Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Jangan Bilang Pergi


__ADS_3

"Gantengnya," ucap Nayra. Entah sadar atau tidak, Nayra langsung mengucapkan kata itu begitu membuka pintu.


Tentu saja ucapan Nayra tersebut bisa didengar dengan jelas oleh Rainer. Dan, apa yang terjadi? Jiwa narsisnya langsung muncul.


"Tentu saja aku ganteng. Ganteng banget malahan. Kamu seharusnya merasa bersyukur bisa menikah denganku. Sudah ganteng, kaya, digilai banyak orang, dan yang paling penting, bisa memuaskan di atas ranjang," ucap Rainer dengan penuh percaya diri.


Sontak saja Nayra langsung bengong. Dia masih tidak menyangka jika Rainer akan mengatakan hal absurd seperti itu.


"Cckkk. Itu hanya pendapat Anda saja, Pak. Orang lain mah belum tentu beranggapan seperti itu." Nayra menyangkal.


"Hhhh. Masih nggak mau ngaku. Coba saja nanti jika sudah ketagihan. Kamu pasti bakal merengek minta ampun."


Nayra tidak menggubris ucapan Rainer. Dia bahkan mendorong tubuh Rainer yang menghalangi jalan. Namun, seketika langkah kaki Nayra terhenti saat melihat meja makan yang sudah disiapkan di dekat ruang tengah dan menghadap balkon tersebut.


Nayra bahkan sampai bingung harus berkata apa saking terkejutnya.


"I-ini Pak Rain yang menyiapkan semuanya?" tanya Nayra sambil sedikit berbalik menatap Rainer. Ekspresi wajahnya juga masih tampak terkejut.


"Hhmmm."


"Kok bisa?"


"Tentu saja bisa. Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Rainer?" ucap Rainer pongah.

__ADS_1


Nayra mencebikkan bibir sambil menatap tajam ke arah Rainer.


"Anda tidak bisa merapikan tempat tidur, mengambil baju dengan rapi di lemari. Dan, Anda juga tidak bisa menata berkas-berkas dengan rapi di kantor. Oh iya, satu lagi, Anda tidak bisa mengirim email."


Rainer langsung menyentil kening Nayra hingga membuat si empunya mengaduh kesakitan.


"Auwhh, sakit, Pak. Suka sekali menyentil kening, sih?" Nayra bersungut-sungut kesal. Jangan lupakan tatapan kesalnya langsung dilayangkan kepada Rainer.


"Nggak usah disebutkan juga kali. Apa gunanya kamu jika aku harus mengirim email sendiri?"


"Ya, setidaknya Anda belajar mengirim email. Jika saya tidak ada, siapa nanti yang akan membantu Anda?" Nayra masih mengusap-usap keningnya.


Mendengar ucapan Nayra, sontak saja Rainer langsung emosi. Secepat kilat dia menarik pinggang Nayra hingga menempel pada tubuhnya. Tatapan matanya juga langsung menghunus tajam ke dalam mata Nayra.


"Eh, Pa-pak?" Nayra yang kaget pun langsung mencengkram kemeja Rainer. Kedua pasang netra mereka bertemu.


Nayra yang melihat hal itu, menjadi semakin bingung. Namun, dia berusaha untuk berpikiran positif.


"I-iya. Tidak akan bilang seperti itu lagi," ucap Nayra setelah beberapa saat kemudian.


"Janji?" Rainer masih menatap tajam.


"Iya, janji." Nayra menganggukkan kepala.

__ADS_1


Sebelum melepaskan pelukannya, Rainer menundukkan wajahnya dan mencuri sebuah kecupan ringan pada bibir Nayra. Cup. Dan, tentu saja hal itu membuat Nayra terkejut.


Nayra langsung memukul bahu Rainer sambil mengerucutkan bibir.


"Masih suka curi-curi kesempatan. Sudah saya bilang jangan aneh-aneh, Pak," ucap Nayra kesal.


"Aku nggak aneh-aneh. Sudah, aku lapar." Rainer melepaskan pelukannya dan segera menarik tangan Nayra menuju meja makan yang sudah disiapkan.


Mau tidak mau, Nayra hanya bisa menuruti permintaan Rainer. Meski kesal, namun Nayra tidak bisa membohongi perutnya yang sudah meronta-ronta minta diisi.


"Waahhh, ini makanan kesukaan saya semua. Pak Rain yang memesannya?" Wajah Nayra mendadak berbinar bahagia.


"Hhhmmm."


"Pak Rain kok tahu makanan kesukaan saya? Padahal, saya tidak pernah memberitahu, lho."


"Cckkk. Jangankan makanan kesukaan. Ukuran dalaman kamu saja aku tahu."


"Lhah?"


•••


Sudah ada jatah vote, sisakan buat si hujan ya. Biar besok semangat mau nikahan. 🤭

__ADS_1


Bagi-bagi hadiah juga boleh.


Sambil nunggu up, silahkan mampir di cerita othor yang baru, masih nunggu bab nih, biar bisa crazy up.


__ADS_2