Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Meminta Jawaban


__ADS_3

"Eh,"


Belum sempat Citra menjawab pertanyaan Felix, tiba-tiba Finn yang tadinya tidur pulas di samping mereka, langsung menangis dengan kencang karena kaget dengan teriakan Felix. 


Tentu saja tangisan Finn tadi membuat Felix dan Citra juga terkejut. Citra langsung beringsut mendekati Finn dan menggendongnya dengan perlahan. Namun, lagi-lagi Finn memberontak karena merasa tidak nyaman. 


Tubuh Finn melengkung dengan tangan yang menggapai-gapai Felix. Felix yang melihat hal itu langsung mengulurkan tangan untuk mengambil alih Finn. Segera saja Citra memberikan Finn kepada Felix.


Saat Finn sudah pindah ke pangkuan Felix, tangan Finn masih memegang kerah kemeja Citra dengan kuat, hingga membuat Citra ikut tertarik condong ke arah Felix.


"Eh, aduh!" 


Citra langsung mengaduh karena saking cepatnya gerakan itu membuat kepalanya berbenturan dengan kepala Felix. Sontak saja baik Citra maupun Felix cukup kesakitan karena benturan tadi.


Felix pun masih menatap Finn dan Citra bergantian. Apalagi, Finn masih meronta-ronta dengan tangan tetap mencengkram kerah kemeja Citra dengan kuat.


"Ini gimana, Cit. Nangis kejer begini anaknya," ucap Felix yang terlihat khawatir saat melihat wajah Finn sudah berubah menjadi kemerahan.

__ADS_1


"Di susuin saja, Om. Bawa ke kamar dulu," ucap Citra. 


Sepertinya, memang Finn sudah cukup lapar. Sudah lebih dari tiga jam yang lalu dia terakhir kali memberi Finn asi. Hingga mau tidak mau, Felix pun segera beranjak menuju kamarnya sambil menggendong Finn. Sementata Citra, ikut mengekori mereka menuju kamar.


Finn masih menangis dengan keras saat dibaringkan di atas tempat tidur oleh Felix. Namun, dia sudah melepaskan pegangan tangan Citra dan langsung menatap ke arah Citra. Sangat terlihat sekali jika Finn tengah haus.


"Om, ini aku mau susuin Finn. Masa iya om Felix mau nungguin lagi disini?" tanya Citra saat hendak membuka kancing kemejanya.


"Kamu nggak lihat ini tanganku dipegang Finn dengan keras. Kukunya saja sampai terasa menusuk kulitku. Nanti jangan lupa potongin kuku Finn saat tidur," ucap Felix.


"Hadap sana dulu, Om. Aku nggak nyaman," ucap Citra lagi.


Mau tidak mau, Felix pun akhirnya bergeser hingga sedikit membelakangi Citra dan Finn. Dia tetap kesulitan bergerak karena tangan kirinya masih dipegang Finn dengan kencang.


Hap. Cep cep cep.


Suara decapan dan sedotaan dari bibir Finn terdengar dengan jelas di telinga Felix. Dan, tentu saja hal itu membuat Felix jadi ingin sekali berbalik dan ikut bergabung dengan Finn. Yah, bukankah berbagi itu indah?

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Finn sudah cukup tenang. Dia mulai menikmati menu makanan alaminya sambil masih mencengkram tangan Felix. Tentu saja hal itu membuat Felix tertahan di sana dengan suasana yang cukup canggung.


Namun meskipun begitu, Felix tetap ingin meluruskan kesalahpahaman maksud yang diterima oleh Citra tadi.


"Cit?" panggil Felix setelah beberapa saat memantapkan hati. Felix bertekad untuk menjelaskan apa yang sebenarnya diinginkannya. Dia hanya bisa berharap jika keinginannya akan sama dengan keinginan Citra.


"Iya, Om?"


"Aku mau kamu jawab jujur pertanyaanku."


"Ehm, tentang apa?" tanya Citra yang sebenarnya sudah bisa menebak apa yang akan ditanyakan oleh Felix.


"Apa kamu tadi sempat berpikir jika aku ingin menikah denganmu, hanya untuk mencarikan mama bagi Finn?"


Citra tidak berani menjawab langsung. Entah mengapa dia mendadak malu mengatakan jika memang itu yang sempat dipikirkannya tadi.


Jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak ya. Biar tambah rame dan othor semangat upnya. Sambil nunggu up, bisa mampir di cerita othor lainnya yang masih on going. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2