
Menjelang sore, Felix sudah kembali ke rumah sakit. Dia tidak pulang ke apartemen karena sudah membawa barang-barangnya sekalian tadi sebelum berangkat ke kantor. Tak lupa juga Felix sudah membawakan makanan untuk Citra. Dia sudah cukup paham jika Citra membutuhkan banyak makanan. Bahkan, Felix beberapa kali memergokinya tengah menyantap makanan tengah malam.
Ceklek.
Pintu ruang perawatan Finn dibuka. Felix langsung masuk dan mendapati Finn tengah terlelap, sedangkan Citra baru saja selesai mandi. Dia masih mengeringkan rambut di balkon.
Felix langsung meletakkan makanan untuk Citra di atas meja. Setelahnya, Felix meletakkan tas yang berisi pakaiannya di atas tempat tidur khusus penunggu pasien dan berjalan menuju brankar tempat Finn tidur. Putranya itu tampak wangi dan segar. Sepertinya, Citra baru saja mengelap tubuh Finn.
"Tumben sudah pulang, Om?" tanya Citra sambil berjalan mendekat ke arah brankar.
"Iya. Nggak nyaman berlama-lama di kantor," jawab Felix.
"Nggak sibuk?"
"Ya, lumayan, sih. Tapi nanti bisa dikerjakan di sini sambil nemenin kamu jagain Finn."
Citra mengangguk-anggukkan kepala. Dia membenahi selimut dan tangan Finn agar tidak mengganggu infusnya.
"Mandi dulu gih, Om. Nggak baik langsung nyamperin Finn saat baru dari luar begini. Takutnya nanti banyak kuman."
"Hhmmm."
Felix yang memang tidak berani mencium sang putra, langsung beranjak menuju kamar mandi. Namun, sebelum memasuki kamar mandi, Felix sempat memberitahu Citra tentang makanan yang sudah dibawakannya tadi.
__ADS_1
Citra segera membereskan makanan tersebut dan memasukkannya sebagian ke dalam kulkas. Dia yang sudah merasa lapar lagi, langsung menyantap ayam rica-rica yang baru saja dibawakan oleh Felix.
Sekitar sepuluh menit kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Citra yang tepat berada di seberang pintu kamar mandi, tentu saja langsung mendongak untuk melihat ke arah pintu. Namun, tidak ada Felix yang keluar dari sana. Yang ada hanya kepala Felix yang menyembul di sela-sela pintu kamar mandi tersebut.
"Cit, bisa minta tolong ambilkan handuk? Aku lupa bawa tadi," ucap Felix sambil tersenyum nyengir.
Entah mengapa dia bisa lupa. Biasanya memang Felix tidak perlu repot-repot membawa handuk ke kamar mandi karena sudah disediakan rak khusus untuk handuk-handuk yang akan digunakannya di dalam kamar mandinya.
"Kenapa bisa lupa sih, Om?" gurutu Citra. Namun meskipun begitu, dia tetap beranjak untuk mengambilkan handuk yang berada di dalam tas milik Felix.
"Lupa bawa tadi."
Setelah mendapatkan apa yang dicari, Citra segera mengulurkan handuk tersebut kepada Felix. Felix yang sudah mendapatkan handuknya, langsung mengeringkan tubuh dan melilitkan handuknya di pinggang. Dia bisa berjalan keluar kamar mandi tanpa malu lagi.
Beberapa saat kemudian, Finn tampak merengek. Rupanya, dia sudah kehausan. Beruntung Citra sudah selesai menyantap makanannya. Dia bergegas menyusui Finn agar tidak sampai menangis.
Dan, saat itu juga bertepatan dengan kunjungan dokter. Citra yang hendak beranjak pun dilarang oleh dokter karena dia hanya ingin menyampaikan kondisi Finn kepada Felix.
"Apa ada pertanyaan lagi, Pak Felix?" tanya dokter.
"Ah, tidak ada, Dok. Terima kasih banyak. Jadi, putra saya sudah diperbolehkan pulang besok?"
"Iya benar, Pak. Tapi, untuk mamanya jangan makan sembarangan dulu, ya. Takutnya nanti berdampak pada luka si adek," ucap dokter sambil menoleh ke arah Citra.
__ADS_1
Felix sempat kaget dengan ucapan sang dokter. Namun, dia berusaha menjaga ekspresinya agar tidak terlihat sedang terkejut.
"Baik, Dok," jawab Citra.
"Dokter tenang saja. Saya sendiri yang akan memastikan makanan sehat yang dikonsumsi oleh mamanya anak saya. Saya juga tidak mau anak saya nggak sembuh-sembuh, Dok. Nanti mamanya jadi sibuk ngurusin anaknya terus dan melupakan papanya. Hehehe."
Citra yang mendengar ucapan Felix langsung memerah. Dia yakin jika wajahnya pasti sudah semerah kepiting rebus. Beruntung dokter tersebut tidak terlalu lama berada di sana. Setelah selesai menyampaikan keadaan Finn, dokter tersebut langsung berpamitan.
Setelah hanya ada mereka bertiga di kamar perawatan tersebut, Citra langsung menatap tajam ke arah Felix yang sedang duduk di sofa menghadap ke arahnya.
"Apa-apaan itu tadi, Om? Jangan suka aneh-aneh kalau ngomong. Nanti jika ada orang yang dengar dan berpikiran tidak-tidak bagaimana?" gerutu Citra.
"Berpikiran tidak-tidak bagaimana maksudnya?"
"Itu tadi yang Om bilang mama papanya Finn. Maksudnya apa, coba?" Citra masih mendelik kesal.
"Ya, kan memang benar. Kamu mamanya Finn. Bukannya kamu sudah menyusui Finn, jadi bisa dibilang kamu mamanya, kan? Dan aku papanya. Kita mama dan papanya Finn." Felix menjawab seolah tanpa beban.
"Mama papa apanya. Emang kita suami istri apa," cibir Citra.
"Bisa diatur jika kamu memaksa. Aku sih tidak menolak sama sekali."
Lah, yang maksa siapa coba. 🤧
__ADS_1
Bagi yang masih punya jatah vote, bisa bagi satu dong buat Finn. 🤗