Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Persiapan Rainer


__ADS_3

Nayra langsung mengejang saat mendapati serangan suaminya di bawah sana. Setelah pelepasan yang kedua kali, entah mengapa tubuh Nayra semakin terasa lemas. Namun, tentu saja dia masih belum bisa beristirahat karena sajian utama masih belum dimulai.


Napas Nayra masih ngos-ngosan dengan tulang-tulang di sekujur tubuhnya terasa dilolosi. Rainer yang memberi jeda istirahat sebentar untuk Nayra, kini sudah mulai beraksi. Dia mulai menempatkan diri di area eksekusi.


Kedua netra Nayra menatap wajah Rainer dengan tatapan sayu. Hal yang sama juga tampak pada wajah Rainer yang sudah mupeng berat.


Dengan napas yang sama-sama ngos-ngosan, Rainer tampak tergesa-gesa ingin mengeksekusi sajian utamanya malam itu.


"Sudah siap?" tanya Rainer sambil menggoda bagian bawah tubuh Nayra dengan 'helm tentara' alami miliknya.


Nayra hanya bisa mengangguk lemah. Akan sangat percuma juga jika Nayra menggelengkan kepala. Rainer pasti akan tetap mengeksekusi sajian utama yang sudah berada di depan mata.

__ADS_1


Dengan gerakan pelan namun pasti, Rainer mulai menjelajah gua sempit nan gelap tersebut. Meskipun gelap, namun Rainer tidak pernah tersesat di dalam gua tersebut. Dia seolah punya insting alami untuk menemukan harta karun yang bisa mengeluarkan suara. Suara? Suara apa?


"Hheegghhhh euughhh, Ma-maasss. Sshhh, aaahhhh."


Nayra mulai meracau tidak karuan saat Rainer mulai memperagakan lagu maju mundur cantik tersebut. Awalnya, gerakan Rainer pelan-pelan dengan fokus membuat Nayra nyaman. Namun, lama kelamaan Rainer semakin bersemangat saat mendengar suara riintihan Nayra yang terdengar seksoy di telinga Rainer. Alhasil, gerakan mengejar semburan lahar panas pun langsung dilakukan oleh Rainer. 


Mendapati gerakan Rainer yang semakin cepat dan dalam, Nayra hanya bisa mencengkram kedua lengan Rainer dengan kedua mata terpejam dan mulut meracau tidak karuan. Melihat hal itu, Rainer menjadi semakin bersemangat. Dia butuh mengisi baterai tubuhnya setelah dua hari absen di charge karena dirinya terlalu sibuk mengurusi masalah perusahaan.


Tak sampai lima belas menit kemudian, Rainer merasakan sesuatu yang siap meledak di bagian bawah tubuhnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Nayra. Hingga pada satu titik, Nayra dan Rainer berhasil melepaskan sesuatu dalam tubuh mereka secara bersamaan.


Hingga sekitar lima menit kemudian, Rainer beranjak dari tubuh Nayra. Keduanya tampak meresapi sisa-sisa pelepasan yang baru mereka alami.

__ADS_1


Rainer menoleh ke arah Nayra yang kedua matanya hampir terpejam. Rainer tahu jika Nayra benar-benar lelah. Sepertinya, dia harus bisa menahan untuk tidak mengganggu Nayra lagi malam itu. 


Helah, tidak mengganggu apa? Padahal sudah puas bermain-main. Kali ini othor yang mencibir. Entah apa ada orang yang seperti Rainer itu 🤧


Keesokan hari, di kantor Rainer sudah terlihat kesibukan yang tidak biasa. Hal itu terjadi bukan karena kesibukan para karyawan seperti biasa. Namun, kesibukan yang tampak adalah kesibukan yang dilakukan oleh para pencari berita yang memang sudah bersiap-siap untuk mendapatkan berita eksklusif tersebut.


"Kamu sudah siap, Rain?" tanya papa Rainer yang berjalan menghampiri sang putra tersebut.


"Siap, Pa." Rainer menjawab dengan penuh keyakinan. 


Papa Rainer mengangguk mengiyakan sambil mengulas senyuman. Kali ini, dia percaya sepenuhnya dengan putranya tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh mama Rainer. Bahkan, mama Rainer sempat memberikan pelukan penyemangat untuk Rainer.

__ADS_1


Kini, dengan ditemani oleh Nayra dan Resta, Rainer siap mengadakan klarifikasi terkait berita yang beredar.


Tuh kan, masih sepi. Bantu tinggalkan jejak ya, biar rame. Kasih vote juga buat cerita ini, ya. Terima kasih. 🤗


__ADS_2