Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Dihalalin?


__ADS_3

Masih di hari yang sama, Felix bergegas pulang lebih awal setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Seharusnya, Felix memang mendapatkan libur setelah kemarin dia sibuk mewakili Rainer ke Australia. Namun, karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, Felix terpaksa harus ke kantor setelah dari rumah sakit.


Sore itu sebelum pukul empat sore, Felix sudah sampai di apartemennya. Citra yang baru saja memandikan Finn, cukup kaget saat mendapati Felix sudah ada di rumah. Pasalnya, Citra mengira jika Felix akan pulang esok hari.


"Lho, kok sudah pulang, Om?" tanya Citra sambil berjalan mendekati Felix. Dia masih menggendong Finn yang baru saja selesai memakai baju.


Tampak Finn langsung kegirangan saat melihat Felix. Kedua tangan mungilnya bahkan langsung terulur untuk minta gendong sang papa.


"Pekerjaanku sudah selesai," jawab Felix sambil hendak mengambil Finn dari gendongan Citra.


Namun, belum sempat tangan Felix meraih tubuh Finn, Citra sudah lebih dulu menjauhkan tubuh balita tersebut dari jangkauan Felix. Melihat tingkah Citra tersebut, tentu saja membuat Felix kesal.


"Cckkk. Apa-apaan sih, Cit. Aku mau gendong Finn. Kangen, nih." Felix langsung protes.


Citra mendelik ke arah Felix. Dia tidak bisa menuruti keinginan papanya Finn tersebut.


"Nggak ada ya, Om. Mandi sana dulu. Om baru saja dari luar, jangan seenaknya gendong atau cium-cium Finn. Nanti anak Om terkena virus berbahaya dari luar sana. Memangnya, Om nggak sayang sama anaknya jika sampai terkena virus yang Om bawa?" Citra masih mendelik kesal.


Felix yang tidak terima dengan ucapan Citra, hanya bisa mencebikkan bibir kesal sambil menggerutu. Meskipun dia merasa cukup kesal, namun Felix bisa mengerti maksud Citra.


"Iya, iya. Aku mandi dulu."

__ADS_1


Dengan langkah tidak ikhlas, Felix berjalan menuju kamarnya. Dia harus membersihkan tubuhnya dulu sebelum Citra tambah merajalela. Finn yang merasa diabaikan oleh Felix, seketika menangis dengan kencang. Dia merengek untuk minta gendong Felix.


Citra cukup kewalahan saat menghadapi rengekan bayi laki-laki tersebut. Citra segera membawa Finn ke ruang tengan dan memberikannya asi agar tangisnya segera berhenti. 


Dan, benar saja. Tak berapa lama kemudian, tangisan Finn sudah berhenti.  Kedua mata bayi tersebut juga tampak sayu. Rupanya, dia mengantuk setelah mandi di sore hari tersebut.


Tak sampai lima belas menit kemudian, Finn sudah terlelap di atas pangkuan Citra. Finn juga sudah melepaskan kenyotan sumber nutrisinya tersebut. Citra buru-buru memasukkan 'dot alami' Finn saat mendengar suara Felix mendekat. 


"Finn kok sudah nggak ada suaranya lagi? Sudah tidur?" tanya Felix mendekati Citra.


"Iya, Om. Sudah lelap dia. Habis mandi, dan mimi, langsung tidur," jawab Citra sambil menciumi pipi Finn yang sudah mulai terlihat montok tersebut.


Felix hanya bisa mendesahkan napas berat. Dia yang buru-buru pulang dari kantor karena ingin bermain dengan Finn, harus puas saat mendapati sang putra sudah terlelap.


Tak berapa lama kemudian, Citra terlihat keluar dari kamar. Dia berjalan menghampiri Felix.


"Om mau makan malam apa?" tanya Citra yang saat itu berdiri di dekat pintu menuju balkon.


Felix menoleh ke arah Citra dengan kening berkerut.


"Makan malam? Memangnya kamu mau masak?"

__ADS_1


"Iya. Om mau makan malam apa? Sekalian aku masakin."


"Kamu nggak usah masak, Cit. Seharian kamu sibuk ngurus Finn, nggak perlu lagi sibuk memasak untukku. Kamu pasti kecapekan," ucap Felix.


"Nggak apa-apa, Om. Aku sudah biasa. Setiap hari aku juga masak untukku sendiri."


Felix menatap Citra lekat-lekat sebelum menjawab ucapan Cira.


"Baiklah, masakkan telur balado saja. Yang pedas."


Citra menganggukkan kepala. Dia masih ingat jika bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat telur balado sudah ada.


"Baik. Aku akan masak itu saja."


Felix mengangguk sambil mengulas senyum.


"Terima kasih, Cit. Hhmmm jadi begini rasanya punya istri, ya." Felix bergumam namun cukup keras hingga bisa didengar oleh Citra.


"Cckkk. Istri apaan, Om. Dihalalin saja belum masa sudah dibilang istri," Citra mencebik kesal.


Sontak saja ucapan Citra membuat Felix kembali menoleh.

__ADS_1


"Kamu mau dihalalin, Cit?"


"Eh,"


__ADS_2