Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Hanya Ada Botolnya


__ADS_3

Perempuan tersebut langsung menatap tajam ke arah Felix. Saat melihat arah tatapan mata Felix, perempuan tersebut langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Apa yang Om lihat?! Dijaga ya matanya. Jangan suka jelalatan. Dasar om-om meshoomm." Perempuan tersebut langsung ngegas. Jangan lupakan tatapan mata sinis yang masih menatap tajam ke arah Felix tersebut.


Seketika Felix langsung tersadar. Dia segera mengalihkan tatapan matanya sambil mengulas senyum kikuk.


"A-apaan? Gu-gue nggak lihat apa-apa." Felix mencoba berkilah. Perempuan tersebut hanya bisa mencebikkan bibir sambil hendak berlalu.


Melihat hal itu, Felix buru-buru mencegah perempuan tersebut saat hendak pergi dengan mencekal bahu mungil tersebut. Dan, hal itu membuat perempuan tersebut sedikit terkejut.


Felix tidak punya pilihan lain selain menahan perempuan tersebut. Dia tidak mungkin pergi membeli susu untuk bayi tersebut dan meninggalkannya sendirian. Dengan terpaksa, Felix akan meminta bantuan.


"Ada apa lagi sih, Om? Jangan sembarangan pegang-pegang," ucap perempuan tersebut sambil melepaskan diri dari cekalan tangan Felix.


"Bukan begitu maksudku. Ehm, gu-gue butuh bantuan." Felix tampak kikuk.


Kening perempuan tersebut berkerut. Dia masih menatap Felix dengan tatapan menelisik.


"Bantuan apa?"

__ADS_1


"Ehm, i-itu, susu." Entah mengapa Felix mengatakan hal itu. Tatapannya juga langsung tertuju pada bagian depan tubuh perempuan tersebut.


Kedua bola mata perempuan tersebut langsung terbuka dengan lebar. Jangan lupakan kedua tangannya yang langsung menyilang di depan dada.


"Apa maksudnya, Om?! Jangan suka meleecehkan orang ya!" Perempuan tersebut kembali ngegas.


Felix segera menggelengkan kepala. Dia harus menjelaskan kesalahpahaman itu, jika ingin mendapatkan bantuan.


"Bukan begitu. Gue hanya minta tolong untuk membelikan susu bayi. Tuh, dia nangis terus. Di tempat gue nggaka ada susu bayi. Jangankan susu untuk bayi, susu untuk gue pun nggak punya," jawab Felix buru-buru.


Seketika tatapan mata perempuan tersebut menoleh ke arah bayi laki-laki yang masih menangis tersebut. Dia juga melirik ke arah botol susu yang dipegang oleh Felix.


"Itu ada botolnya. Mana susunya?"


"Hanya ada botolnya saja. Untuk susunya tidak ada." 


Kening perempuan tersebut berkerut. Dia masih belum mengerti maksud ucapan Felix.


"Apa maksudnya itu? Bagaimana bisa Om hanya mempunyai botolnya saja? Memang selama ini Om kasih susu apa bayinya?"

__ADS_1


"Tidak ada," ucap Felix sambil menggelengkan kepala. "Gue baru menemukan bayi ini di depan pintu tadi."


Kedua bola mata perempuan itu terbuka dengan lebar. Jangan lupakan mulutnya yang juga sudah membuka karena terkejut.


"Yang benar, Om? Kok bisa?"


Felix mencebikkan bibir sambil mengedikkan bahu. Dia sendiri juga masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.


Tangisan bayi yang masih terdengar keras, akhirnya mengusik perhatian perempuan tersebut. Dia langsung menerobos tubuh Felix yang masih berdiri di dekat pintu dan berjalan menghampiri bayi yang masih menangis dengan kencang itu.


Perempuan tersebut langsung merasa iba saat melihat bayi yang sedang menangis itu. Wajah bayi tersebut langsung terlihat merah karena tangisannya. Buru-buru perempuan tersebut langsung menggendong bayi itu dan menimangnya. Dia segera membawa bayi tersebut ke arah sofa single yang ada di dekat jendela. 


Setelah menutup pintu, Felix masih mengamati apa yang dilakukan oleh perempuan itu terhadap si bayi. Kedua bola mata dan mulut Felix langsung terbuka saat melihat apa yang dilakukan oleh perempuan itu.


Dengan luwes, perempuan tersebut segera membuka kancing bajunya dan mengeluarkan pabrik asinya. Tanpa menunggu lebih lama, dia segera mengarahkan putt ing itu pada mulut si bayi.


Hap. Cep cep cep cep.


Suara decapan langsung terdengar saat si bayi sudah mengenyot sumber makanannya. 

__ADS_1


Sementara Felix, dia masih terdiam sambil melongo mengamati apa yang terjadi di depannya.


"Astaga! Anak SMA sekarang bisa memproduksi asi? Kok bisa, siapa yang memerahnya selama ini?" gumam Felix.


__ADS_2