Rainer berbalik dan menatap wajah Nayra lekat-lekat. Dia berjalan pelan, sambil masih menatap wajah Nayra. Melihat hal itu, sontak saja Nayra langsung mundur sambil menyilangkan kedua tangannya di depan.
•••
__ADS_1
Ehm, mau apa sih itu Rainer?